MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISATA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

ITINERARY PERJALANAN UMROH REGULER 9 Hari

Saco-Indonesia.com - Orang kebanyakan bahkan seluruh dunia menyatakan perang terhadap rokok, tidak demikian dengan ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Tidak seperti saat melarang pembagian kondom, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) justru tidak mendukung kampanye Kemenkes untuk menekan angka perokok di Indonesia.

Berbagai pembenaran dan alasan dikemukakan oleh PBNU. Menurut, staf dewan halal PBNU, Kiai Arwani Faisal, semua kiai NU pun telah sepakat untuk memperbolehkan pengikutnya menghisap rokok.

Bahkan, pihaknya menegaskan tidak akan mengharamkan rokok hingga kiamat. "Rokok itu mubah, sampai kiamat ulama NU ga akan mengharamkan rokok. Untuk penderita jantung rokok haram. Tapi kalau rokok bikin semangat enggak haram lagi," kata dia sambil tertawa saat membawakan materi di diskusi publik 'Kampanye kondom, anti rokok: Indah tapi manipulatif,' di kantor PBNU, Jakarta, Senin (16/12).

Berikut empat alasan PBNU tak mau haramkan rokok hingga kiamat seperti dirangkum

1. Rokok tidak bahaya

Staf dewan halal PBNU, Kiai Arwani Faisal mengatakan penetapan rokok tidak berbahaya sudah diperhitungkan masak-masak ketika muktamar NU. Bahkan ada dalil agama yang membenarkan kalau rokok ini tidak terlalu berbahaya sehingga hukumnya mubah.

"Harus dilihat kadarnya. Kalau Ma'syadahnya (kerugian) besar hukumnya haram. Rokok kan sekali hisap tidak langsung pingsan," kata dia saat membawakan materi di diskusi publik 'Kampanye kondom, anti rokok: Indah tapi manipulatif,' di kantor PBNU, Jakarta, Senin (16/12).

2. Merokok, kiai sepuh NU masih panjang umur

Sebagai perokok aktif, para pembesar NU mengkritik kampanye antirokok yang digalakkan Kemenkes. Menurut PBNU, rokok tidak punya bahaya yang berlebihan terhadap kesehatan manusia sehingga tidak perlu dilarang berlebihan.

"Kok kejam langsung bilang haram, ulama NU bilang enggak haram. Karena puluhan tahun merokok sehat-sehat saja. Kan tingkat bahayanya dilihat," jelas Staf dewan halal PBNU, KH. Arwani Faisal di diskusi publik 'Kampanye kondom, anti rokok : Indah tapi manipulatif,' di kantor PBNU, Jakarta, Senin (16/12).

3. Rokok tidak haram

PBNU tidak mendukung kampanye Kemenkes untuk menekan angka perokok di Indonesia. Menurut, Staf dewan halal PBNU, Arwani Faisal, rokok tidaklah haram.

"Rokok itu mubah, sampai kiamat ulama NU ga akan mengharamkan rokok. Untuk penderita jantung rokok haram. Tapi kalau rokok bikin semangat enggak haram lagi," kata dia sambil tertawa saat membawakan materi di diskusi publik 'Kampanye kondom, antirokok: Indah tapi manipulatif,' di kantor PBNU, Jakarta, Senin (16/12).

Dia juga mengklaim kalau kiai NU sebenarnya mendukung upaya meminimalisir rokok. Itu dibuktikan dengan penetapan hukum 'mubah' untuk? pengikut PBNU.

"Kiai gak berarti menerima data kesehatan. Rokok mubah karena menerima data kesehatan. Kalau enggak nerima, akan menetapkan hukum rokok wajib. Itu justru karena ngerti itu bahaya," katanya.

4. Rokok kretek sehat

Ketidaksetujuan NU terhadap kebijakan Menkes semakin meruncing. Seolah membalas kampanye antirokok menkes, kini NU menggalakkan rokok alami alias kretek.

"Rokok ini (kretek) bermanfaat untuk kita yang berbahan alami. Yang alamiah selalu lebih baik. Alam itu baik untuk manusia tinggal pengetahuan kita." jelas Profesor Universitas Brawijaya, Sutiman di kantor PBNU Jakarta, (16/12).

Alasannya, dibandingkan dengan rokok lainnya, rokok jenis kretek tidak punya bahan kimia berlebih.

"Ini kan dari bahan alami dan kalau dibakar elemen pecah sendiri. Kalau daun dia enggak berbahaya. Menurut saya komponen (kimia) semakin sedikit semakin sehat," tutur dia.

Editor : Liwon Maulana

Sumber : Merdeka.com

Ada Empat Alasan PBNU tak haramkan rokok sampai kiamat
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »