ITINERARY PERJALANAN UMROH PLUS CITYTOUR DUBAI 9 hari

Saco-Indonesia.com — Pada umumnya perempuan Asia terlahir dengan hidung yang bisa dibilang tak terlalu bangir alias pesek, yang menyebabkan kebanyakan dari kita berlomba-lomba memancungkannya lewat bedah kosmetika.

Perempuan Korea, China, dan Thailand paling terkenal gemar “memugar” wajah demi mencapai kesempurnaan fisik. Bahkan kabarnya, kebiasaan ini sudah dimulai saat usia mereka menginjak 17 tahun. Bagi mereka, operasi plastik tidak lagi dipandang sebagai tren ekstrem, melainkan sudah menjadi kebutuhan.

Seperti dikutip dari DailyMail, sekarang bentuk hidung seperti menara Eiffel sedang digandrungi para perempuan China. Menurut mereka, bentuk hidung seperti itu dapat mencurahkan rezeki.

Dibandingkan perempuan pekerja, ternyata jumlah pasien untuk bedah kosmetik hidung menara Eiffel ini didominasi dari kalangan mahasiswi. Tujuannya supaya lebih mudah memperoleh pekerjaan kelak jika mereka lulus kuliah!

Apa pasalnya? Ternyata salah satu syarat tak tertulis bagi perempuan dalam melamar kerja adalah harus memiliki paras cantik dan penampilan yang menarik. Nah, mayoritas calon pekerja yang lulus seleksi, menurut data statistik yang diperoleh dari sebuah sumber anonim, mengatakan bahwa mereka yang memiliki hidung seperti perempuan Eropa-lah yang memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan.

Maka, saat ini semakin banyak klinik kecantikan yang menawarkan prosedur operasi hidung menara Eiffel. Salah satunya adalah klinik Wang Xumings “Eiffel Tower”.

“Keindahan menara Eiffel menginspirasi kami, prosedur ini tidak menambahkan formula apa pun pada hidung dan wajah, tapi kami merekonstruksinya supaya lebih memikat sesuai pilihan pasien,” ujar Dokter Bedah Wang Xuming.

Masih menurut Dokter Wang, tekanan menjadi pengangguran di masa resesi seperti sekarang dan jumlah pengangguran yang tinggi sangat memengaruhi kepercayaan diri banyak mahasiswi. Namun, mereka yang beruntung memiliki wajah cantik, apalagi bila mirip-mirip perempuan Eropa, tak perlu khawatir, karena lebih cepat mendapatkan kerja. Kenyataan seperti inilah yang kemudian menumbuhkan obsesi perempuan untuk mengubah wajah alamiah dengan wajah artifisial.

Biaya yang diperlukan untuk memiliki hidung menara Eiffel relatif lebih mahal, yakni 7.400 euro atau senilai dengan Rp 240 jutaan. Meskipun begitu, pasien perempuan yang ingin melakukan pembedahan terus meningkat jumlahnya.

 

Sumber :Daily Mail/kompas.com

 

Editor : Maulana Lee
Perempuan China Terobsesi Memiliki Hidung seperti Menara Eiffel

BEIJING (AP) — The head of Taiwan's Nationalists reaffirmed the party's support for eventual unification with the mainland when he met Monday with Chinese President Xi Jinping as part of continuing rapprochement between the former bitter enemies.

Nationalist Party Chairman Eric Chu, a likely presidential candidate next year, also affirmed Taiwan's desire to join the proposed Chinese-led Asian Infrastructure Investment Bank during the meeting in Beijing. China claims Taiwan as its own territory and doesn't want the island to join using a name that might imply it is an independent country.

Chu's comments during his meeting with Xi were carried live on Hong Kong-based broadcaster Phoenix Television.

The Nationalists were driven to Taiwan by Mao Zedong's Communists during the Chinese civil war in 1949, leading to decades of hostility between the sides. Chu, who took over as party leader in January, is the third Nationalist chairman to visit the mainland and the first since 2009.

Relations between the communist-ruled mainland and the self-governing democratic island of Taiwan began to warm in the 1990s, partly out of their common opposition to Taiwan's formal independence from China, a position advocated by the island's Democratic Progressive Party.

Despite increasingly close economic ties, the prospect of political unification has grown increasingly unpopular on Taiwan, especially with younger voters. Opposition to the Nationalists' pro-China policies was seen as a driver behind heavy local electoral defeats for the party last year that led to Taiwanese President Ma Ying-jeou resigning as party chairman.

Taiwan party leader affirms eventual reunion with China

Artikel lainnya »