ITINERARY PERJALANAN UMROH REGULER 10HARI JUMATAIN

saco-indonesia.com, Mantan Kepala Kesbanglinmas Kepulauan Aru, Maluku, Gerson Gainau telah hilang akibat tenggelamnya perahu tradisional yang telah ditumpangi dalam pelayaran dari Desa Tunggu tujuan Dobo, ibu kota Kabupaten setempat, Minggu (26/1) petang. Pencarian hingga saaat ini masih dilakukan oleh tim SAR.

"Korban hingga kini belum dapat ditemukan, akibat upaya pencarian terhambat gelombang tinggi dan angin kencang," kata sumber Antara di Dobo, Ongky Nanulaitta, Senin (27/1).

Upaya pencarian yang intensif telah dilakukan sejak Minggu petang (26/1) yang terhambat oleh gelombang hingga ketinggian lima meter dan angin dengan kecepatan lebih dari 35 km per jam.

Pencarian yang dikoordinir Lanal Dobo dengan telah melibatkan masyarakat pesisir itu kesulitan karena hanya dengan mengandalkan perahu cepat (speedboat) maupun perahu tradisional.

Ongky juga mengemukakan, korban awalnya telah menumpang speedboat dari Desa Tunggu ke Dobo. Namun, dalam pelayaran armada cepat itu mogok karena adanya gangguan mesin lalu menumpang perahu tradisional. Nahas, perahu tradisional tersebut dihantam oleh gelombang tinggi sehingga terbalik dan Gerson terlepas pegangannya dari armada laut masyarakat pesisir tersebut.

Sedangkan, enam lainnya tetap berpegang di perahu tradisional, sehingga selamat dari dampak musim pancaroba yang telah melanda Tanah Air.

Sebelumnya kapal kargo KM Obelik yang karam di perairan Dobo, sejak 9 Januari 2014 hingga saat ini belum dievakuasi.

Kapal tu awalnya karam di perairan desa Wangel. Namun, karena terpaan gelombang hingga lima meter dan arus deras sehingga saat ini tergeser ke perairan Desa Wokam.


Editor : Dian Sukmawati

MANTAN PEJABAT DI MALUKU HILANG TENGGELAM

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »