ITINERARY PERJALANAN UMROH REGULER 9hari LANDING MADINAH

CARA : Harga Mesin Ayakan Pasir / Pengayak Pasir adalah merupakan alat tambang yang digunakan khusus untuk menyaring pasir, seperti silica dan lain jenis pasir lainnya. Kalau dulu orang hanya menggunakan cara manual dengan dilakukan oleh 2 orang yang saling berhadapan dengan masing-masing memegang kedua sudut pengayak tersebut sambil digoyang-goyangkan. Tapi sekarang tidak lagi, ayakan pasir atau yang dikenal dalam bahasa bugis dengan Conveyor pasir sudah bisa dijalankan oleh mesin dengan kapasitas yang jauh lebih besar dari yang cara manual.

Sistem kerja mesin ayakan pasir hampir sama dengan cara manual yang dijalankan oleh dua orang pekerja sebagaimana dijelaskan di atas, hanya saja dengan alat modern ini pengerjaannya jauh lebih cepat dan kita tidak perlu repot mengeluarkan tenaga besar untuk mengayak pasir yang bertumpuk, apalagi untuk kebutuhan pertambangan dan bisnis bahan bangunan. Mengapa demikian, karena alat ini dijalankan dengan mesin dengan kecepatan dan hasil produksi yang bisa disetting oleh pemiliknya. Tapi perlu diperhatikan bahwa dalam menjalankan mesin ini harus dengan teknik dan panduan lengkap dari penyedianya agar hasil dan ketahanan mesin bisa dipertahankan untuk jangka waktu yang lebih lama.

Harga Mesin Ayakan Pasir / Pengayak Pasir by Caramaster
Mesin Ayakan Pasir / Pengayak Pasir

Dilihat dari gambar mesin Pengayak Pasir yang anda saksikan di atas sudah memiliki spesifikasi : Belt Conveyor, Vibrating Screener, Roda Pemindahan Lokasi Pengayakan, serta Diesel Genset. Dengan berbagai kelengkapan tersbut maka tentunya akan sangat memudahkan kita dalam mengoperasikannya sebab dapat mobile atau dipindahkan sesuai dengan tempat akan dilakukannya pengayakan pasir

Kelebihan lain dari mesin ini adalah dimana hasil ayak yang dihasilkan bisa seragam besaran butirannya. Dan inilah mungkin yang sangat kita butuhkan dari hasil produksi pasir yang kita usahakan. Selain itu pemakaian listriknya juga cenderung hemat sehingga mengurangi biaya pengeluaran produksi serta tidak cepat habis saat digunakan. Di indonesia sendiri sudah banyak yang memesannya dan bahkan telah membeli dan menggunakan barangnya.

Di pasaran mesin dengan kapasitas seperti yang kami terangkan biasanya dibandrol di kisaran Rp. 120.000.000 (seratus dua puluh jutaan) dengan tambahan spek seperti motor listrik 10 HP, dengan lebar alat pengayak yaitu 1,6 x 4,5 meter untuk menghasilkan hasil penapisan pasir yang banyak sekaligus. Dan untuk mengantisipasi jika disekitar mesin tidak ditemukan saluran listrik langsung maka dilengkapi juga dengan mesin genset yang bermesin diesel berkekuatan 30 KVA serta tentunya juga untuk memudahkan pemindahan ke berbagai tempat dan medan yang berbeda maka sudah dilengkapi dengan roda ban.

HARGA MESIN AYAKAN PASIR / PENGAYAK PASIR
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »