MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISTA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

PERJALANAN UMROH |ITINERARY  REGULER 9 Hari TAKE OFF MADINAH

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. paket umroh dari jakarta

saco-indonesia.com, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawaan (Aher) telah mengucapkan selamat Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari. Dalam kehidupan berbangsa dan berdemokrasi, Aher telah menilai peran pers menjadi bagian penting dari demokrasi.

"Selamat HPN, kepada semua pihak, semua terkait dengan pers. Pers bagian dari kehidupan. Pilar kebangsaan demokrasi saat ini. Sekarang selain pers ada civil society, media berpengaruh, kekuatan modal juga berpengaruh," tegas Aher usai dalam menghadiri acara Sarasehan Nasional Ulama Pesantren dan Cendikiawan di Depok, Jawa Barat, Minggu (09/02/2014) kemarin.

Aher juga mengusulkan agar media dapat membuat keseimbangan. Selama ini, kata dia, peran kontrol oleh media terlalu menonjol. "Sementara peran pendidikan dan hiburan kurang. Kalau peran kontrol sudah baik, bahkan kelebihan, terlalu over kelebihan peran kontrol, sudah paling top deh," katanya sambil tertawa.

Aher juga menambahkan membangun bangsa harus seimbang melalui tulisan media dalam hal produksi kata yang jangan provokatif. Sebab media, lanjutnya, adalah lembaga yang mempunyai peran amat strategis.

"Tak ada kemajuan tanpa media. Tak ada kecerdasan bangsa tanpa media, media memasivekan banyak hal. Marilah hadirkan fakta media. Kalau fakta suda hadir maka harus seimbang, supaya cover both side," tutupnya.


Editor : Dian Sukmawati

TAK ADA KEMAJUAN TANPA MEDIA

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »