MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISTA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

Umroh November

GEMASHAFAMARWA, JAKARTA — Momentum tahun baru ini juga berselaras dengan masa liburan sekolah. Tak heran, kata dia, peminat berumrah dalam satu rombongan keluarga juga meningkat. Walau tak mengantungi data detail berapa komposisi jumlah jamaah keluarga maupun perorangan namun ia sangat yakin momentum tahun baru dan liburan sekolah memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan jamaah umrah pada musim ini.

Fuad Hasan Masyur, ketua umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh Republik Indonesia (AMPHURI) meneropong dengan penuh keyakinan, hingga tahun depan animo masyarakat untuk pergi umrah akan bisa meningkat pesat. Ia memproyeksi akan ada peningkatan sekitar 30 persen untuk jamaah umrah pada 2014. ”Peningkatan itu tentunya sudah mulai terlihat mulai Desember ini,” kata dia, baru-baru ini.

Pendapat serupa juga diaminkan oleh Baluki Ahmad, ketua umum Himpunan Penyelenggara Umroh dan Haji (Himpuh). Ia yakin jumlah jamaah yang hendak umrah pada tahun ini akan lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu. ”Saya memperkirakan pada 2014 ini akan bisa mencapai 800 ribu jamaah,” katanya

Peningkatan jamaah umrah ini, kata Baluki, memang sudah mulai tampak sejak Desember ini. Bulan Desember tahun ini merupakan awal dari musim umrah 2014. Hingga awal tahun depan, kata Baluki, para pengelola travel umrah sudah mengalami kebanjiran calon jamaah. Ia memprediksi peningkatan terbesar kemungkinan terjadi sekitar Juni atau saat memasuki masa liburan sekolah. ”Tak ketinggalan juga pada bulan Ramadhan, jamaah umrah akan lebih banyak lagi,” katanya.

Dengan adanya momentum tahun baru ini, Baluki dan Fuad meyakini para pengelola travel umrah tentunya sudah menyiapkan strategi memikat agar perayaan pergantian tahun menjadi lebih bermakna. ”Ini akan menjadi perayaan tahun baru yang memberi warna bagi kehidupan jamaah. Ini adalah pengalaman yang jarang didapat, tentunya,” kata Baluki menegaskan.

Sumber : http://www.gemashafamarwa.com

Baca Artikel Lainnya :ARSITEKTUR PERTAMA DALAM SEJARAH ISLAM

JAMAAH UMROH DI TAHUN 2014 MENINGKAT
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »