ITINERARY PEJALANAN UMROH PLUS CITYTOUR DUBAI 10 HARI

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. promo umroh Pancoran Mas

KOMPAS.com - Beberapa penyakit kronis yang diderita sekarang, seperti diabetes, hipertensi, stroke, jantung dan sebagainya berkaitan erat dengan apa yang kita masukkan ke dalam perut kita, atau apa yang kita makan. Sayangnya, ditengah-tengah kesibukan kehidupan modern sekarang ini, apa yang kita masukkan itu sering luput dari perhatian kita, maka tidak heran penyakit-penyakit itu menjadi pembunuh utama kita sekarang ini.

Beberapa tips di bawah ini mudah-mudahan dapat membantu Anda.

1. Makanlah hanya pada saat lapar

Makanlah saat Anda lapar bukan pada saat Anda sedih, bosan, stres, ada resepsi, undangan, atau hanya karena ada makanan yang gratis, makanan yang kelihatan menggugah selera. Bila Anda makan karena alasan ini, maka makanan yang Anda konsumsi biasanya cendrung tidak sehat, berlebihan, dan apa yang menjadi tujuan dari makan sendiri untuk memelihara tubuh, kenikmatan, kepuasan  memperoleh enerji yang cukup tidak akan tercapai, malah sebaliknya, penyakit yang akan Anda dapatkan. Tapi, bila Anda makan hanya waktu lapar nikmatnya makanan itu akan lebih Anda rasakan. Di samping itu, Anda tidak perlu makan berlebihan, sampai kekenyangan, agar Anda puas, merasa sudah cukup, tapi kalau Anda makan karena sedih, bosan, stres, lagi bersenang-senang, Anda memerlukan makanan yang lebih banyak.

2. Makanlah masakan dari dapur Anda sendiri

Mengkonsumsi makanan yang Anda beli di luar, dengan makanan yang Anda masak sendiri pasti tidak sama kualitas dan pengaruhnya. Makanan yang dari dapur Anda, Anda sendiri yang menentukan apa yang akan Anda masak, mau memasak daging, ikan, sayur, berapa banyaknya, apa bumbunya, berapa garamnya, dan bagaimana memasaknya. Apa yang Anda masak, apa bumbunya, berapa garam yang Anda masukkan, bagaimana memasaknya akan menentukan kualitas makanan yang akan Anda makan. Di samping itu, aktivitas di dapur yang Anda lakukan dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan, dan membakar cadangan energi Anda. Bila anda makan di luar, yang menentukan sesuatumya adalah kokinya, tidak hanya cara mengolahnya, tetapi juga apa yang harus Anda makan. Sayangnya, dapur kita sekarang sudah jarang berasap.

3. Pilihlah piring yang lebih kecil

Apa, berapa, dan bagaimana makanan yang Anda taruh dalam piring Anda akan mempengaruhi selera makan Anda, rasa puas, kenyang, dan kesan yang Anda lihat melalui mata juga akan akan mempengarhui porsi makanan Anda. Piring yang lebih kecil yang Anda pilih memberi kesan bahwa makanan yang ditaruh di atasnya kelihatan menjadi lebih banyak. Ini dapat mencegah Anda makan lebih banyak juga

4. Makanlah lebih sedikit, tetapi lebih sering

Dalam keadaan serba sibuk sekarang ini, ada kecendrungan orang makan 1-2 kali saja sehari, tetapi dalam porsi yang besar. Banyak yang tidak sempat makan pagi, kompensasinya mereka makan siang dalam jumlah yang besar atau sebaliknya. Makan dengan pola ini ternyata tidak sehat, memberikan beban belebihan pada perut Anda dalam sekaligus, dengan bermacam keluhan seperti, perut tidak nyaman,  menyesak, mual, muntah, cegukan, dan pengolahan, penyerapan makanan tidak sempurna. Bahkan banyak laporan kejadian serangan jantung akibat pola makan seperti ini.

Di samping itu, makan  banyak sekaligus, apalagi Anda mengkonsumsi makanan yang indeks glikemiknya tinggi, makanan kurang mengandung serat, kadar gula darah Anda dapat naik mendadak, yang kemudian juga memacu pelepasan Insulin dalam jumlah besar. Pelepasan insulin dalam jumlah besar ini mengakibat gula darah turun cepat juga, sehingga menimbulkan gejala seperti letih, mood anda terganggu, mmengantuk dan Anda cendrung mencari makanan ringan yang manis-manis. Sebaliknya, makan lebih sedikit, tetapi lebih sering, disamping sehat untuk sistem pencernaan, juga dapat mempertahankan gula darah Anda lebih stabil. Karena itu kebiasaan ini  bisa mengurangi risiko ancaman diabetes. Jadi, biasakanlah makan dalam porsi lebih kecil tetapi frekwensi lebih sering. Ada ahli yang menganjurkan 4-5 kali dalam sehari lebih untuk Anda.

5. Makanlah dengan rileks, santai, dan pelan-pelan

Karena merasa waktu yang sempit, diburu target, banyak dari kita yang makan sekarang ini,  dibawah tekanan, dalam keadaan stres, saat menonton TV, di depan komputer, di atas meja kerjai, sedang berjalan, bahkan selagi membawa kendaraan. Bila Anda tidak fokus dengan makanan di depan Anda, disamping Anda tidak dapat menikmati makanan itu, sistem pencernaan anda juga akan terganngu. Anda juga cendrung makan dalam porsi berlebihan. Sebaiknya makanlah dalam  keadaan tenang, pelan-pelan. Makan dengan situasi begini memberi Anda kesempatan menikmati makanan lebih baik, mengunyah lebih lama dan sistem pencernaan kita juga berkerja lebih sempurna.

Makan terburu-buru, misalnya 1-2 piring sudah habis Anda santap dalam 10 menit, atau kurang, tetapi Anda masih belum merasa kenyang, puas,  ini disebabkan oleh refleks puas, kenyang yang sampai ke otak kita perlu waktu sekitar  20 menit setelah kita mulai makan. Jadi, kalau Anda makan terburu-buru Anda juga cendrung makan dalam jumlah yang lebih besar. Anda baru tahu bahwa Anda makan berlebihan beberapa saat setelah Anda berhenti makan.

Bila 5 kiat di atas dapat Anda jalani, Insya Allah di samping kemungkinan Anda menjadi penyandang beberapa penyakit kronis, diabetes, hipertensi, jantung, stroke dapat diperkecil, tubuh Anda juga akan lebih cantik dan sehat.

 

5 Cara Makan Agar Terhindar Sakit Kronis

Late in April, after Native American actors walked off in disgust from the set of Adam Sandler’s latest film, a western sendup that its distributor, Netflix, has defended as being equally offensive to all, a glow of pride spread through several Native American communities.

Tantoo Cardinal, a Canadian indigenous actress who played Black Shawl in “Dances With Wolves,” recalled thinking to herself, “It’s come.” Larry Sellers, who starred as Cloud Dancing in the 1990s television show “Dr. Quinn, Medicine Woman,” thought, “It’s about time.” Jesse Wente, who is Ojibwe and directs film programming at the TIFF Bell Lightbox in Toronto, found himself encouraged and surprised. There are so few film roles for indigenous actors, he said, that walking off the set of a major production showed real mettle.

But what didn’t surprise Mr. Wente was the content of the script. According to the actors who walked off the set, the film, titled “The Ridiculous Six,” included a Native American woman who passes out and is revived after white men douse her with alcohol, and another woman squatting to urinate while lighting a peace pipe. “There’s enough history at this point to have set some expectations around these sort of Hollywood depictions,” Mr. Wente said.

The walkout prompted a rhetorical “What do you expect from an Adam Sandler film?,” and a Netflix spokesman said that in the movie, blacks, Mexicans and whites were lampooned as well. But Native American actors and critics said a broader issue was at stake. While mainstream portrayals of native peoples have, Mr. Wente said, become “incrementally better” over the decades, he and others say, they remain far from accurate and reflect a lack of opportunities for Native American performers. What’s more, as Native Americans hunger for representation on screen, critics say the absence of three-dimensional portrayals has very real off-screen consequences.

“Our people are still healing from historical trauma,” said Loren Anthony, one of the actors who walked out. “Our youth are still trying to figure out who they are, where they fit in this society. Kids are killing themselves. They’re not proud of who they are.” They also don’t, he added, see themselves on prime time television or the big screen. Netflix noted while about five people walked off the “The Ridiculous Six” set, 100 or so Native American actors and extras stayed.

Advertisement

But in interviews, nearly a dozen Native American actors and film industry experts said that Mr. Sandler’s humor perpetuated decades-old negative stereotypes. Mr. Anthony said such depictions helped feed the despondency many Native Americans feel, with deadly results: Native Americans have the highest suicide rate out of all the country’s ethnicities.

The on-screen problem is twofold, Mr. Anthony and others said: There’s a paucity of roles for Native Americans — according to the Screen Actors Guild in 2008 they accounted for 0.3 percent of all on-screen parts (those figures have yet to be updated), compared to about 2 percent of the general population — and Native American actors are often perceived in a narrow way.

In his Peabody Award-winning documentary “Reel Injun,” the Cree filmmaker Neil Diamond explored Hollywood depictions of Native Americans over the years, and found they fell into a few stereotypical categories: the Noble Savage, the Drunk Indian, the Mystic, the Indian Princess, the backward tribal people futilely fighting John Wayne and manifest destiny. While the 1990 film “Dances With Wolves” won praise for depicting Native Americans as fully fleshed out human beings, not all indigenous people embraced it. It was still told, critics said, from the colonialists’ point of view. In an interview, John Trudell, a Santee Sioux writer, actor (“Thunderheart”) and the former chairman of the American Indian Movement, described the film as “a story of two white people.”

“God bless ‘Dances with Wolves,’ ” Michael Horse, who played Deputy Hawk in “Twin Peaks,” said sarcastically. “Even ‘Avatar.’ Someone’s got to come save the tribal people.”

Dan Spilo, a partner at Industry Entertainment who represents Adam Beach, one of today’s most prominent Native American actors, said while typecasting dogs many minorities, it is especially intractable when it comes to Native Americans. Casting directors, he said, rarely cast them as police officers, doctors or lawyers. “There’s the belief that the Native American character should be on reservations or riding a horse,” he said.

“We don’t see ourselves,” Mr. Horse said. “We’re still an antiquated culture to them, and to the rest of the world.”

Ms. Cardinal said she was once turned down for the role of the wife of a child-abusing cop because the filmmakers felt that casting her would somehow be “too political.”

Another sore point is the long run of white actors playing American Indians, among them Burt Lancaster, Rock Hudson, Audrey Hepburn and, more recently, Johnny Depp, whose depiction of Tonto in the 2013 film “Lone Ranger,” was viewed as racist by detractors. There are, of course, exceptions. The former A&E series “Longmire,” which, as it happens, will now be on Netflix, was roundly praised for its depiction of life on a Northern Cheyenne reservation, with Lou Diamond Phillips, who is of Cherokee descent, playing a Northern Cheyenne man.

Others also point to the success of Mr. Beach, who played a Mohawk detective in “Law & Order: Special Victims Unit” and landed a starring role in the forthcoming D C Comics picture “Suicide Squad.” Mr. Beach said he had come across insulting scripts backed by people who don’t see anything wrong with them.

“I’d rather starve than do something that is offensive to my ancestral roots,” Mr. Beach said. “But I think there will always be attempts to drawn on the weakness of native people’s struggles. The savage Indian will always be the savage Indian. The white man will always be smarter and more cunning. The cavalry will always win.”

The solution, Mr. Wente, Mr. Trudell and others said, lies in getting more stories written by and starring Native Americans. But Mr. Wente noted that while independent indigenous film has blossomed in the last two decades, mainstream depictions have yet to catch up. “You have to stop expecting for Hollywood to correct it, because there seems to be no ability or desire to correct it,” Mr. Wente said.

There have been calls to boycott Netflix but, writing for Indian Country Today Media Network, which first broke news of the walk off, the filmmaker Brian Young noted that the distributor also offered a number of films by or about Native Americans.

The furor around “The Ridiculous Six” may drive more people to see it. Then one of the questions that Mr. Trudell, echoing others, had about the film will be answered: “Who the hell laughs at this stuff?”

Native American Actors Work to Overcome a Long-Documented Bias

Artikel lainnya »