MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISTA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

umroh april

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. travel umroh Ciamis

saco-indonesia.com, Aksi tindak kejahatan menjelang akhir tahun di Kota Bandung semakin semarak. Sabtu subuh, kawanan garong berpistol telah menggasak uang Rp 100 juta dari VIT Money Changer Authorized di Jalan IR H Juanda (Dago) No. 10, Bandung. Pelaku telah berhasil melumpuhkan kasir yang bernama Kiki yang berusia 21 taun , dengan cara diikat dan disekap di gudang.

Keterangan telah menyebutkan, perampokan yang telah menimpa money changer berlangsung Sabtu dinihari (28/12) kemarin sekitar pukul 04.30 dini hari. Aksi ini telah terjadi ketika kondisi money changer tidak terkunci dan ditinggal petugas keamanan yang menjaganya.

“ Kondisi pintu tidak dikunci saat ditinggal petugas. Alasanya, di dalam ada kasir yang sedang tidur,“ kata Rudi yang berusia 55 tahun , petugas kantor tadi. Dia juga menjelaskan, pelaku masuk melalui benteng dengan menggunakan sepeda motor dengan nomor polisi D 3350 HM sebagai pijakanya.

Mereka masuk, kemudian menyergap Kiki yang sedang tidur. Kasir ditodong pistol dan disekap di salah satu ruangan. “ Rampok masuk saat Pak Ciko, anggota Brimob, keluar dari ruangan ada keperluan, “ tambah Rudi.

Anggota Brimob lainya, Hegar, juga mengaku kaget, karena saat masuk money changer pukul 05.00 pagi untuk menggantikan tugas, menemukan Kiki yang disekap di salah satu ruangan dengan mulut dilakban dan kaki tanganya diikat. “ Saya yang melepaskan korban,“ akunya. Korban pun telah menceritakan seputar perampokan, tambah dia.

Kapolsek Bandung Wetan, Kompol Herryanto, juga menjelaskan, kawanan garong berpistol beraksi di tempat penukaran uang asing. Berdasar keterangan, pelaku dengan menggunakan pistol. Uang yang dibawa kabur lebih kurang Rp 100 juta. Uang itu didapat dari brankas setelah pelaku memaksa kasir untuk membukanya. “ Kasir tak melawan karena lehernya ditempeli pistol,“ ungkap Kapolsek.


Editor : Dian Sukmawati

UANG RP 100 JUTA LENYAP
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »