umroh desember

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. paket umroh bulan agustus

saco-indonesia.com, Rumah pedagang kopi di Kampung Rawa Malang, RT10/09, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (6/2) kemarin sore, telah disatroni oleh maling. Selain sepeda motor matic, pelaku juga telah menggasak dompet kecil, kunci dan STNK motor yang disimpan di lemari pakain korban. Namun pemilik rumah masih beruntung. Pasalnya saat Umi Sumiati yang berusia 53 tahun ingin melapor ke Polsek Cilincing tak sengaja berpapasan dengan pelaku yang sedang menunggangi motornya.

Dengan menggunakan ojek, diam-diam korban telah mengikuti pelaku, Ruli Aminuloh yang berusia 17 tahun dari belakang dan ternyata mengarahkan ke rumah kontrakan pelaku tak jauh dari rumah korban. Begitu memastikan pelaku tinggal di rumah itu, korban lalu telah melaporkan peristiwa itu ke Polsek Cilincing, sekitar pukul: 19.00 WIB.

Tim Buser Polsek Cilincing kemudian bergerak menuju rumah pelaku. Pelaku yang sedang tidur-tiduran langsung panik begitu mengetahui polisi datang. “Awalnya dia bersikukuh bahwa motor tersebut merupakan motornya. Tapi kita meminta STNK motor dan memang benar motor tersebut atas nama korban,” kata Kanit Reskrim Polsek Cilincing, AKP Imam Tulus.

Petugas kemudian telah menggelandang pria pengangguran itu berikut sepeda motor Beat B 6120 UVZ ke kantor Polsek Cilincing . “Dari pemeriksaan, ternyata sepeda motor yang sering hilang di kawasan tersebut dilakukan tersangka. Dia beraksi jika penghuni rumah sedang pergi. Kita masih dalami peranan tersangka terkait dalam sindikat pencurian kendaraan bermotor,” ujar Imam Tulus.

“Tapi samapi sekarang tersangka masih bungkam motor yang dicurinya dijual di mana. Kita akan kejar teman-teman korban untuk mencari informasi,” jelas Imam.

Warga di sekitar tempat tinggal korban selama juga ini sempat curiga melihat hidup pelaku yang berpenampilan serba mewah, padahal Ruli tidak memiliki pekerjaan.

Tersangka Rulis juga mengaku, rencananya uang hasil penjualan sepeda motor itu akan dihabiskan bersama rekan-rekannya di lokalisasi liar Rawa Malang bersama para PSK. Dan jika habis ia kemudian mencari mangsa di rumah kosong yang ditinggal pemiliknya.


Editor : Dian sukmawati

WANITA BUNTUTI PENCURI MOTORNYA HINGGA TERTANGKAP
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »