Keistimewaan Umroh Ramadhan Bulan Penuh Ampunan

saco-indonesia.com, Setelah berhasil lolos dari tiga kali pengepungan, pentolan geng motor Briges berinisial TS yang berusia 30 tahun tewas akhirnya tumbang, ditembak Timsus Sat Reskrim Polres Ciamhi, di Margasih, Cimahi, Selasa (28/1) Subuh.

Enam motor dan senjata api yang selalu ditenteng sang ‘komandan’ telah berhasil diamankan. ‘Komandan’ geng yang telah tercatat 30 kali merampas motor tak berdaya saat dua pelor polisi bersarang di dadanya.

Kasat Reskrim Polres Cimahi AkKP Suparma, kepada Pos Kota, telah menjelaskan, aksi penembakan terhadap komandan geng motor Briges asal Kopo Kabupaten Bandung berlangsung Rabu dini hari lalu.

Tempat tersangka bersumbunyi dalam pekan ini sudah tiga kali digerebek namun sang Komandan telah berhasil meloloskan diri. Namun, Selasa dini hari, sang komandan tak bisa kabur saat tempat bersumbunyinya dikepung oleh polisi.

“Dalam keadaan terdesak dia juga masih melawan anggota dengan menggunakan pistol. Kami langsung menembaknya,“ ujar Suparma.

Kasat mengakui, TS sudah tiga tahun menjadi buronan polisi. Meski dia berdomisili di Kopo – Kabupaten Bandung,  namun melakukan lejahatanya di wilayah Bandung Raya.

Modusnya, memepet motor korban, menguras harta bendanya.“Jika korban melawan dia membunuhnya. Maka, kami juga akan tetap menyikat pentolan pentolan geng motor yang brutal,“ tandasnya.

ENAM JAMBRET

Sementara itu, di Kota Bandung, enam jambret yang biasa beraksi di tengah malam telah ditangkap oleh tim khusus Polsek Bandung Wetan, Senin (27/1) malam. Satu diantaranya, DN telah ditebak betisnya lantaran kabur saat mau ditangkap.

Lima jambret lainya yang ditangkap dikenali sebagai Dadang Budiawan alias Bako, Beri Suryadi alias Abey, Adam Dani Nugraha alias Benuy, Vikry Septian alias Ebow, Gita Kurniawansyah alias Saprol dan Ira Sunandar alias Kontol. Tersangka D, H dan E masih DPO.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Mashudi telah menyebutkan, awalnya petugas telah menangkap tangan dua orang tersangka penjambretan saat beraksi di Jalan RE Martadinata, Bandung. Setelah dilakukan pemeriksaan berkembang kjeempat tersangka lainya.

“Modusnya mereka memepet korban di tempat-tempat sepi, dan mengambil barang berharganya. Bila korban  melawan, tersangka  tak segan untuk melukainya, ” bebernya.


Editor : Dian Sukmawati

PENTOLAN GENG MOTOR TERKAPAR DIBEDIL

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »