Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. paket haji khusus Kuningan

Layanan jasa cuci pakaian mungkin sudah sangat biasa terdengar di telinga kita, namun jika kita mendengar jasa layanan cuci sofa atau spring bed pastinya masih asing.

Bisnis ini mungkin juga bisa menjadi peluang usaha bagi Anda yang ingin memulai awal karier di dunia wirausaha. Pasalnya, keuntungan dari layanan jasa cuci sofa dan spring bed ini bisa beromset hingga puluhan juta rupiah per bulannya.

Sugianto salah satu pengembang bisnis layanan cuci sofa dan spring bed, sejak tahun 2008 lalu . Saat itu Sugianto telah terinspirasi dari temannya yang telah memiliki bisnis di bidang laundry pakaian. Demi untuk mewujudkan impian bisnisnya, Sugianto pun keluar dari pekerjaannya di salah satu perusahaan swasta.

"Saya tanya-tanya, belajar dan sampai sekarang ini dan manajemen juga saya atur sendiri ngatur jadwal doang. Nah buka mulai jam delapan setiap hari sampai selesainya saja," ujar Sugianto di Jakarta.

Untuk dapat membangun bisnis jasa cuci sofa dan spring bed, dia memulainya dengan modal awal yang berkisar Rp10 juta. Saat itu, usahanya tersebut hanya bermodalkan mesin vacum pengering sofa dan spring bed yang berjumlah satu saja . Sedangkan mesin tersebut telah dibelinya seharga Rp8 jutaan dan sisa modalnya dipergunakan untuk dapat melengkapi keperluan yang dibutuhkan untuk mencuci sofa dan spring bed.

"Sejak tahun 2008 setelah Lebaran ya, modal awal saya itu sekitar Rp10 juta-Rp15 juta. Dengan modal yang segitu waktu bulan pertama itu omzet saya itu masih sangat kecil, ya namanya juga masih awal merintis. Sebulan pertama itu saya itu telah mendapat omzet sekira cuma Rp2,5 juta, memang kecil inikan butuh proses," jelas dia.

Namun, saat ini, dia juga mengaku, selama lima tahun memperjuangkan bisnisnya agar tetap jalan, hingga kini dirinya sudah bisa meraih omzet hingga Rp20 juta per bulan. Yang dahulu hanya memiliki satu pegawai dan satu mesin vacum, sekarang dia sudah memiliki empat karyawan untuk bekerja sebagai pencuci sofa dan spring bed dan juga sudah memiliki mesin pengering yakni vacum sebanyak empat mesin.

Akan tetapi untuk bisa menjadi seperti ini, dirinya tidak semudah membalikkan telapak tangannya. Sugianto beberapa kali mengalami kesulitan mempromosikan usahanya. Dia juga mengatakan, untuk dapat memperkenalkan usahanya, Sugianto setiap hari menempelkan stiker yang bertuliskan 'terima jasa cuci sofa dan spring bed' di setiap tiang listrik yang dilewatinya. Tak hanya itu, bermodalkan sebuah tripleks, Sugianto menempelkan informasi yang sama seperti pada stikernya.

"Dari segi pemasaran waktu itukan kita belum ada konsumen sama sekali, jadi waktu itu harus promosi terus ke sana kemari,” tukas Sugianto.

Setelah memasuki tahun kedua, dia mencoba dengan cara promosi yang beda yakni membuka website dan sampai saat usahanya pun terus berkembang ini terlihat dari segi omzet per bulannya yang sudah mencapai di kisaran Rp20 jutaan bahkan lebih.

Sementar pada Lebaran tahun 2013 ini, dirinya juga mengaku akan ada sedikit penurunan pada omzetnya bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Kalau tahun lalu itu bisa sekitar Rp15-Rp20 jutaan, tapi kalau Lebaran ini tidak sampai segitu, mungkin di bawah itu sedikit. Inikan karena sudah banyak saingan di bisnis ini," paparnya.

Sugianto juga menjelaskan, cara mencuci sofa dan spring bed tersebut telah menggunakan chemical atau cairan khusus yakni pembersih sofa. Di mana setelah dilakukan pencucian dengan menggunakan cairan khusus tersebut barulah dilakukan proses pengeringan dengan menggunakan mesin vacum yang lebih kuat dari vacum-vacum yang biasanya dipakai sehari-hari.

"Vacum berdaya 1.300 watt itu telah memiliki daya sedot hingga mililiter per detik. Yang jelas kekuatan lebih kuat dari vacum yang sehari-hari," ucap Sugianto.

Berbeda dengan jasa lainnya, Sugiarto melakukan jemput bola di tempat si pemilik sofa atau spring bed. Lama pengerjaan pun relatif singkat hanya satu hingga dua jam. “Pengerjaannya dilakukan oleh dua orang, dan proses pengeringannya harus benar-benar kering sekali dan baru bisa diduduki kembali," jelas dia.

Perlakuan yang sama juga diterapkan untuk dapat membersihkan spring bed. Namun, untuk proses pengeringannya memakan waktu hingga delapan jam. “Karena spring bed itu luas. Pengeringannya tidak memakai pemanas. Jadi harus ditunggu hingga benar-benar kering, baru bisa dipakai," tutup Sugianto.

 

PENGUSAHA JASA CUCI SOFA RAUP OMZET RP20 JUTA

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

Tribute for a Roller Hockey Warrior

Artikel lainnya »