Keistimewaan Umroh Ramadhan Bulan Penuh Ampunan

Besi beton Ulir dan Besi beton Polos adalah produk yang paling banyak dicari oleh para pelaku bisnis besi beton dan juga para pengembang atau kontraktor. Hanya saja, besi beton polos lebih banyak dipakai terutama untuk konstruksi bangunan berukuran kecil, dan selain itu juga untuk kepentingan umum  atau nonkonstruksi

Besi Beton Polos dan Ulir

Untuk membuat beton bertulang yang berkualiatas diperlukan besi tulangan yang memiliki standard mutu tinggi. Besi beton yang bermutu memiliki logo  SNI , pada umumnya besi yang memiliki logo SNI mempunyai  diameter dan panjang yang sesuai dengan ukuranya. jika kita membeli besi dengan diameter 12mm yang ber SNI maka kurang lebih diameternya sesuai 12mm dan panjangnya 12m akan tetapi dipasaran  ukurannya belum tentu demikian masi ada kurang-kurangnya sedikit. Di pasaran untuk mendapatkan besi beton yang ukurannya sesuai dengan yang diperhitungkan biasanya menggunakan kualitas A/asli.

Versi kedua adalah besi beton dengan kualitas B atau bisa disebut dengan ukuran B (banci), biasanya besi ini memiliki ukuran jauh sesuai setandard yang tertera. Jika kita membeli besi ukuran 12 mm yang kita dapat biasanya besi dengan ukuran 10mm, besi 8 mm menjadi 6mm, kurang lebih demikian juga panjangnya bisa hanya 10 mm/11m.

Besi beton bertulang pada kontruksi biasa di bedakan menjadi 2 macam yaitu besi polos dan besi beton ulir, besi beton ulir memiliki daya dukung kontruksi yang lebih besar dibandingkan besi beton polos pada ukuran dimensi yang sama.

Kami menyediakan Besi beton Polos dan Besi beton Ulir dengan ukuran dan Berat sbb:

- Besi Ulir   D 10mm, panjang 12m  (7,4kg)
- Besi Ulir   D 13mm, panjang 12m  (12,5kg)
- Besi Ulir   D 16mm, panjang 12m  (19kg)
- Besi Ulir   D 19mm, panjang 12m  (26,8kg)
- Besi Ulir   D 22mm  panjang 12m  (35,8kg)
- Besi Ulir   D 25mm  panjang 12m  (46,2kg)
- Besi Ulir   D 29mm  panjang 12m  (62,3kg)
- Besi Ulir   D 32mm  panjang 12m  (75,72kg)
- Besi Ulir   D 36mm  panjang 12m  (95,88kg)

- Besi Beton Polos  Ø 6mm, panjang 12m  (2,66kg)
- Besi Beton Polos  Ø 8mm, panjang 12m  (4,47kg)
- Besi Beton Polos  Ø 9mm, panjang 12m  (6kg)
- Besi Beton Polos  Ø 10mm, panjang 12m  (7,4kg)
- Besi Beton Polos  Ø 12mm, panjang 12m  (10,66kg)
- Besi Beton Polos  Ø 13mm, panjang 12m  (12,48kg)
- Besi Beton Polos  Ø 16mm, panjang 12m  (18,96kg)
- Besi Beton Polos  Ø 19mm, panjang 12m  (26,76kg)
- Besi Beton Polos  Ø 22mm, panjang 12m  (35,76kg)
- Besi Beton Polos  Ø 25mm, panjang 12m  (46,20kg)
- Besi Beton Polos  Ø 28mm, panjang 12m  (57,96kg)
- Besi Beton Polos  Ø 32mm, panjang 12m  (75,72kg)

 

BESI BETON SNI JENIS ULIR DAN POLOS

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »