ITINERARY PERJALANAN UMROH REGULER 9 Hari

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. biro umroh Medan Satria

saco-indonesia.com, Keberanian anggota Kelompok Sadar Kamtibmas (KSK) Lintas Tomang ini patut diacungi jempol.

Dede Iskandar yang berusia 24 tahun , telah berhasil menggagalkan aksi pencurian sepeda motor setelah membuat pencuri terjengkang dari motor curiannya lewat tendangannya.

Peristiwa yang telah terjadi di Jalan Rawa Kepa Ujung, Jakarta Barat, Selasa (27/1) sekitar pukul 17:00 juga sempat membuat gempar masyarakat setempat. Namun sayang ketika pelaku akan diringkus, penjahat tersebut juga langsung mencabut senjata api dari pinggangnya.

Karuan saja telah membuat Dede yang sehari-hari dipanggil Gudel ini telah memilih untuk kabur dengan sepeda motornya.

“Saya ditodong senjata api ketika saya mau menangkapnya. Daripada saya ditembak saya langsung kabur saja,” ujar Gudel yang kabur sambil berteriak rampok.

Pelaku yang menurut Gudel berperawakan sedang ini juga kabur menumpang motor Yamaha Mio warna putih rekannya yang mengiringinya dalam aksi kejahatan. Sementara motor Satria FU 150 F 4383 PI yang sempat dicuri pelaku ditinggalkan di jalan dengan kunci leter T yang masih menancap di stop kontak.

Aksi penggagalan pencurian sepeda motor ini menurut pentolan KSK Lintas Tomang H. Nanang Kurniawan ini bermula dari pantulan jajaran KSK.lewat HT (Handy Talky). Dikabarkan sepeda motor Satria FU F 4383 PI milik Agus telah hilang di Jalan Gelong Baru Timur. Agus saat itu tengah memfoto copy di sebuah warung.

Pantulan ini telah didengar Dede yang berada di Jalan Rawa Kepa Utama. “Saya lihat ada sepeda motor Satria FU seperti yang dipantulkan lewat. Saya juga minta ulang lagi nomor polisinya agar tak salah,” ujar pemilik call sign Ende 1 ini.

Setelah mendapat jawaban bahwa memang motor yang sedang dicurigainya itu benar motor curian Dede langsung memepetnya lalu menendangnya di Jalan Rawa Kepa Ujung. Hal ini telah membuat pelaku terjengkang dari motor curiannya.

Pelaku yang terjatuh langsung mencabut senjata api dan ditodongkan ke Dede.

“Saya kira pelakunya sendiri. Tak taunya ada temannya yang ikut mengiringinya,” ujarnya.

Sepeda motor yang gagal dicuri ini langsung diamankan ke Pos RW O13 dan selanjutnya dibawa oleh. petugas Polsek Tanjung Duren yang telah mengusut kejadian ini


Editor : Dian Sukmawati

ANGGOTA KSK GAGALKAN CURANMOR
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »