Promo Umroh 2017  CP. 08111-34-1212  Tgl 28 April Biaya Rp 18,5 juta (10hari) tgl 7 Mei  biaya Rp 19 juta (9 hari) |  Tgl 26 April Biaya Rp22,8 juta (12hari)

diposkan pada : 27-03-2017 00:04:12

Sejarah Haji dan Umroh dalam Islam berawal dari ribuan tahun yang lalu. Sejak pada masa Nabi Ibrahim AS (1861 – 1686 SM), yang juga merupakan keturunan dari Sam Bin Nuh AS (3900 – 2900 SM). Literatur-literatur yang ada dalam khasanah Islam menerangkan bahwa Nabi Ibrahim AS lahir di Ur-Kasdim, yang merupakan sebuah kota penting di Mesopotamia, selanjutnya Nabi Ibrahim juga tinggal di sebuah lembah yang ada di negeri Syam.

Ketika sudah memasuki usia yang senja, Nabi Ibrahim belum juga dikaruniai keturunan. Sang istri (Sarah) sangat sedih ketika melihat keadaan ini dan meminta kepada Nabi Ibrahim untuk menikahi Hajar. Lalu, dari Hajar inilah Allah mengkaruniai Nabi Ibrahim seorang anak yang di beri nama Ismail. Dan Sarah pun tidak mampu memendam rasa pilunya karena tidak kunjung mendapatkan keturunan sepanjang perkawinannya dengan Nabi Ibrahim AS.

Nabi Ibrahim AS kemudian mengadukan permasalahannya kepada Allah SWT. Lalu Allah perintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Ismail anaknya bersama Hajar untuk menjauh dari Sarah. Nabi Ibrahimpun bertanya kepada Allah : “Ya Allah…kemana aku harus membawa keluargaku ini?”

Allah berfirman : “Bawalah mereka ke tanah Haram-Ku dan dalam pengawasan-Ku, yang merupakan daratan pertama yang Aku ciptakan di permukaan bumi yaitu Mekah.”

Lalu malaikat Jibril AS turun kebumi dengan membawa kendaraan yang cepat. Kemudian malaikat Jibril membawa Hajar, Ismail dan Nabi Ibrahim AS. Setiap kali Nabi Ibrahim AS melewati suatu tempat yang memiliki ladang kurma yang sangat subur, ia selalu meminta Jibril untuk berhenti sejenak ditempat itu. Tetapi Jibril selalu menjawab, “teruskan lagi dan teruskan lagi”. Sehingga akhirnya sampailah ke tujuan di Mekah dan mereka di posisi Ka’bah, berada dibawah sebuah pohon yang cukup melindungi Hajar dan anaknya Ismail dari terik matahari.

Selanjutnya Nabi Ibrahim AS bermaksud pulang kembali ke negeri Syam untuk menemui Sarah yang merupakan istri pertamanya. Hajar jadi merasa sedih karena akan ditinggalkan oleh suami tercintanya. “Mengapa menempatkan kami disini. Tempat yang sunyi dari manusia , hanya ada gurun pasir, tiada air dan tiada tumbuh-tumbuhan?” tanya Hajar sambil memeluk erat bayinya. Ibrahim pun menjawab: “Sesungguhnya Allah yang memerintahkanku untuk menempatkan kalian di sini”.

Lalu Ibrahim bergegas pergi meninggalkan mereka. Sehingga sampai di bukit Kuday yang  juga mempunyai lembah, Ibrahim berhenti sejenak dan melihat kepada keluarga yang ditinggalkannya. Dia lalu berdoa, seperti yang diabadikan dalam Al Qur’an.

Allah berfirman mengulangi doa Nabi Ibrahim AS : ” Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim : 37)

Setelah Nabi Ibrahim AS memutuskan pergi, tinggallah mereka berdua, Hajar bersama bayinya Ismail. Ketika sinar matahari mulai menyengat, bayi Ismail terus menangis kahausan. hajarpun panik sambil mencari air. naluri keibuannya berusaha gigih dalam mencari air. Awalnya hajar naik ke bukit Shafa, tetapi tidak juga menemukan air. Lalu ia pergi lagi ke bukit Marwa dan disanapun tidak juga ditemukannya air. Hajar makain  panik dan putus asa sehingga tidak menyadari bahwa telah tujuh kali ia berlarli bolak balik antara bukit Shafa dan Marwa. Namun ia tetap tidak juga menemukan air diantara dua tempat tersebut.

Akhirnya dari bukit Marwa itulah, hajar melihat ke arah Ismail. Dia sangat heran, bahwa bayinya dengan tiba-tiba berhenti menangis. Hajarpun melihat air mengalir dari bawah kaki Ismail. Hajar berlari dengan bahagia ke arah tempat bayinya. Dia berusaha terus menggali pasir itu, yang membendung air yang mengalir tersebut sambil melafadzkan kalimat “ZAM…ZAM” (menampung). Sejak pada saat itu hingga sekarang, mata air tersebut dikenal di seluruh  dunia sebagai sumur  Zam Zam.

Berselang beberapa waktu kemudian, lewatlah kabilah Jurhum di sekitar tempat tersebut. Ketika berada di bukit Arafah, mereka melihat ada kerumunan burung-burung yang beterbangan di atas udara. Mereka yakin disana pasti tersedia sumber air. Mereka segera mendekati tempat itu.

Setelah sampai, mereka begitu terkesima melihat seorang wanita bersama bayinya duduk di bawah pohon dekat sumber air tersebut. Kepala suku Jurhum bertanya kepada Hajar : “Siapakah anda dan siapakah bayi mungil yang ada dalam gendongan anda itu?” Hajar pun menjawab : ” Saya adalah ibu dari bayi ini. Ia anak kandung dari Ibrahin AS yang diperintahkan oleh Tuhannya untuk menempatkan kami di wadi ini.”

Lalu kepala suku Jurhum meminta izin tinggal berseberangan dengannya. Hajar menjawab : ”Tunggulah sampai Ibrahim datang. Saya akan meminta izin kepadanya“.

Pada tiga hari kemudian, Nabi Ibrahim AS datang melihat kondisi anak dan istrinya itu. Setelah itu Hajar meminta izin kepada Ibrahim agar Kabilah Jurhum bisa menjadi tetangganya. Nabi Ibrahim pun langsung memberinya izin Kabilah Jurhum untuk menjadi tetangga Hajar dan Ismail di tempat itu. Pada kesempatan untuk ziarah selanjutnya, Ibrahim menyaksikan tempat itu kian ramai oleh keturunan bangsa Jurhum dan Nabi Ibrahim sangat merasa senang melihat perkembangan itu.

Hajar kini hidup rukun dengan bangsa Jurhum hingga Ismail beranjak remaja. Selanjutnya Allah SWT kembali lagi memerintahkan kepada Ibrahim untuk membangun Ka’bah pada posisi Qubah yang telah Allah turunkan kepada nabi Adam. Tetapi Nabi Ibrahim tidak mengetahui posisi Qubah tersebut, karena Qubah itu telah diangkat kembali  oleh Allah ketika terjadi peristiwa banjir besar di bumi pada masa Nabi Nuh AS. Kemudian Allah mengutus Malaikat Jibril untuk menunjukkan kepada Ibrahim pada posisi Ka’bah. 

Kemudian Jibril datang dengan membawa beberapa bagian Ka’bah dari surga. Dan pemuda Ismail juga turut membantu ayahandanya untuk mengangkat batu-batu dari bukit.
Kemudian Nabi Ibrahin dan Ismail bekerja membangun Ka’bah sampai dengan ketinggian 7 hasta. Jibril lalu menunjukkan kepada mereka untuk posisi Hajar aswad. Kemudian Nabi Ibrahim meletakkan Hajar Aswad pada posisi yang semula. lalu Ibrahim membuatkan 2 pintu ka’bah. Pada pintu pertama terbuka ke timur dan pintu kedua terbuka ke barat.


Ketika selesai melakukan pembangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Ismail melaksanakan ibadah haji. Pada tanggal 8 Dzulhijjah Jibril turun kembali untuk menemui dan menyampaikan pesan kepada Ibrahim.  Jibril meminta Nabi Ibrahim untuk mendistribusikan air zam zam ke beberapa tempat seperti Mina dan Arafah. Maka hari itu disebut dengan dengan hari “Tarwiyyah” (pendistribusian air). Setelah selesai dalam pembangunan Baitullah dan pendistribusian air tersebut, maka Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah yang tercantum dalam Al Qur’an :

” Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berdoa : ” Ya Tuhanku. jadikanlah negeri ini menjadi negeri yang aman sentosa dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan di hari kemudian. Allah berfirman : ” Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. Al Baqarah : 126)

Sejak itu,kaum Muslimin ikut melaksanakan ritual haji untuk berziarah ke Ka’bah pada setiap tahun. Ini mengikuti risalah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, serta risalah para Nabi dan Rasul setelah keduanya. Ibadah suci ini berlangsung terus seperti pelaksanaan yang pernah dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail. Namun pada periode tokoh Mekah ‘Ammarbin Luha, ritual haji sudah mulai terkotori atas kahadiran patung dan berhala disana.

KEBERADAAN BERHALA DI SEKITAR KA’BAH

Tokoh ‘Ammar bin Luhay yang juga merupakan orang yang pertama kali menyebarkan ajaran untuk menyembah berhala di seluruh Jazirah Arab. Dialah yang harus bertanggung jawab merubah ajaran tauhid menjadi menyembah berhala. Sejak saat itu, orang-orang Arab mengikuti cara itu dengan meletakkan patung dan berhala yang mereka anggap sebagai tuhan di sekitar Ka’bah. Bahkan sebagian kabilah Mekah juga mempunyai mata pencaharian sebagai pembuat patung dan berhala.

Mereka tetap memperbolehkan kabilah atau kelompok lain untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah, tanpa membedakan agama dan kepercayaan. Para pemeluk agama tauhid termasuk agama Masehi, masih terus menjalankan ritual haji ke Ka’bah. Saat itu, kondisi Ka’bah sangat memprihatinkan sekali. Dindingnya dipenuhi puisi dan lukisan. Bahkan lebih dari 360 berhala terdapat di sekitar Ka’bah itu.

Selama periode haji itu, suasana di sekitar Ka’bah layaknya seperti tayangan sirkus. Laki-laki dan perempuan bersama-sama mengelilingi Ka’bah dalam keadaan telanjang. Mereka menyatakan harus menampilkan diri dihadapan Allah dalam kondisi yang serupa seperti saat lahir. Doa mereka menjadi bebas tidak lagi tulus melakukannya karena Allah semata. Bahkan berubah menjadi serangkaian tepuk tangan, bersiul, dan meniup terompet yang terbuat dari tanduk-tanduk hewan.

Kalimat talbiah (Labbaika Allahumma Labbaik) telah disalah gunakan oleh mereka dengan kalimat tambahan yang berbeda maknanya. Lebih parahnya lagi, darah hewan kurban dituangkan ke dinding Ka’bah dan dagingnya digantung di tiang sekitar Ka’bah. Mereka punya keyakinan bahwa Allah menuntuk daging dan darah tersebut. Mengenai hal ini Allah Swt mengingatkan dengan firmannya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS.Al-Hajj :37)

Para peziarah bebas untuk bernyanyi, minum-minuman arak, melakukan perbuatan zina dan perbuatan amoral yang lainnya. Lomba puisi merupakan bagian utama dari seluruh rangkaian haji.  Dalam kompetisi ini,setiap penyair akan memuji keberanian dan kemegahan sukunya. Mereka menyampaikan cerita yang sangat berlebihan, kepengecutan dan kekikiran suku-suku lainnya. Ada juga kompetisi yang dilakukan dalam “kemurahan hati”. Masing-masing kepala suku akan menyediakan kualibesar dan akan memberi makan para peziarah. Tujuannya itu agar bisa menjadi terkenal karena kemurahan hati mereka.

Mereka telah meninggalkan, menodai dan menyelewengkan atas ajaran suci Nabi Ibrahim as yang mengajak untuk menyembah Allah semata. Keadaan yang menyedihkan itu berlangsung selama ± 2.000 tahun.

Sejarah singkat haji dan umroh ini syarat dengan pesan penting agar kita selalu bersyukur dan tetap teguh menjalankan ajaran-Nya.

 

sejarah singkat haji
sejarah haji dalam islam
sejarah haji nabi ibrahim
sejarah singkat haji dan umroh
mencapai haji mabrur
sejarah ibadah haji dan umroh
sejarah rukun haji
sejarah disyariatkannya ibadah haji
riwayat ibadah haji
sejarah haji nabi muhammad
haji pertama rasulullah
sejarah haji dan umroh
sejarah tentang haji dan umroh
sejarah perintah haji dan umroh
sejarah umroh haji
makalah sejarah haji dan umroh
sejarah haji dan umrah
sejarah haji dan umrah di indonesia
makalah sejarah haji dan umrah
sejarah ibadah haji dan umrah

Artikel lainnya »