MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISATA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

Umroh Januari

saco-indonesia.com, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jambi telah berhasil menyita 700 butir pil yang diduga ekstasi dan tiga paket sabu dari tangan Jumali alias Wak Boy yang berusia (52) tahun . Wak Boy telah ditangkap Senin (6/1) sekitar pukul 15.00 WIB, dari tempatnya bekerja di RT 10 Solok Sipin.

"Wak Boy adalah seorang buruh bangunan yang beralamatkan di RT 02 Solok Sipin, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi," kata Kabid Pemberantasan BNNP Jambi, AKBP Hairul Sulahudin seperti dilansir Antara, Rabu (8/1).

Sementara itu untuk barang bukti pil yang diduga ekstasi dan serta sabu, telah ditemukan dari dua lokasi berbeda. Untuk tiga paket sabu yang ditemukan dalam lubang yang ada di pintu di tempat Wak Boy bekerja.

"Sementara itu 700 butir pil warna kuning logo P yang diduga ekstasi, telah ditemukan di dekat kandang ayam di rumah tersangka," kata Hairul.

Penangkapan terhadap Wak Boy bermula dari adanya informasi yang telah diterima oleh Tim Tindak Pengejaran BNNP Jambi, bahwa di lokasi penangkapan sering terjadi transaksi narkoba. Menindaklanjuti informasi tersebut, tim dari BNNP Jambi langsung melakukan penyelidikan dan setelah meyakini bahwa Wak Boy adalah target utama.

"Tersangka kita tangkap saat sedang bekerja," kata Hairul.

Saat ini pihaknya juga masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap Wak Boy yang dikenakan pasal 114 ayat (1) dan pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Selain barang bukti narkotika, lanjut Hairul, pihaknya juga berhasil mengamankan uang tunai jutaan rupiah.


Editor : Dian Sukmawati

SIMPAN 700 BUTIR EKSTASI DI KANDANG AYAM

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »