umroh oktober

saco-indonesia.com, Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany, telah menjalani pemeriksaan selama hampir 11 jam terkait dalam penyidikan kasus proyek pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten.  
 
Airin telah menolak membuka materi pemeriksaan dengan berkelit bahwa detail kasus proyek alkes Banten sebaiknya ditanyakan langsung kepada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi.
 
"Untuk prosesnya mungkin nanti bisa ditanya ke penyidik," kata dia usai diperiksa KPK, Jakarta Selatan, Selasa (11/2/2014) lalu.
 
Airin keluar dari Gedung KPK, pukul 20.53 malam WIB. Meski cukup lama diperiksa oleh KPK, Airin juga tetap terlihat cantik. Begitu keluar dari Gedung KPK, Airin juga telah mengumbar sekilas senyum kepada puluhan wartawan yang menunggunya.
 
Tidak terlihat kesan lelah di wajah Airin. Ia juga masih terlihat segar seperti saat pertama kali datang memenuhi jadwal pemeriksaan pada pukul 10.03 WIB.
 
KPK telah memeriksa Airin sebagai saksi bagi dugaan korupsi beraroma pemerasan yang telah dilakukan oleh Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, di proyek pengadaan alat kesehatan. Selebihnya, Airin telah memilih segera masuk ke dalam "Terimakasih ya. Terimakasih," ujar Airin seraya masuk ke dalam mobil Toyota Innova B 1043 NKO.
 
Ratu Atut Chosiyah saat ini telah ditahan di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Ia semula ditetapkan sebagai tersangka suap dalam penanganan sengketa Pemilihan Kepala Daerah Lebak, Banten, di Mahkamah Konstitusi.
 
Selanjutnya, Ratu Atut disangka telah menyalahgunakan wewenang hingga mengakibatkan kerugian pada keuangan negara di proyek alat kesehatan Banten. Terakhir, Ratu Atut disangka telah menerima gratifikasi bernuansa pemerasan di proyek alkes.


Editor : Dian Sukmawati

11 JAM "DIGARAP" PENYIDIK KPK,

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »