Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. biro haji khusus di Pondok Melati

Rumah mantan pejabat PT Telkom di Jalan Menteng Kecil No.9 RT 11/9 Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, telah dibobol pembantu. Perhisan emas dan mata uang asing total Rp 100 juta raib dari brankas. Hal itu telah dibenarkan oleh Kapolsek Menteng AKBP Gunawan,SH,MH.

Menurut Syafaruddin yang berusia 54 tahun , Ketua RT setempat, oleh Samilah Bin Atmorejo,63, dan istrinya Ny HJ Maya,56, rumah berlantai dua itu telah dijadikan tempat kos. Rumah seluas 400 meter dengan tiga pembantu dua wanita sedang satu lagi waria.Kamarnya ada 17.

“Setelah pensiun sejak tahun 2008, rumah tersebut dijadikan kos-kosan di lantai dua sedang di lantai bawah dihuni pemilik, namun pemilik tidak melapor ada anak kos,”ujar ketua RT .

Brankas telah diketahui bobol Senin (10/3) lalu, korban telah mengambil uang buat bayar umroh yang di laksanakan bulan ini. Anehnya tak ada bekas congkelan di brankas, telah membuat korban mencurigai tiga pembantunya. Pemilik lalu melapor ke polisi.

Petugas segera melakukan olah TKP dan dari hasil pemeriksaan ternyata salah satu pembantunya bernama Oyok alias Dodoy,22, yang dicuriagi sebagai pelaku.Pasalnya yang bersangkutan menghilang.

Oyok alias Dodoy, telah diburu ke kampung halaman di Cianjur. Tak pelak lagi pembantu yang sudah 7 tahun bekerja diseret polisi ke Jakarta.

Kepada polisi,tersangka juga mengaku perhiasan emas dan mata uang asing total Rp 100 juta diambil, semuanya dipakai untuk beli rumah di kampung sedang sisanya Rp 45 juta masih ada disimpan dalam buku tabungan bank.

“Dan dari tangan pelaku itu selain buku tabanas juga disita 2 HP dan TV serta sepatu yang dibeli dari hasil kejahatan. Brankas telah dibuka pakai kunci duplikat yang dibuat di Senen. Uang tidak diambil sekaligus hanya kalau majikan pergi ke daerah

Rumah Mantan Pejabat Telkom Dibobol Pembantu
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »