umroh februari

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. harga umroh desember Subang
ilmu-allah Berkata Malaikat: "Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Menghukumi" Surat Al-Baqoroh (2:32). Beribu-ribu tahun yang lalu, ketika Allah akan menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi, para Malaikat sempat mempertanyakan mengapa Allah memilih mahluk yang doyan berbuat kerusakan dan mengalirkan darah menjadi khalifah?. Mengapa bukan justru mereka saja yang terus menerus tanpa putus bertasbih yang dinobatkan menjadi khalifah bumi? Heran. Bagaimana cara Allah menangani keheranan Malaikat? Wa ‘allamal adaama asmaa-a kullahaa diajarkan-Nya-lah kepada Adam nama seluruh benda yang waktu itu ada di muka bumi. Sini tanah, situ pohon, sana batu, sono langit, ini hidung, itu kaki, dst, dst. Setelah itu Allah berkata kepada Malaikat: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian benar". Malaikat menyerah. Fasajaduu – mana sujud para Malaikat itu, kepada Adam, illaa ibliis – kecuali Iblis. Hanya ilmu tentang nama-nama benda. Bukan ilmu dasar iptek matematika, fisika, kimia, biologi yang ruwet-rumit. Hanya nama-nama benda. Tidak lebih. Peristiwa Besar Kejadian itu sepertinya hal kecil. Padahal adalah sebuah peristiwa besar. Yang menunjukkan betapa makhluq itu tidak ada apa-apanya dimata Sang Khaliq. Malaikat dibuat dari cahaya. Manusia dibuat dari tanah. Tugas manusia adalah beribadah kepada Allah. Tugas Malaikat adalah, antara lain, mencatat amal baik dan amal buruk manusia. Dari hal-hal itu, seorang anak kecil saja bisa menarik kesimpulan bahwa kedudukan Malaikat lebih tinggi dari manusia. Tapi mengapa Malaikat “kalah” ketika di test nama-nama? Padahal hanya nama-nama sederhana? Kalah oleh manusia yang ingredient alias ramuan bahan dasarnya saja “lebih rendah”?. Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian. Karena Allah menghendaki mengajarkan kepada Adam ilmu nama-nama yang tidak pernah diajarkan-Nya kepada Malaikat. Einstein-Hawking Jika ditanya siapakah ilmuwan-ilmuwan terbesar sepanjang masa, maka Albert Einsten dan Stephen Hawking adalah dua nama diantaranya. Yang pertama terkenal dengan teori relativitasnya, yang kedua terkenal dengan teori ‘big bang’ alias dentuman besarnya. Teori apa itu? Bukan porsi artikel ini untuk menjelaskannya. Jawaban terhadap pertanyaan mengapa kecemerlangan otak mereka tidak diberikan kepada ilmuwan Muslim melainkan justru diberikan kepada ilmuwan atheis, identik dengan jawaban terhadap pertanyaan mengapa ilmu nama-nama tidak diberikan kepada Malaikat. Diantara 25 Nabi, ada 5 Nabi yang mendapatkan peringkat Ulul ‘Azmi: Fashbir kamaa shobaro uulul ‘azmi – shobarlah sebagaimana rasul yang diberi keshobaran hati. Mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Tetapi mengapa Musa sampai harus meminta-minta diajari ilmu mengetahui masa depan kepada Nabi Khidir yang di dalam daftar 25 Nabi pun, tidak ada? Tragisnya, boro-boro mendapatkan ilmu, Musa menjadi murid Khidir pun, gagal, karena tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya atas berbagai hal yang memang aneh dan layak ditanyakan. Misalnya, dengan enaknya Khidir membunuh orok yang masih merah, dll. Mengapa Khidir lebih pintar dari Musa? Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian. Dikejadian lain, mengapa Musa yang Ulul ‘Azmi bisa dikalahkan oleh ilmunya Bal’an bin Bauro sehingga muter-muter selama 40 tahun sampai bisa menemukan Baitul Maqdis? Jawabnya: karena Allah menghendaki demikian. Jika sejak tahun 1886 mobil Merdeces-Benz menemukan puluhan ribu paten, maka setiap paten sesungguhnya adalah Ilmu Allah, hanya saja awalnya ditemukan oleh orang Jerman, Tuan Gottlieb Daimler dan Tuan Carl Benz. Dst., dst. Tidak ada secuilpun di dunia ini yang tidak didasarkan atas ilmu Allah. Bahkan sekedar nama-nama benda. Ikhtilaf Sayang sekali, untuk 1 ilmu yang sama, Allah memberi keleluasaan kepada manusia untuk menafsirkannya secara berbeda. Terutama ilmu-ilmu non-eksakta. Untuk ilmu eksakta, atau dulu disebut ‘ilmu pasti’, dimana-mana di belahan dunia manapun yang namanya 2 kali 2 hasilnya 4; yang namanya air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah; yang namanya kecepatan cahaya selalu jauh lebih besar daripada kecepatan suara; dst., dst. Tetapi bagaimana dengan ilmu yang satu ini yang berbunyi: al-jamaa’atu rohmatun wal firqotu ‘adzabun – jamaah adalah rohmat dan pecah belah adalah siksa. Ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘jamaah’, ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘rohmat’, ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘firqoh’, dan ada seabrek pengertian yang dimaksud ‘adzab’. Kalau dibuat matriks 4x4 jamaah-rohmat-firqoh-adzab, maka pengertiannya sudah pasti seabrek-abrek. Maka disinilah fungsinya isnad atau mata rantai yang menjamin tersambungnya dengan pengertian yang sebenarnya dengan apa yang diajarkan dan dimaksudkan oleh Nabi. Disinilah pentingnya ilmu asbabun-nuzul atau sebab-sebab turunnya sebuah ayat Al-Quran atau asbabul-wurud atau sebab-sebab adanya sebuah hadits. Disinilah penting hadits Bukhori, Muslim, Nasai, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dsb. Ilmu Tidak Bermanfaat. Hah! Mosok iya ada ilmu yang tidak bermanfaat? Yakin, haq: ada!. Buktinya Nabi mengajarkan do’a yang dibaca sebelum minum air zamzam: Alloohumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a – Ya Allah hamba memohon ilmu yang bermanfaat. Bukti lain, di hadits lain, Nabi mengajarkan do’a: Alloohumma innii a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’ – Ya Allah hamba berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Nah. Banyak ilmu ternyata tidak selamanya identik dengan orang faqih atau orang faham. Faqihun wahidun asyaddu ‘alasy syaithooni min alfi ‘aabid – Satu orang faqih lebih berat bagi syaithan daripada seribu orang yang bodoh. Jadi bukan orang yang banyak ilmunya yang ditakuti syetan. Tapi orang faqih. Satu ketika ada seorang sahabat yang menyimpan sedekah di sebelah mimbar di masjid, dengan harapan diambil oleh orang miskin. Apa yang terjadi? Sedekah tadi diambil oleh seorang pencuri. Di lain hari, disimpannya lagi sedekah di sebelah mimbar masjid, dengan harapan yang sama. Apa yang terjadi? Sedekah tadi diambil oleh orang tidak baik lainnya. Demikian seterusnya. Sohabat tadi kemudian lapor kepada Nabi yang kemudian dijawab bahwa pada saat sedekah itu diletakkan di sebelah mimbar, pahalanya sudah diterima di sisi Allah. Ilmu Allah dari hadits diatas adalah, saat sedekah, pahala sudah jadi. Urusan sedekah itu menjadi apa, sudah menjadi urusan Allah. Identik dengan keadaan masa kini. Saat seorang Mumin menyerahkan sedekahnya kepada Baitul Maal wa Tamwil (BMT), saat itu pahalanya sudah diterima oleh Allah. Terserah Allah, melalui pengurus BMT mau diapakan sedekahnya itu. Itulah ilmu Allah, sebagaimana yang dapat dipetik dari hadits sedekah yang diambil bukan oleh orang miskin diatas. Sebaliknya mereka yang sedekah kemudian mengungkit-ungkit, mencari-cari, berprasangka, suudzon tanpa hak, itu adalah Ilmu Syetan yang mengajak menghancur-leburkan amal sedekahnya sendiri. Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa tubtiluu shodaqootikum bil manni wal adza – Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian membatalkan sedekahmu dengan mengungkit-ungkit dan menyakitkan hati. Nah, apalagi kalau bukan Ilmu Syetan yang membatalkan amalan? Ibadah Ghoiro Maghdhoh Definisi syirik sudah jelas. Ada di Al-Quran dan ada di Al-Hadits. Syirik yang terang-terangan alias dzahar adalah menyembah kepada selain Allah, atau menduakan Allah. Syirik yang samar alias khoufi adalah ibadah mengharapkan ‘sesuatu’ selain pahala dari Allah. Segala macam syirik ganjarannya adalah dimasukkan kedalam neraka. Maka itu terhadap pendapat yang menyatakan bahwa menghormat bendera adalah perbuatan syirik, sudah pasti disebabkan bingung tidak bisa membedakan antara “menyembah” dengan “menghormat”. Hormat bendera adalah bagian dari kewajiban warga negara untuk selayaknya menghormati segala atribut yang melambangkan kebesaran negara. Bahkan untuk hal-hal tertentu, pelecehan terhadap atribut negara menimbulkan konsekwensi hukum. Jika istiqomah – konsisten dengan keyakinannya, yang menyatakan syirik terhadap menghormat bendera, seharusnya menyatakan syirik pula terhadap yang mentaati lampu setopan di perempatan jalan, dan yang mentaati tukang parkir, karena bukankan taat itu hanya kepada Allah dan Rasul? Bahkan seharusnya menyatakan perbuatan syirik pula terhadap pembayaran STNK, pembuatan KTP dan SIM, dll., dll., bukan? Karena kebanyakan ilmu, namun bukan Ilmu Allah, melainkan ro’yu ilmu fikiran sendiri, maka syetan pun masuk. Padahal ro’yu itu sangat berbahaya. Sabda Nabi, barang siapa yang berkata dengan ro’yu alias fikiran sendiri - fa ashooba faqod akhto – umpamapun perkataannya benar, maka tetap saja salah. Apalagi perkataannya salah. Pantas bingung. Kalau sudah bingung, firman Allah tsummun bukmun ‘umyun – tuli bisu buta, fahum laa yarji’uun – maka mereka tidak bisa kembali. Alhamdulillah bagi mereka yang bisa mengamalkan ibadah maghdhoh yang berkaitan dengan Rukun Iman percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab, Nabi, Qodar dan Kiamat; serta ibadah yang berkaitan dengan Rukun Islam Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji. Alhamdulillah bagi mereka yang bisa membedakan mana ibadah ghoiro maghdhoh yang tidak berkaitan dengan kedua rukun diatas, melainkan ibadah sosial. Yaitu memiliki keyakinan bahwa menjadi warga negara yang taat kepada Pemerintah yang sah serta menghormati 4 pilar (1) Pancasila, (2) Undang-undang Dasar (UUD) 1945, (3) Bhineka Tunggal Ika dan (4) NKRI, adalah bagian daripada ibadah. Hanya Ilmu Allah yang sebenarnya yang bisa membawa keyakinan seperti itu. Maka sesekali tirukanlah ucapan Malaikat ketika menyerah kepada Allah untuk sujud kepada Adam: “Ya Allah, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami”. Kalau sudah demikian, setinggi apapun ilmu agama dan ilmu dunia yang dikuasai, bagaimana mungkin masih bisa sombong? Fa aina tadzhabuun? Liwon Maulana (galipat) ILMU ALLAH

HOBART, Tasmania — Few places seem out of reach for China’s leader, Xi Jinping, who has traveled from European capitals to obscure Pacific and Caribbean islands in pursuit of his nation’s strategic interests.

So perhaps it was not surprising when he turned up last fall in this city on the edge of the Southern Ocean to put down a long-distance marker in another faraway region, Antarctica, 2,000 miles south of this Australian port.

Standing on the deck of an icebreaker that ferries Chinese scientists from this last stop before the frozen continent, Mr. Xi pledged that China would continue to expand in one of the few places on earth that remain unexploited by humans.

He signed a five-year accord with the Australian government that allows Chinese vessels and, in the future, aircraft to resupply for fuel and food before heading south. That will help secure easier access to a region that is believed to have vast oil and mineral resources; huge quantities of high-protein sea life; and for times of possible future dire need, fresh water contained in icebergs.

It was not until 1985, about seven decades after Robert Scott and Roald Amundsen raced to the South Pole, that a team representing Beijing hoisted the Chinese flag over the nation’s first Antarctic research base, the Great Wall Station on King George Island.

But now China seems determined to catch up. As it has bolstered spending on Antarctic research, and as the early explorers, especially the United States and Australia, confront stagnant budgets, there is growing concern about its intentions.

China’s operations on the continent — it opened its fourth research station last year, chose a site for a fifth, and is investing in a second icebreaker and new ice-capable planes and helicopters — are already the fastest growing of the 52 signatories to the Antarctic Treaty. That gentlemen’s agreement reached in 1959 bans military activity on the continent and aims to preserve it as one of the world’s last wildernesses; a related pact prohibits mining.

Advertisement

But Mr. Xi’s visit was another sign that China is positioning itself to take advantage of the continent’s resource potential when the treaty expires in 2048 — or in the event that it is ripped up before, Chinese and Australian experts say.

“So far, our research is natural-science based, but we know there is more and more concern about resource security,” said Yang Huigen, director general of the Polar Research Institute of China, who accompanied Mr. Xi last November on his visit to Hobart and stood with him on the icebreaker, Xue Long, or Snow Dragon.

With that in mind, the polar institute recently opened a new division devoted to the study of resources, law, geopolitics and governance in Antarctica and the Arctic, Mr. Yang said.

Australia, a strategic ally of the United States that has strong economic relations with China, is watching China’s buildup in the Antarctic with a mix of gratitude — China’s presence offers support for Australia’s Antarctic science program, which is short of cash — and wariness.

“We should have no illusions about the deeper agenda — one that has not even been agreed to by Chinese scientists but is driven by Xi, and most likely his successors,” said Peter Jennings, executive director of the Australian Strategic Policy Institute and a former senior official in the Australian Department of Defense.

“This is part of a broader pattern of a mercantilist approach all around the world,” Mr. Jennings added. “A big driver of Chinese policy is to secure long-term energy supply and food supply.”

That approach was evident last month when a large Chinese agriculture enterprise announced an expansion of its fishing operations around Antarctica to catch more krill — small, protein-rich crustaceans that are abundant in Antarctic waters.

“The Antarctic is a treasure house for all human beings, and China should go there and share,” Liu Shenli, the chairman of the China National Agricultural Development Group, told China Daily, a state-owned newspaper. China would aim to fish up to two million tons of krill a year, he said, a substantial increase from what it currently harvests.

Because sovereignty over Antarctica is unclear, nations have sought to strengthen their claims over the ice-covered land by building research bases and naming geographic features. China’s fifth station will put it within reach of the six American facilities, and ahead of Australia’s three.

Chinese mappers have also given Chinese names to more than 300 sites, compared with the thousands of locations on the continent with English names.

In the unspoken competition for Antarctica’s future, scientific achievement can also translate into influence. Chinese scientists are driving to be the first to drill and recover an ice core containing tiny air bubbles that provide a record of climate change stretching as far back as 1.5 million years. It is an expensive and delicate effort at which others, including the European Union and Australia, have failed.

In a breakthrough a decade ago, European scientists extracted an ice core nearly two miles long that revealed 800,000 years of climate history. But finding an ice core going back further would allow scientists to examine a change in the earth’s climate cycles believed to have occurred 900,000 to 1.2 million years ago.

China is betting it has found the best location to drill, at an area called Dome A, or Dome Argus, the highest point on the East Antarctic Ice Sheet. Though it is considered one of the coldest places on the planet, with temperatures of 130 degrees below zero Fahrenheit, a Chinese expedition explored the area in 2005 and established a research station in 2009.

“The international community has drilled in lots of places, but no luck so far,” said Xiao Cunde, a member of the first party to reach the site and the deputy director of the Institute for Climate Change at the Chinese Academy of Meteorological Sciences. “We think at Dome A we will have a straight shot at the one-million-year ice core.”

Mr. Xiao said China had already begun drilling and hoped to find what scientists are looking for in four to five years.

To support its Antarctic aspirations, China is building a sophisticated $300 million icebreaker that is expected to be ready in a few years, said Xia Limin, deputy director of the Chinese Arctic and Antarctic Administration in Beijing. It has also bought a high-tech fixed-wing aircraft, outfitted in the United States, for taking sensitive scientific soundings from the ice.

China has chosen the site for its fifth research station at Inexpressible Island, named by a group of British explorers who were stranded at the desolate site in 1912 and survived the winter by excavating a small ice cave.

Mr. Xia said the inhospitable spot was ideal because China did not have a presence in that part of Antarctica, and because the rocky site did not have much snow, making it relatively cheap to build there.

Anne-Marie Brady, a professor of political science at the University of Canterbury in New Zealand and the author of a soon-to-be-released book, “China as a Polar Great Power,” said Chinese scientists also believed they had a good chance of finding mineral and energy resources near the site.

“China is playing a long game in Antarctica and keeping other states guessing about its true intentions and interests are part of its poker hand,” she said. But she noted that China’s interest in finding minerals was presented “loud and clear to domestic audiences” as the main reason it was investing in Antarctica.

Because commercial drilling is banned, estimates of energy and mineral resources in Antarctica rely on remote sensing data and comparisons with similar geological environments elsewhere, said Millard F. Coffin, executive director of the Institute for Marine and Antarctic Studies in Hobart.

But the difficulty of extraction in such severe conditions and uncertainty about future commodity prices make it unlikely that China or any country would defy the ban on mining anytime soon.

Tourism, however, is already booming. Travelers from China are still a relatively small contingent in the Antarctic compared with the more than 13,000 Americans who visited in 2013, and as yet there are no licensed Chinese tour operators.

But that is about to change, said Anthony Bergin, deputy director of the Australian Strategic Policy Institute. “I understand very soon there will be Chinese tourists on Chinese vessels with all-Chinese crew in the Antarctic,” he said.

 

Top News China’s Intents Are Questioned as It Builds in Antarctica

Artikel lainnya »