Anda Berencana Pergi Umroh? Jangan Lupakan Paket Umroh

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. ongkos umroh yang murah

saco-indonesia.com, Kericuhan kembali telah terjadi saat sidang di Mahkamah Konstitusi (MK). Di MK sendiri juga sedang berlangsung 6 sidang yakni, Sidang Pilkada Deli Serdang, sidang Kabupaten Kerinci, UU Pilpres dan lainnya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto juga menuturkan kericuhan telah terjadi pada pukul 13.30 WIB saat persidangan sengketa pilkada Kabupaten Kerinci.

"Kericuhan di luar tidak mengganggu jalannya persidangan," ujar Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Kamis (23/1).

Rikwanto juga menjelaskan, peristiwa tersebut telah berawal ketikan pendukung dari nomor urut 2 dan 3 telah memasuki ruang persidangan.

"Pendukung nomor urut 3 telah melakukan protes ke Pamdal MK karena saat melalui security checking terlalu banyak ditanya oleh pihak Pamdal," terang Rikwanto.

Padahal, saat pendukung nomor urut 2 masuk, petugas tidak terlalu banyak ditanya. Petugas pun juga telah melerai kericuhan tersebut.

Menurut hasil dari pemeriksaan terhadap pihak Pamdal, didapati saat pendukung nomor urut 2 akan memasuki ruang sidang, suasana di dalam ruangan masih banyak kursi kosong. "Sedangkan, saat pendukung nomor urut 3 masuk, Pamdal banyak bertanya karena ruangan sidang sudah padat," paparnya.

"Ada salah persepsi dan tafsir, terjadi cekcok, antara Pamdal dengan pendukung nomor urut 3. Ada kejar-kejaran di luar sidang. Dan semuanya bisa diredam, serta tidak ada yang diamankan," jelas Rikwanto.

Beruntung, kericuhan di pintu masuk ruang persidangan tersebut tidak berlangsung lama dan sudah kembali kondusif.

"Total pengamanan sidang hari ini di MK ada sekitar 648 personel. Kejadian itu di luar ruang persidangan," tandasnya.


Editor : Dian Sukmawati

SIDANG SENGKETA DALAM PILKADA KERINCI DI MK RICUH
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »