Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari
Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. paket haji di Bojongsari
WANITA HAMIL DIHABISI SUAMI
saco-indonesia.com, Motif pembunuhan wanita hamil ternyata karena telah dibakar oleh api cemburu. Pelakunya seperti diduga semula adalah suami korban yang dibantu oleh dua temannya. Selain telah meghabisi Desi, ketiga pelaku tersebut juga melukai Fatonah.
Diberitakan sebelumnya, peristiwa itu telah terjadi di rumah orangtua korban Kampung Rawa Bebek RT 10/11. Kelurahan Kota Baru, Bekasi Barat, Minggu(26/1) malam lalu.
Desi Hayatun Nupus yang berusia 20 tahun , tewas dengan luka tusuk muka leher dan kepala, sedangkan ibunya yang sempat melerai keributan itu ( Ny Fatoyah,45,) telah terkena sabetan senjata tajam di punggungnya, Jasad ibu muda dikirim ke RS Polri Kramatjati, sedangkan Ny Fatoyah telah dilarikan ke RS Ananda.
Tersangka Erik yang berusia 30 tahun , kabur dengan menggunakan mobil Daihatsu Sirion warna silver bersama dua temannya. Petugas Polsek Bekasi Barat juga masih terus mencari pelaku.
Menurut Ny Fatoyah menantunya itu cemburu kepada Desi dan selalu mengungkit-ungkit dengan mengatakan kalau sudah janda punya satu anak dan sama orang yang belum tahu identitasnya.
Bahkan sang suami juga kerap meganiaya Desi saat mereka tinggal di apartemen di bilangan Pulogadung, Jakarta Timur.
Tak tahan akan dengan penganiayaan dan kecemburuan suami, akhirnya Desi telah memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya Ny Fatoyah di bilangan Rawa Bebek. Di sana Desi juga sempat bekerja di sebuah kafe.
Namun Minggu malam, naas telah menimpa janda yang sedang mengandung ini. Erik bersama dua temannya datang ke rumah Ny Fatoyah. Mereka telah menghabisi nyawa sang istri dengan menggunakan senjata tajam, sementara Ny Fatoyah yang berniat untuk melerai malah kena sabetan senjata tajam .
Sementara Delita,2, anak Ny Desi dari suami pertama hanya bisa menangis.Warga yang telah mendengar teriakan minta tolong tak sanggup untuk menangkap pelaku yang kabur pakai mobil dan mengayun-ayunkan senjata tajam.
Kapolsek Bekasi Barat Kompol Jasalmon Sihombing juga mengatakan pelaku 3 orang dan pihaknya juga masih melakukan pengejaran. Jasad Ny Desi setelah diotopsi di RS Polri dikebumikan di pemakaman Kampung Rawa Bebek
Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake
Photo
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas.Credit Daniel Berehulak for The New York Times
KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.
Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.
“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”
Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.