ITINERARY PEJALANAN UMROH PLUS CITYTOUR DUBAI 10 HARI

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. travel umroh plus turki Depok

saco-indonesia.com, Buyuang Paman yang berusia (46) tahun , warga Pasia Paneh, Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) telah ditemukan tergantung pada seutas tali di rumah korban. Korban pertama kali telah ditemukan oleh istrinya Karmila yang berusia (29) tahun , saat sampai di rumah sehabis bekerja.

"Sesampai di rumah, saya telah melihat ada kaki menjuntai dari luar rumah. Saat saya masuk rumah, rupanya itu kaki suami saya yang sudah tidak bernyawa," kata Karmila di Lubuk Basung, Minggu (2/2) kemarin .

Melihat kondisi itu, dia telah menjerit dan meminta tolong kepada tetangga dan beberapa menit setelah itu, tetangga datang untuk dapat memberikan pertolongan.

Ia juga menambahkan, pagi sebelum pergi bekerja sebagai tukang cuci, korban juga masih dalam keadaan sehat dan tinggal sendirian di rumah. Mereka juga belum memiliki anak setelah lima tahun menikah.

Kapolsek Tanjung Mutiara Iptu Jamhur, juga membenarkan kejadian itu dan telah menurunkan anggota Polsek. Selain itu tim identifikasi dari Polres Agam juga telah turun, serta petugas kesehatan dari Puskesmas Tanjung Mutiara untuk visum.

Dari hasil penyidikan awal, diduga korban gantung diri, karena lidah dan sperma keluar. Namun pihak kepolisian tetap melanjutkan penyelidikan.

"Korban tergantung pada tali nilon di kuda-kuda rumah semi permanen dengan bantuan kaleng cat," katanya.

Setelah divisum, korban langsung dimandikan dan dimakamkan di pandam pekuburan kaum yang tidak jauh dari rumah koran.

Ia juga mengatakan, penyebab korban telah menghabisi nyawanya sendiri akibat permasalahan keluarga.

Lebih jauh, Kapolsek telah menjelaskan sebelumnya korban mendapatkan bantuan dana untuk rumah tidak layak huni dari pemerintah pusat sebesar Rp 15 juta.

Karena tidak memiliki lahan untuk dapat membangun rumah, korban telah meminta tanah satu bidang kepada orangtuanya. Orangtuanya telah memberikan lahan itu.

Namun setelah rumah dibangun, anggota keluarga yang lain menggugat korban. Korban juga sempat mengeluarkan kata-kata akan bunuh diri pada orangtuanya karena masalah tersebut.

"Ini juga merupakan informasi yang kami peroleh dari masyarakat," katanya.


Editor : Dian Sukmawati

ISTRI TEMUKAN SUAMI GANTUNG DIRI DI RUMAH

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »