MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISTA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

travel haji jakarta

saco-indonesia.com, Tempat prostitusi di Jawa Timur saat ini masih marak. Untuk dapat menekan berkembangnya tempat-tempat lokalisasi tersebut, MUI Jawa Timur telah membentuk Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDIAL). Mereka telah ditugaskan untuk berdakwah di area prostitusi.

"Untuk bisa mengentaskan para WTS dan mucikari menuju profesi dan alih fungsi, IDIAL telah melakukan pendekatan religiusitas keagamaan, yaitu dengan dakwah persuasif, integratif dan solutif," kata Ketua IDIAL Jawa Timur, Sunarto dalam bedah buku: "Kiai Prostitusi dan Pelatihan Da'i Relawan Mandiri" di Auditorium Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Kamis (19/12).

Sunarto juga mengatakan, pelatihan ini juga sudah merambah ke seluruh pelosok kabupaten dan kota di Jawa Timur. "Ini kali ketiga, pelatihan sebelumnya hanya lingkup Surabaya, tapi sekarang IDIAL telah merekrut relawan di seluruh daerah se-Jawa Timur," katanya.

Untuk Surabaya sendiri, kata Sunarto, relawan dan dai yang disebar di enam lokalisasi sudah berhasil menutup empat lokalisasi, bekerjasama dengan Pemkot Surabaya dan Pemprov Jawa Timur. "Sekarang, di Surabaya yang sudah ditutup di antaranya, Dupak Bangunsari, Tambak Asri, dan Klakah Rejo. Sememi sebentar lagi yang dilanjutkan Dolly dan Jarak," ujarnya.

Sejauh ini sudah ada 300 dai. Mereka juga sudah dibekali dengan pelatihan khusus. "Mereka (peserta pelatihan) juga diharapkan akan bisa menjadi juru dakwah dan relawan mandiri yang betul-betul dapat memahami karakteristik, situasi dan kondisi di lokalisasi daerah mereka masing-masing," harap Sunarto.

Sunarto menulis buku ini karena terinspirasi dari perjuangan Khoiron Syu'aeb. Menurutnya, Khoirun sebagai sosok dai yang telah malang melintang di dunia pembinaan prostitusi.

"Buku ini, semoga bisa juga menjadi inspirasi bagi dai-dai baru yang siap diterjunkan di daerahnya masing-masing, khususnya di wilayah prostitusi," harapnya.

Kiai Khoiron sendiri, masih menurut Sunarto, tidak pernah merasa keberatan dijuluki sebagai Kiai Prostitusi. Dengan begitu, ia lebih mudah berdakwah di tempat prostitusi.

"Kiprah dakwahnya telah terbukti lebih ampuh dan efektif dan bisa dijadikan sebagai contoh untuk menangani prostitusi. Sudah ada bukti, seperti Hj Narti misalnya, yang telah memulai karirnya sebagai WTS, kemudian mucikari yang kemudian berhasil dientaskan oleh Kiai Khoiron, bahkan sudah berhaji dan membuka bisnis ekspedisi sekarang," ungkapnya.

Kini, Narti juga berperan aktif menjadi relawan dan mengajak eks WTS terlibat dalam pengajian rutin di daerah Dupak Bangunsari. "Diharapkan, ada banyak lagi Hj Narti-Hj Narti lain. Meski nantinya usaha yang telah mereka dirikan pasca penutupan lokalisasi tidak besar, dengan modal yang telah disediakan oleh Kementerian Sosial dan pemerintah serta pembinaan rutin, mereka juga bisa mengembangkan usaha yang mulanya kecil menjadi besar," harap Sunarto.


Editor : Dian Sukmawati

MUI DI JAWA TIMUR SEBAR DAI MUDA
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »