MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISTA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

Umroh November

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. biro haji onh plus di Pondok Melati

DEPOK, Saco- Indonesia.COM -- Artis komedi yang jadi pemandu acara televisi terkenal Tukul Arwana (49) memilih berbisnis properti di luar profesinya tersebut. Ia membeli tanah dan rumah untuk kemudian dijadikannya tempat kos dan rumah kontrakan. Kini ratusan "pintu" telah dimiliki oleh lelaki bernama asli Tukul Riyanto ini. 

"Tanah itu enggak pernah habis, nambah terus nilainya, jangka panjang. Dulu saya beli satu setengah juta (rupiah) per meter, sekarang harganya enam juta," cerita Tukul di Depok, Jawa Barat, akhir minggu yang baru lalu.

Tukul mengaku menggunakan uang hasil "ngamen"-nya sebagai artis komedi dan pemandu acara ternama sebagai modal awal bisnis tersebut. "Memang, modal awalnya besar. Tapi, alhamdulillah, sekarang hasilnya sudah bisa buat cash flow," tutur Tukul berbumbu kata-kata dalam bahasa Inggris ala dia.

Namun, dalam berbisnis properti, pembawa acara bincang bincang di layar kaca, Bukan 4 Mata, ini pernah merasakan hal yang tidak enak. "Beli rumah, sudah beli, sayapnya (bagian sampingnya) kepotong (karena tak termasuk dalam luas tanah yang dibelinya)," kisahnya mencontohkan.

Tukul menganjurkan agar orang-orang berhati-hati dalam membeli tanah dan rumah. "Pokoknya, tempat itu jangan sampai banjir, repot. Surat-surat juga perlu diperhatikan," ujar Tukul, yang selalu meminta restu sang istri, Susi, dalam membeli rumah dan tanah.

Tukul mengincar tanah di pinggir Jakarta, termasuk di perumahan. Baginya, wilayah itu lama-lama akan menjadi ramai dan memiliki nilai investasi yang semakin mahal.

Editor :Liwon Maulana
Sumber:Kompas.com
Tukul Arwana Sedang Nikmati Manis Bisnis Properti

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »