ITINERARY PERJALANAN UMROH PLUS THAIF 10HARI

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. promo umroh desember di Tasikmalaya

Oleh IRWAN JULIANTO

Saco-Indonesia.com,- Satu demi satu misteri penyebab diabetes melitus tipe 2 mulai terungkap. Para peneliti Harvard School of Public Health (HSPH) baru saja memublikasikan temuan mereka bahwa ada satu jenis protein atau hormon khusus yang ditemukan dalam sel-sel lemak yang terbukti membantu mengatur bagaimana gula darah dikendalikan dan dimetabolisasi untuk energi di dalam hati. Ini dikatakan akan membuka salah satu jalan bagi pengobatan diabetes tipe 2 yang menjangkiti ratusan juta penduduk dunia.

Diabetes tipe ini tidak bergantung pada insulin dan terjadi pada orang-orang dewasa (adult onset), berbeda dengan diabetes tipe 1 yang bergantung pada insulin dan terjadi sejak bayi. Diabetes tipe 2 dapat didefinisikan sebagai suatu kelainan metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah akibat terjadinya kekurangan dan resistansi insulin. Kemampuan sel-sel beta pankreas berkurang bahkan rusak sehingga pasien mulai mengalami diabetes, dengan gejala-gejala seperti banyak makan (polifagia), banyak minum (polidipsia), dan banyak kencing (poliuria).

Jumlah kasus diabetes tipe 2 hampir sepuluh kali lipat kasus diabetes tipe 1 yang terjadi karena kerusakan pankreas sejak bayi. Hingga sekarang diyakini bahwa kegemukan menjadi penyebab utama terjadinya diabetes tipe 2 pada orang-orang yang memang secara genetis sudah membawa gen pembawa penyakit ini.

Dua-tiga dekade lalu sudah diketahui adanya hubungan antara kegemukan dan diabetes tipe 2, tetapi belum jelas apakah kegemukan memicu diabetes jenis ini ataukah hanya mempercepat terjadinya. Riset di Amerika Serikat menunjukkan, orang-orang dengan obesitas tiga kali lebih mudah terjangkit diabetes dibandingkan dengan mereka yang tidak kegemukan. Makin tua seseorang, risiko terkena diabetes tipe 2 juga kian besar. Orang-orang berusia 65 tahun, misalnya, lebih mungkin terserang dibandingkan dengan mereka yang berusia di bawah 20 tahun.

Diabetes tipe 2 juga diketahui erat hubungannya dengan faktor keturunan. Jika dalam keluarga Anda ada yang mengidap diabetes, kemungkinan Anda terjangkit diabetes cukup besar.

Jika ayah atau ibu Anda dan kakek atau nenek serta bibi atau paman Anda menderita penyakit ini, peluang Anda mengalami diabetes tipe 2 mendekati 85 persen. Jika ayah dan nenek mengidap diabetes, risiko Anda cuma 60 persen. Jika hanya ibu yang menderita, maka 22 persen risikonya bagi Anda akan menderita pula.

Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada orang dewasa akibat perubahan gaya hidup, berkurangnya kegiatan jasmani, dan jenis makanan/minuman yang serba fast food dan soft drink. Namun, saat ini diabetes tipe 2 ditemukan juga pada anak- anak dan remaja di Asia.

Penyakit kronis ini diyakini menyebabkan usia harapan hidup bagi penderitanya sepuluh tahun lebih pendek dibandingkan dengan orang-orang non-diabetik akibat komplikasi penyakit jantung koroner, stroke, dan gagal ginjal. Diabetes tipe 2 juga menyebabkan kecacatan, seperti kebutaan akibat komplikasi retinopati dan meningkatnya risiko sebesar 20 kali amputasi tungkai bawah. Pengidap diabetes ini mudah lupa dan mengalami impotensi.

Multipatologi

Selama berpuluh tahun para peneliti dan dokter dihadapkan pada misteri: tidak semua orang yang kegemukan atau resistan terhadap insulin mengidap diabetes tipe 2. Bahkan, cukup banyak orang yang amat gemuk tak terserang penyakit ini. Para ilmuwan lalu berteori bahwa ada suatu faktor yang tak dikenal yang terlibat dalam metabolisme glukosa dalam hati, dan mungkin kehadiran atau absennya elemen ini, dapat menentukan siapa yang terkena diabetes tipe 2.

Dalam jurnal Cell Metabolism edisi 7 Mei 2013, para peneliti HSPH mengungkapkan, dunia ilmiah sudah lama mengetahui bahwa salah satu peristiwa kunci bagi berkembangnya diabetes tipe 2 adalah produksi glukosa yang tak terkontrol dari hati.

”Namun, mekanisme yang mendasarinya tetap masih sukar dipahami,” kata Gökhan S Hotamisligil, Kepala Departemen Genetika dan Penyakit-penyakit Kompleks, dan JS Simmons, profesor genetika dan metabolisme di HSPH. ”Kami sekarang berhasil mengidentifikasi aP2 sebagai suatu hormon baru yang dikeluarkan dari sel-sel lemak yang mengontrol fungsi kritis ini.”

Lewat percobaan dengan mencit di laboratorium memakai teknologi mutakhir ditemukan bahwa jika jumlah aP2 berlebih, timbullah diabetes. Sebaliknya, jika hormon ini diblok atau di- switch-off, produksi glukosa dari hati dapat dikontrol lebih baik sehingga manifestasinya berupa diabetes tipe 2 dan penyakit-penyakit metabolik lainnya pun dapat dicegah.

Kemampuan sebuah organ—dalam hal ini jaringan lemak—begitu langsung dan menentukan dalam mengendalikan tindakan organ lain, yaitu hati, amat menarik, kata Hotamisligil. ”Kami menduga sistem komunikasi antara jaringan lemak dan hati telah berevolusi untuk membantu sel-sel lemak memberi komando kepada hati untuk menyuplai tubuh dengan glukosa pada saat-saat terjadinya kekurangan nutrien. Betapa pun, ketika sel-sel lemak yang membesar kehilangan kendali terhadap sinyal ini karena kondisi obesitas, tingkat aP2 dalam darah naik, glukosa diguyurkan ke dalam aliran darah dan tidak dapat dibersihkan oleh jaringan-jaringan lain. Hasilnya adalah tingginya kadar glukosa darah dan diabetes 2.”

Guru Besar FK UI yang mendalami diabetes, Sidartawan Soegondo, menyatakan, temuan para ilmuwan Harvard ini merupakan sumbangan berarti bagi perkembangan ilmu kedokteran. ”Akhir-akhir ini saya mengajarkan bahwa diabetes tipe 2 adalah penyakit dengan multipatologi,” ujarnya ketika dihubungi pada Selasa (21/5). Kini, selain organ pankreas, diabetes tipe 2 diketahui pula dipicu juga oleh metabolisme sembilan organ lain, antara lain hati dan ginjal.

 

Sumber :Kompas Cetak/http://health.kompas.com/read/2013/05/22/06524140/Harapan.Baru.untuk.Terapi.Diabetes.Tipe.2
Editor :Liwon Maulana
Ada Harapan Baru untuk Terapi Diabetes Tipe 2

From sea to shining sea, or at least from one side of the Hudson to the other, politicians you have barely heard of are being accused of wrongdoing. There were so many court proceedings involving public officials on Monday that it was hard to keep up.

In Newark, two underlings of Gov. Chris Christie were arraigned on charges that they were in on the truly deranged plot to block traffic leading onto the George Washington Bridge.

Ten miles away, in Lower Manhattan, Dean G. Skelos, the leader of the New York State Senate, and his son, Adam B. Skelos, were arrested by the Federal Bureau of Investigation on accusations of far more conventional political larceny, involving a job with a sewer company for the son and commissions on title insurance and bond work.

The younger man managed to receive a 150 percent pay increase from the sewer company even though, as he said on tape, he “literally knew nothing about water or, you know, any of that stuff,” according to a criminal complaint the United States attorney’s office filed.

The success of Adam Skelos, 32, was attributed by prosecutors to his father’s influence as the leader of the Senate and as a potentate among state Republicans. The indictment can also be read as one of those unfailingly sad tales of a father who cannot stop indulging a grown son. The senator himself is not alleged to have profited from the schemes, except by being relieved of the burden of underwriting Adam.

The bridge traffic caper is its own species of crazy; what distinguishes the charges against the two Skeloses is the apparent absence of a survival instinct. It is one thing not to know anything about water or that stuff. More remarkable, if true, is the fact that the sewer machinations continued even after the former New York Assembly speaker, Sheldon Silver, was charged in January with taking bribes disguised as fees.

It was by then common gossip in political and news media circles that Senator Skelos, a Republican, the counterpart in the Senate to Mr. Silver, a Democrat, in the Assembly, could be next in line for the criminal dock. “Stay tuned,” the United States attorney, Preet Bharara said, leaving not much to the imagination.

Even though the cat had been unmistakably belled, Skelos father and son continued to talk about how to advance the interests of the sewer company, though the son did begin to use a burner cellphone, the kind people pay for in cash, with no traceable contracts.

That was indeed prudent, as prosecutors had been wiretapping the cellphones of both men. But it would seem that the burner was of limited value, because by then the prosecutors had managed to secure the help of a business executive who agreed to record calls with the Skeloses. It would further seem that the business executive was more attentive to the perils of pending investigations than the politician.

Through the end of the New York State budget negotiations in March, the hopes of the younger Skelos rested on his father’s ability to devise legislation that would benefit the sewer company. That did not pan out. But Senator Skelos did boast that he had haggled with Gov. Andrew M. Cuomo, a Democrat, in a successful effort to raise a $150 million allocation for Long Island to $550 million, for what the budget called “transformative economic development projects.” It included money for the kind of work done by the sewer company.

The lawyer for Adam Skelos said he was not guilty and would win in court. Senator Skelos issued a ringing declaration that he was unequivocally innocent.

THIS was also the approach taken in New Jersey by Bill Baroni, a man of great presence and eloquence who stopped outside the federal courthouse to note that he had taken risks as a Republican by bucking his party to support paid family leave, medical marijuana and marriage equality. “I would never risk my career, my job, my reputation for something like this,” Mr. Baroni said. “I am an innocent man.”

The lawyer for his co-defendant, Bridget Anne Kelly, the former deputy chief of staff to Mr. Christie, a Republican, said that she would strongly rebut the charges.

Perhaps they had nothing to do with the lane closings. But neither Mr. Baroni nor Ms. Kelly addressed the question of why they did not return repeated calls from the mayor of Fort Lee, N.J., begging them to stop the traffic tie-ups, over three days.

That silence was a low moment. But perhaps New York hit bottom faster. Senator Skelos, the prosecutors charged, arranged to meet Long Island politicians at the wake of Wenjian Liu, a New York City police officer shot dead in December, to press for payments to the company employing his son.

Sometimes it seems as though for some people, the only thing to be ashamed of is shame itself.

Finding Scandal in New York and New Jersey, but No Shame

Artikel lainnya »