umroh mei

JAKARTA, Sako-Indonesia.com – Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri hingga kini belum berhasil menangkap terduga teroris Sigit Indrajit (23) yang tinggal di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Sigit terkait teroris yang ditangkap di Jalan Jenderal Sudirman dan mengontrak rumah di Jalan Bangka, Kemang, Jakarta Selatan.

“Tim di lapangan masih melakukan pengejaran terhadap SI yang kita ketahui berdomisili di Pamulang. Tim masih melakukan pengejaran yang diduga kuat bersama dua orang ikut proses rakit bom itu,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (6/5/2013).

Boy mengatakan Sigit ikut dalam proses perakitan bom. Dia juga telah dipantau lebih dari tiga bulan lalu untuk Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri.

“Dia ikut merakit bom bersama dua yang ditangkap di mampang,” kata Boy.

Sebelumnya, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri tak mendapati Sigit saat penggerebekan di rumah kontrakannya, Jalan Kenanga 4 Nomor 61, RT 5/3, Kelurahan Benda Baru, Kecamatan Pamulang Kota, Tangerang Selatan, Jumat (3/5/2013) dini hari. Dari kontrakan itu, polisi menyita buku-buku, handphone dan kamera. Kepolisian juga mengamankan empat wanita keluarga Sigit dan dibawa ke Markas Polsek Pamulang.

Keempatnya adalah ibu Sigit berinisial S (44 tahun), istrinya N (21 tahun), adiknya N (18), dan adiknya A (14 tahun). Setelah dilakukan pemeriksaan, keempatnya telah dipulangkan karena tidak ada indikasi keterlibatan dengan Sigit.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com, Sigit diduga telah dipersiapkan sebagai calon pengantin atau eksekutor bom bunuh diri.

Upaya penangkapan Sigit Jumat dini hari berkaitan dengan penangkapan sebelumnya di kawasan Jalan Sudirman dan Jalan Bangka, Mampang, Jakarta Selatan. Sebelumnya, di Jalan Sudirman, dekat pertigaan Bendungan Hilir, Densus 88 menangkap Sefa dan Achmad Taufik alias Ovie saat tengah mengendarai sepeda motor sekitar pukul 21.30 WIB.

Sefa diketahui sebagai perakit bom. Dari keduanya, disita lima bom pipa siap ledak. Dari penangkapan tersebut, Densus 88 melakukan penggeledahan di rumah indekos terduga teroris yang terletak di Jalan Bangka 2 F, Pela Mampang, Jakarta Selatan dan mengamankan istri Sefa.

 
Editor :Maulana Lee
Sumber:KOMPAS.com
Densus 88 Buru Terduga Teroris Pamulang Sigit

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »