ITINERARY  | PERJALANAN UMROH PLUS THAIF 12 HARI

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. biro haji plus Pondok Gede

saco-indonesia.com, Ibu muda saat terlelap bersama bayinya telah diikat oleh dua penjahat yang masuk ke rumahnya di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Selasa (7/1) dinihari. Setelah berhasil melumpuhkan Siti Khotimah yang berusia 23 tahun , penjahat yang masuk dengan cara mencongkel jendela menguras uang Rp 2,5 juta dan 26 gram perhiasan emas. Kasusnya telah dilaporkan korban ke Polsek Tambun.

Menurut Ny Siti, ia yang saat itu terlelap bersama bayi yang berusia 8 bulan terbangun saat mendengar suara gaduh di dekat jendela kamar. Memang saat itu Ny Siti hanya tidur bersama bayinya saja, sementara sang suami sedang bekerja.

Saat ibu muda ini bangkit, tiba-tiba dua lelaki masuk ke dalam rumahnya. “Mau apa kamu masuk ke rumah saya,” tanya Ny Siti keheranan.

Namun belum juga sempat dijawab, satu pelaku langsung menodongkan senjata tajam golok ke leher ibu rumahtangga ini.Penjahat kemudian telah mengikat kedua tangan korban pakai gesper fan melakban mulut Ny Siti. Sementara sang jabang bayi juga masih terlelap di ranjang.

Setelah berhasil melumpuhkan korban, kawanan penjahat telah mengacak-acak isi lemari mengambil uang dan perhiasan emas. Berhasil dengan aksinya, penjahat tersebut kabur.

Kanitserse Polsek Tambun Iptu Rudi Wira saat ditanya wartawan juga mengatakan masih harus memburu pelakunya. Ia telah menduga kawanan penjahat masuk mencongkel jendela.


Editor : Dian Sukmawati

IBU DAN BAYI DISERGAP OLEH PERAMPOK

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »