travel haji jakarta

sco-indonesia.com, Cuaca buruk di lautan telah membuat kembali menyebabkan kapal motor (KM) Putra Waras tenggelam. Kapal nelayan Brebes, Jawa Tengah, itu telah dikabarkan karam di perairan Lampung. Akibatnya, satu nelayan dikabarkan tewas, empat selamat dan empat lainnya hilang.

Kapal itu milik Romli yang berusia (44) tahun warga Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Informasi tenggelamnya kapal tersebut telah diketahui setelah salah satu nelayan korban selamat Faturokhman yang berusia (31) tahun , telah berhasil dipulangkan ke kampung halamannya di Brebes.

Faturokhman juga mengungkapkan korban tewas adalah Deni yang berusia (26) tahun . Sementara korban selamat dan kini pulang ke desanya adalah, Romli; pemilik kapal, Nandi, Taufik dan Faturokhman.

Sementara itu korban yang hilang dan sampai saat ini masih dalam proses pencarian adalah Toto (27), Ali (28), Sofani (27) dan Purwanto (18).

Faturokhman juga menceritakan, tenggelamnya KM Putra Waras bermula saat rombongan dalam satu kapal telah mencari ikan di perairan Pulau Dua Provinsi Lampung pada Kamis(16/1) lalu. "Tiba-tiba cuaca memburuk, dan datang ombak besar," tuturnya.
 
Kapal dengan 9 orang ABK itu awalnya terombang-ambing kemudian langsung diterjang oleh ombak besar hingga tenggelam.

"Saya berangkat hari Kamis pagi dari Pelabuhan Kronjo. Sekitar pukul 13.00 WIB, kapal tiba di perairan Lampung, tapi tiba-tiba ombak besar telah menghantam kapal hingga kapal terbalik," ujarnya, Jumat (24/1).

Faturokhman juga menjelaskan, saat kejadian itu kapal telah terbalik hingga posisinya tengkurap. Semula sembilan ABK sempat naik di atas kapal untuk dapat menghindari tenggelam.

Namun, 5 Anak Buah Kapal (ABK) yang lain tidak kuat berpegangan kapal hingga terbawa arus laut. Sementara, 4 ABK lain bisa selamat, meski harus berpegangan kapal yang tengkurap hingga tiga hari.

"Saya dan 3 rekan lainnya telah terombang-ambing gelombang laut selama 3 hari tanpa makan, dan tanpa minum. Baru di hari ke 3, ada kapal jenis tongkang yang telah mengetahui keberadaan kami lalu menolong," terang Faturokhman.

Tokoh masyarakat Desa Kluwut A Mustaqin juga mengatakan, informasi terakhir telah ditemukan dua ABK lagi. Namun, masih belum diketahui identitasnya. Keduanya ditemukan tewas dan jenazahnya kini berada di RSCM Jakarta.

"Kami juga masih terus memantau perkembangannya. Kini masih tinggal dua orang yang hilang," tuturnya.


Editor : Dian Sukmawati

KAPAL NELAYAN KM PUTRA WARAS TENGGELAM

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »