Paket Umroh Plus Turki

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. travel umroh ramadhan di Garut

Saco-Indonesia.com — Rumah di Washington, Amerika Serikat, berikut ini tampaknya bisa diterapkan untuk dibangun di daerah rawan bencana di seluruh Indonesia. Setidaknya, rumah ini sudah memenuhi standar dan kualifikasi Federal Emergency Management Agency (FEMA).
Rumah yang dijuluki "Tsunami House" (rumah tsunami) tersebut dirancang sesuai kode bangunan FEMA yang paling ketat dan diklaim sangat aman. Nelson, sang perancang dari Designs Northwest Architects, mengatakan, rumah tersebut penuh dengan hal-hal yang harus dipertimbangkan ketika membangun di daerah berisiko banjir dan gempa.
Proyek ini dimulai pada tahun 2006 dan selesai musim panas lalu. Lokasinya tidak jauh dari tepi laut, Tsunami House berada di zona bencana banjir berkecepatan tinggi. Penduduk yang mendiami kawasan ini diketahui membuka lahan dan memulai proyek Tsunami House sejak 7 tahun silam.
Berbeda dengan rumah darurat yang diperuntukkan korban bencana, Tsunami House justru sangat indah dan memiliki pemandangan memukau, meskipun terletak di daerah rawan bencana, seperti gempa, angin kencang, dan banjir.
Di dalam Tsunami House terdapat ruang-ruang seperti rumah pada umumnya. Hanya saja, di sini penamaan ruang tersebut mengundang senyum. Sebut saja, Kamar Banjir yang berada pada level lebih rendah. Kamar ini dilengkapi dengan dinding yang dirancang sebagai tempat istirahat selama terjadi gelombang air.
"Material Tsunami House seluruhnya terbuat dari bahan tahan air dan dilengkapi dengan furnitur luar ruang tahan lama," ujar Nelson.
Tsunami House disangga oleh sembilan kolom betok dengan tebal 0,6 meter agar air banjir dapat dengan mudah melewati rumah ini. Bagian tersebut merupakan yang terberat dan terkuat dalam menghadapi badai apa pun. Sementara ruang tamu, sesuai dengan Kode FEMA, berada di bagian atas rumah.
Bangunan Tsunami House seluas 207,3 meter persegi yang memiliki ketinggian 9 meter di atas permukaan tanah demi keselamatan.

Sesuai peraturan bangunan FEMA, kamar tidur utama, ruang tamu, ruang makan, dan dapur, semuanya terletak di lantai kedua rumah ini.

Pelapis lantai Tsunami House adalah ubin porselen dengan langit-langit terbuat dari kayu cedar merah, yang menambah cantik suasana.
Di dalamnya terdapat perapian luas yang diatur dengan panel plester yang terinspirasi gelombang banjir. Rumah ini memiliki bukaan besar seperti jendela yang berbingkai aluminium.

Siapa pun penghuni rumah ini akan merasakan kedekatan dengan pantai yang diwakili desir angin, ombak berbisik, kicau burung, dan juga sinar mentari. Seluruh fenomena alam tersebut bisa dinikmati tanpa harus keluar dari rumah yang berada di Camano Island tersebut.

Sumber :businessinsider.com/kompas.com
Editor : Maulana Lee
Rancang Rumah Anda seperti Ini, Bila Mau Tahan Banjir
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »