Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. jadwal umroh november Cimahi

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hari ini Selasa (18/3) akan melanjutkan rangkaian kampanye partainya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setelah kemarin berkampanye di Bantul, SBY dan rombongan jurkamnas akan berkampanye di Tulungagung.

Tadi malam, SBY dan rombongan telah menginap di Hotel Merdeka Kota Madiun, Jawa Timur. SBY juga telah mengajukan cuti untuk berkampanye dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat di sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

SBY dan rombongan menuju ke Tulungagung melalui Ponorogo. Di Ponorogo, SBY juga telah dijadwalkan akan mengunjungi sejumlah titik, namun agenda tersebut masih dapat berubah.

Seperti yang telah diketahui, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah memberitahukan cuti untuk mengikuti kampanye selama dua hari, pada tanggal 17-18 Maret.

Izin cuti tersebut juga telah disampaikan ke KPU RI dengan mengirimkan surat dari Sekretariat Negara Nomor B.233/M.Sesneg/D-2/KN.00.02/03/2014, dengan tembusan kepada Presiden RI, Wapres RI Boediono, dan Badan Pengawas Pemilu.

Cuti Presiden tersebut dimaksudkan untuk pelaksanaan kampanye Partai Demokrat di daerah pemilihan Jawa Tengah VI dan Jawa Timur VI. Di antaranya di Magelang dan Yogyakarta, serta di Tulungagung dan Blitar.

Adapun, pelaksanaan kampanye rapat umum terbuka untuk Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD dilakukan selama 21 hari, mulai tanggal 16 Maret hingga 5 April mendatang.

Setelah Bantul, hari ini SBY kampanye di Tulungagung

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »