MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISATA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

Keistimewaan Umroh Ramadhan Bulan Penuh Ampunan

Saco-Indonesia.com - Penyakit cacar air merupakan salah satu jenis penyakit yang pasti akan menyerang siapapun dan pada usia berapa pun. Penyakit ini disebabkan oleh virus varicella-zoster (VZV) dan menyerang sistem imunitas tubuh.

Walaupun penyakit ini mampu menyerang pada usia berapa pun, namun kebanyakan anak-anaklah yang banyak terserang penyakit ini. Sebab saat masih anak-anak, sistem kekebalan tubuh masih belum sempurna.

Agar penyakit ini tidak bertambah parah, tentu saja Anda harus melakukan perawatan yang baik. Salah satunya adalah berkaitan dengan makanan. Berikut adalah makanan yang sebaiknya tidak diberikan pada anak yang terserang penyakit cacar air.

Produk olahan susu
Hindari memberikan produk olahan susu seperi keju, es krim, dan mentega. Mengonsumsi produk olahan susu ketika terserang penyakit cacar air justru akan membuat kulit menjadi berminyak.

Daging
Mengonsumsi daging akan meningkatkan suhu tubuh dan malah akan memperparah penyakit cacar air yang diderita.

Makanan cepat saji
Makanan cepat saji adalah makanan yang paling dilarang untuk dikonsumsi ketika terkena cacar air. Makanan cepat saji hanya akan membuat penyakit bertambah parah.

Jeruk
Jeruk adalah salah satu buah yang seharusnya dihindari oleh penderita cacar air. Sebab jeruk mengandung asam yang akan mengiritasi lukanya menjadi melepuh dan semakin membuat gatal.

Makanan pedas
Makanan pedas dan berbumbu juga sebaiknya dihindari ketika menderita cacar air. Sebab makanan ini akan membuat tubuh penderita menjadi tidak nyaman.

Makanan bergaram tinggi
Kandungan garam yang ada di dalam makanan ini akan memperparah gatal cacar air serta mampu menimbulkan bekas luka yang buruk.

Penyakit cacar air dapat semakin parah tergantung pada makanan yang dikonsumsi. Oleh karena itu sebaiknya hindari pemberian makanan di atas pada penderita cacar.

Sumber : Merdeka.com

Editor : Maulana Lee

Buah hati terserang cacar air? Sebaiknya jangan beri 6 makanan ini

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »