Umroh Akhir Ramadhan Lailatul Qodar Alhijaz Indowisata

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. travel umroh di Subang

saco-indonesia.com, Kanker hati primer merupakan penyakit di mana sel kanker yang tumbuh berasal dari organ hati. Beberapa tipe kanker hati primer telah diberi nama sesuai dengan asal tumbuh sel kanker tersebut. Hepatocellular carcinoma (HCC) atau dikenal hepatoma yang tumbuh dari sel utama hati yang disebut hepatocytes dan juga merupakan 85% dari kasus kanker primer. Jenis kanker hati primer yang tidak begitu umum terjadi berasal dari sel berada pada garis saluran empedu yang disebut cholangiocytes, sehingga kanker tipe ini juga lebih dikenal sebagai kanker cholangiocarcinoma atau kanker saluran empedu.

Organ hati juga merupakan tempat dari tumbuhnya satu tipe kanker yang disebut kanker hati sekunder (kanker metastatik). Pada kondisi ini kanker utama sebenarnya berasal dari bagian tubuh yang lain dan telah membentuk deposit sekunder pada hati. Contoh umum dari kasus yang sering terjadi adalah kanker kolorektal yang telah menyebar ke organ hati melalui pembuluh darah.

Umumkah Kanker Hati?

Secara global, kanker hati primer umumnya telah terjadi pada pria dua kali lipat lebih sering dibandingkan pada wanita. Kanker hati juga merupakan kanker paling umum urutan ke-5 dan ke-7 bagi pria dan wanita. Negara-negara Asia juga mempunyai 80% pasien kanker hati primer secara global di mana sekitar 600.000 kasus terdiagnosa setiap tahunnya.

Apa yang menjadi faktor resiko penyebab kanker hati?

Terdapat tiga faktor utama yang dapat menyebabkan tumbuhnya HCC (kanker hati primer paling umum) yaitu infeksi kronis Hepatitis B, infeksi kronis Hepatitis C, dan konsumsi alkohol yang berlebihan. Resiko bagi individual dengan infeksi kronis Hepatitis B untuk terkena HCC adalah 100x dari individu normal.

Faktor lain yang dapat menjadi resiko meliputi aflatoxin (racun yang telah ditemukan pada kacang yang berjamur, gandum, dan kedelai), kondisi yang telah diwariskan (misal haemochromatosis, defisiensi alpha-1 anti-trypsin) dan penyebab cirrhosis (luka sepanjang hati) seperti hepatitis autoimun atau primary biliary cirrhosis. Banyak kanker hati juga dapat dicegah melalui peran masyarakat dalam mengurangi paparan terhadap faktor-faktor resiko yang telah diketahui.

 
Apa saja gejala-gejala kanker hati

Pasien yang terkena HCC biasanya tidak memiliki gejala-gejala yang berbeda dengan penyakit hati kronik lainnya. Dengan gejala yang memburuk dari penyakit hati kronis seperti pembengkakan perut akibat cairan (ascites), encephalopathy (berubahnya kondisi mental), sakit kuning, atau pendarahan pada sistem saluran pencernaan dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya HCC. Disamping itu, beberapa pasien juga mungkin merasakan rasa nyeri pada perut bagian atas, kehilangan berat badan, mudah kenyang, letih lesu, anoreksia, atau benjolan yang dapat dirasakan pada perut bagian atas.

 
Apakah dapat dilakukan skrining untuk kanker hati

Ya, skrining juga dapat membantu dokter untuk dapat menemukan dan mengobati HCC sedini mungkin, saat kanker masih setempat saja dan lebih mudah diangkat melalui proses bedah. Hal ini juga dapat meningkatkan tingkat keselamatan. Mereka yang telah mengidap infeksi Hepatitis B kronis dan luka hati (cirrhosis) karena hepatitis C atau sebab lain memiliki resiko tinggi terkena penyakit ini dan harus melalukan skrining guna untuk mendeteksi kanker hati.

Proses skrining meliputi:

    Tes darah untuk alpha-fetoprotein (AFP) 3-6 bulan sekali.
    Scan ultrasound pada bagian hati 6-12 bulan sekali.

 
Diagnosis dan Penilaian
          

Bagaimana proses diagnosa kanker hati?

Rangkaian tes dan prosedur berikut bisa dilakukan untuk dapat mendiagnosa HCC dan untuk dapat menunjukkan stadium kanker:

    Pemeriksaan fisik untuk kesehatan secara umum. Pemeriksaan bagian perut dilakukan untuk dapat mendeteksi adanya gumpalan keras atau ascites.
    Tes darah untuk kesehatan secara umum, fungsi hati dan jumlah/kadar AFP. Jumlah AFP pada penderita HCC lebih tinggi daripada pada orang normal.
    Scan ultasound pada hati dengan menggunakan gelombang suara untuk dapat menghasilkan citra hati. Prosedur tes ini juga tidak menimbulkan rasa sakit dan hanya perlu beberapa saat untuk dapat dilakukan. Citra yang dihasilkan dapat menunjukkan ada tidaknya tumor pada hati.
    Scan pencitraan Tomografi terkomputasi (CT) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada bagian perut juga akan memberikan gambar 3 dimensi dari hati. Gambar tersebut juga dapat menunjukkan ukuran dan posisi tumor, serta penyebarannya.

            
Walau diagnosa HCC dapat dibuat berdasarkan kadar AFP dalam darah dan pada hasil scan CT atau MRI, biopsi hati kadang kala juga perlu dilakukan untuk dapat memastikan hasil diagnosa. Bila kanker belum dapat menyebar dan masih dapat diangkat, maka biopsi tidak perlu dilakukan. Hal ini juga disebabkan oleh adanya resiko kecil penyebaran kanker sebagai akibat dari pengangkatan kanker oleh jarum biopsi. Pada situasi seperti ini, diagnosa dipertegas setelah bedah pengangkatan tumor.

 
Pengobatan dan Perawatan

Bagaimana cara mengobati kanker hati?

Tipe pengobatan untuk pasien kanker hati sangat tergantung pada stadium kanker (yaitu ukuran dan tingkat penyebaran kanker) dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Prosedur pengobatan utama yang digunakan adalah bedah, ablasi tumor, kemoterapi, terapi kanker terarah dan radioterapi.
Pembedahan
          
Ablasi tumor

Pembedahan telah memiliki potensi penyembuhan dan juga merupakan prosedur pengobatan pilihan untuk pasien dengan HCC tahap dini. Bila hanya bagian tertentu dari hati yang terkena kanker dan bagian hati lainnya sehat, maka prosedur bedah juga dapat dilakukan untuk bisa mengangkat bagian yang terkena kanker. Prosedur bedah tipe ini juga disebut reseksi hati. Bentuk prosedur lain dari pembedahan adalah cangkok hati. Prosedur ini telah melibatkan pengangkatan seluruh organ hati dan menggantinya dengan organ hati donor yang masih sehat. Prosedur bedah besar seperti ini telah dilakukan bila kanker hanya terdapat pada hati dan donor hati tersedia. Bila prosedur bedah tidak memungkinkan, maka metode pengobatan lain akan diberikan guna untuk mengendalikan pertumbuhan kanker, dengan begitu mengurangi efek/gejala kanker serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
          

Ablasi tumor bertujuan untuk dapat menghancurkan sel kanker hati primer dengan menggunakan panas (ablasi frekuensi radio: RFA) atau dengan alkohol (percutaneous ethanol injection; PEI). Prosedur ini umumnya hanya dilakukan di departemen scanning dimana ultrasound atau CT dapat membantu dokter untuk dapat mengarahkan jarum melalui kulit dan masuk ke dalam kanker yang berada di hati. Prosedur ini juga menggunakan anastesi lokal. Pengobatan RFA dengan menggunakan sinar laser atau gelombang radio yang dihantarkan melalui jarum menuju kanker guna untuk menghancurkan sel kanker. Pengobatan PEI dengan mengunakan alkohol yang disuntikkan masuk melalui jarum untuk dapat menghancurkan sel-sel kanker. Ablasi tumor juga dapat dilakukan berulang-ulang apabila tumor kembali tumbuh.
            
Kemoterapi
          
          
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan anti kanker untuk dapat menghancurkan sel kanker atau menghentikan pertumbuhannya. Prosedur ini juga dapat membantu mengendalikan kanker dengan menyusutkan kanker serta memperlambat pertumbuhannya. Obat-obatan kemoterapi pada umumnya telah diberikan melalui suntikan pada pembuluh darah (secara intravena), walau terkadang dapat pula diberikan dalam bentuk tablet. Kemoterapi juga dapat diberikan sebagai bagian dari pengobatan yang disebut kemo embolisasi. Porses kemo embolisasi juga melibatkan suntikan obat kemoterapi langsung pada kanker dalam hati, bersamaan dengan sebuah jel atau titis plastik kecil untuk dapat menghambat aliran darah menuju kanker (embolisasi). Tidak semua pasien dapat menjalani prosedur kemoterapi ini karena prosedur ini telah memerlukan hati yang masih bisa berfungsi dengan baik.
            
Terapi kanker terarah
          
Radioterapi

Terapi kanker terarah (Targeted Cancer Therapy) dengan menggunakan obat-obatan atau pengobatan lainnya untuk dpat mencegah pertumbuhan serta penyebaran kanker dengan melakukan interfensi pada molekul tertentu yang terlibat dalam pertumbuhan kanker. Satu obat untuk terapi kanker terarah bernama Sorafenib dapat digunakan untuk dapat mengobati pasien dengan HCC tahap lanjut. Sorafenib menyerang kanker dengan cara mencegah kanker mengembangkan pembuluh darahnya sendiri. Sel kanker juga memerlukan asupan darah untuk dapat membawa nutrisi dan oksigen. Sorafenib juga berfungsi untuk dapat membatasi kemampuan kanker untuk berkembang. Sorafenib telah melalui dua uji klinis besar pada pasien dengan HCC tahap lanjut, dibandingkan dengan mereka yang dirawat hanya dengan perawatan pendukung. Sorafenib adalah tablet yang umumnya diberikan 2 kali sehari. Efek samping yang diberikan termasuk diare, cepat letih, mual dan tekanan darah tinggi.
          

Radioterapi dengan menggunakan sinar energi tinggi untuk dapat menghancurkan sel kanker atau menghentikan pertumbuhannya. Radioterapi eksternal dengan menggunakan mesin yang digunakan secara eksternal dari tubuh untuk dapat menghantarkan radiasi pada kanker. Prosedur pengobatan ini juga jarang digunakan pada penderita kanker HCC karena hati tidak dapat terpapar oleh radiasi tinggi. Namun, prosedur ini juga dapat mengurangi rasa sakit, seperti misalnya pada pasien yang kankernya telah menyebar hingga ke tulang. Sebagai prosedur alternatif, radiasi internal yang menggunakan zat radioaktif dihantarkan secara selektif menuju kanker melalui pembuluh darah arteri yang mengantarkan darah ke hati.

 
Apakah kanker hati dapat dicegah?

Tentu saja. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk dapat mencegah kanker hati:

    Vaksinasi terhadap virus hepatitis B
    Hindari mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung karsinogen hati, khususnya alkohol.
    Hindari daging berlemak dan lemak hewani. Hindari kacang dan gandum berjamur.
    Lakukan skrining secara regular bila Anda termasuk dalam kelompok dengan resiko kanker yang tinggi

 
Dukungan apa yang tersedia?
          

CanHOPE, adalah badan non-profit yang bergerak di bidang layanan konseling dan dukungan terhadap penderita kanker yang diprakarsai oleh Parkway Cancer Centre.

Sebagai bagian dari sebuah pendekatan holistik untuk dapat mengobati kanker, CanHOPE juga bekerjasama dengan tim medis dan ahli-ahli kesehatan professional yang telah menawarkan sumber daya serta informasi yang luas mengenai kanker untuk dapat membantu pasien dan keluarga mereka agar dapat mengambil keputusan yang tepat selama perjalanan mereka menuju kesembuhan.


Editor : dian sukmawati

KANKER HATI

Even as a high school student, Dave Goldberg was urging female classmates to speak up. As a young dot-com executive, he had one girlfriend after another, but fell hard for a driven friend named Sheryl Sandberg, pining after her for years. After they wed, Mr. Goldberg pushed her to negotiate hard for high compensation and arranged his schedule so that he could be home with their children when she was traveling for work.

Mr. Goldberg, who died unexpectedly on Friday, was a genial, 47-year-old Silicon Valley entrepreneur who built his latest company, SurveyMonkey, from a modest enterprise to one recently valued by investors at $2 billion. But he was also perhaps the signature male feminist of his era: the first major chief executive in memory to spur his wife to become as successful in business as he was, and an essential figure in “Lean In,” Ms. Sandberg’s blockbuster guide to female achievement.

Over the weekend, even strangers were shocked at his death, both because of his relatively young age and because they knew of him as the living, breathing, car-pooling center of a new philosophy of two-career marriage.

“They were very much the role models for what this next generation wants to grapple with,” said Debora L. Spar, the president of Barnard College. In a 2011 commencement speech there, Ms. Sandberg told the graduates that whom they married would be their most important career decision.

In the play “The Heidi Chronicles,” revived on Broadway this spring, a male character who is the founder of a media company says that “I don’t want to come home to an A-plus,” explaining that his ambitions require him to marry an unthreatening helpmeet. Mr. Goldberg grew up to hold the opposite view, starting with his upbringing in progressive Minneapolis circles where “there was woman power in every aspect of our lives,” Jeffrey Dachis, a childhood friend, said in an interview.

The Goldberg parents read “The Feminine Mystique” together — in fact, Mr. Goldberg’s father introduced it to his wife, according to Ms. Sandberg’s book. In 1976, Paula Goldberg helped found a nonprofit to aid children with disabilities. Her husband, Mel, a law professor who taught at night, made the family breakfast at home.

Later, when Dave Goldberg was in high school and his prom date, Jill Chessen, stayed silent in a politics class, he chastised her afterward. He said, “You need to speak up,” Ms. Chessen recalled in an interview. “They need to hear your voice.”

Years later, when Karin Gilford, an early employee at Launch Media, Mr. Goldberg’s digital music company, became a mother, he knew exactly what to do. He kept giving her challenging assignments, she recalled, but also let her work from home one day a week. After Yahoo acquired Launch, Mr. Goldberg became known for distributing roses to all the women in the office on Valentine’s Day.

Ms. Sandberg, who often describes herself as bossy-in-a-good-way, enchanted him when they became friendly in the mid-1990s. He “was smitten with her,” Ms. Chessen remembered. Ms. Sandberg was dating someone else, but Mr. Goldberg still hung around, even helping her and her then-boyfriend move, recalled Bob Roback, a friend and co-founder of Launch. When they finally married in 2004, friends remember thinking how similar the two were, and that the qualities that might have made Ms. Sandberg intimidating to some men drew Mr. Goldberg to her even more.

Over the next decade, Mr. Goldberg and Ms. Sandberg pioneered new ways of capturing information online, had a son and then a daughter, became immensely wealthy, and hashed out their who-does-what-in-this-marriage issues. Mr. Goldberg’s commute from the Bay Area to Los Angeles became a strain, so he relocated, later joking that he “lost the coin flip” of where they would live. He paid the bills, she planned the birthday parties, and both often left their offices at 5:30 so they could eat dinner with their children before resuming work afterward.

Friends in Silicon Valley say they were careful to conduct their careers separately, politely refusing when outsiders would ask one about the other’s work: Ms. Sandberg’s role building Facebook into an information and advertising powerhouse, and Mr. Goldberg at SurveyMonkey, which made polling faster and cheaper. But privately, their work was intertwined. He often began statements to his team with the phrase “Well, Sheryl said” sharing her business advice. He counseled her, too, starting with her salary negotiations with Mark Zuckerberg.

“I wanted Mark to really feel he stretched to get Sheryl, because she was worth it,” Mr. Goldberg explained in a 2013 “60 Minutes” interview, his Minnesota accent and his smile intact as he offered a rare peek of the intersection of marriage and money at the top of corporate life.

 

 

While his wife grew increasingly outspoken about women’s advancement, Mr. Goldberg quietly advised the men in the office on family and partnership matters, an associate said. Six out of 16 members of SurveyMonkey’s management team are female, an almost unheard-of ratio among Silicon Valley “unicorns,” or companies valued at over $1 billion.

When Mellody Hobson, a friend and finance executive, wrote a chapter of “Lean In” about women of color for the college edition of the book, Mr. Goldberg gave her feedback on the draft, a clue to his deep involvement. He joked with Ms. Hobson that she was too long-winded, like Ms. Sandberg, but aside from that, he said he loved the chapter, she said in an interview.

By then, Mr. Goldberg was a figure of fascination who inspired a “where can I get one of those?” reaction among many of the women who had read the best seller “Lean In.” Some lamented that Ms. Sandberg’s advice hinged too much on marrying a Dave Goldberg, who was humble enough to plan around his wife, attentive enough to worry about which shoes his young daughter would wear, and rich enough to help pay for the help that made the family’s balancing act manageable.

Now that he is gone, and Ms. Sandberg goes from being half of a celebrated partnership to perhaps the business world’s most prominent single mother, the pages of “Lean In” carry a new sting of loss.

“We are never at 50-50 at any given moment — perfect equality is hard to define or sustain — but we allow the pendulum to swing back and forth between us,” she wrote in 2013, adding that they were looking forward to raising teenagers together.

“Fortunately, I have Dave to figure it out with me,” she wrote.

Dave Goldberg Was Lifelong Women’s Advocate

Artikel lainnya »