Daftar Haji Onh Plus Paket Ongkos Biaya Murah

Diabetes merupakan keadaan di mana tubuh Anda gagal untuk dapat menghasilkan insulin atau menyerap insulin. Kedua hal ini akan meningkatkan kadar gula di dalam darah yang dapat membahayakan kesehatan tubuh Anda.

Saat ini jumlah penderita diabetes telah meningkat secara drastis. Bahkan anak-anak pun juga dapat terserang penyakit ini. Sebagian besar anak-anak menderita diabetes tipe 1 yang dapat berubah menjadi diabetes tipe 2 apabila tidak terdeteksi gejalanya secara dini.

Berikut adalah gejala dini penyakit diabetes pada anak :

Mudah haus
Salah satu gejala umum dari penyakit diabetes pada anak adalah rasa haus yang meningkat. Hal ini telah disebabkan karena terjadinya peningkatan kadar gula darah. Mereka juga akan lebih suka mengonsumsi minuman dingin yang manis.

Sering buang air kecil
Karena mereka sering minum, maka anak-anak juga akan sering buang air kecil.

Selalu lapar
Selain sering haus, anak-anak juga akan mudah lapar. Sebab tidak adanya insulin untuk mentransfer gula di dalam tubuh sehingga proses ini akan menghabiskan energi mereka dan membuat cepat lapar.

Penurunan berat badan yang tidak sehat
Meskipun sering makan, namun anak-anak yang menderita diabetes akan cenderung kehilangan berat badan secara drastis.

Selalu lelah
Seorang pasien diabetes juga akan mudah lelah sebab energi mereka terpakai untuk dapat mentransfer gula ke sel tubuh.

Masalah penglihatan
Karena kadar gula darah cukup tinggi, maka cairan di dalam tubuh pun juga akan meningkat. Termasuk cairan di dalam mata mereka. Hal inilah yang kemudian dapat menyebabkan masalah penglihatan.

Infeksi ragi
Gejala diabetes juga dapat menyebabkan infeksi ragi organ vital anak-anak terutama anak perempuan. Hal ini pulalah yang akan menyebabkan ruam popok.

Masalah perilaku
Gejala diabetes mampu mempengaruhi perilaku anak. Mereka jadi mudah labil dan mudah merasa jengkel. Hal ini telah terjadi karena peningkatan kadar gula darah yang tinggi.

Apakah Anda menemukan gejala tersebut di dalam tubuh buah hati Anda? Jika Anda menemukannya, sebaiknya segera berkonsultasilah pada dokter.

Kenali 8 gejala dini diabetes pada anak
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »