Harga Paket Umroh Murah Promo November By Saudi Airlines

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. jadwal umroh akhir ramadhan di Pandeglang

saco-indonesia.com, Kosmetik merupakan salah satu hal yang bisa dibilang wajib bagi seorang wanita. Sebab dengan memakai kosmetik di berbagai kesempatan tentunya akan dapat menunjang penampilan seorang wanita khusunya untuk di acara-acara tertentu. Dengan kosmetik seorang wanita juga akan dapat selalu tampak segar.

Namun tidak semua kosmetik yang telah dijual dipasaran bisa cocok dan sesuai dengan jenis kulit anda. Bukan hanya itu yang lebih berbahaya lagi jika kosmetik tersebut telah mengandung bahan berbahaya seperti merkuri yang tentunya akan dapat berefek buruk bagi kulit wajah anda. Selain itu adapula kosmetik yang belum dapat diuji secara resmi oleh laboratorium tertentu, sedangkan produknya juga sudah banayk digunakan oleh banyak orang. Dan yang paling sangat berbahaya banyak kosmetik yang juga telah memalsukan merk kosmetik yang terkenal sehingga produk mereka pun akan bisa laris terjual.

Untuk dapat mengatasi kemungkinan-kemungkinan buruk tersebut maka yang sangat penting bagi anda para wanita untuk dapat mengetahui cara agar dapat memilah kosmetik yang memang terjamin keamanan dan kualitasnya. Berikut adalah artikel yang bisa sahabat Dokter gunakan untuk pandai dalam memilih kosmetik yang baik bagi anda.
Ilustrasi Wanita menggunakan Kosmetik
Inilah 6 Tips Wanita Memilih Kosmetik yang Baik

1. Utamakan produk berlabel halal
Sebagian produk baik makanan maupun kosmetik terdapat label halal pada kemasannya. Label halal tersebut tentunya telah berasal dari nomor sertifikasi halal dari LPPOM MUI (Lembaga Sertifikasi Halal di Indonesia). Hal tersebut bisa akan membuktikan bahwa produk tersebut telah diuji oleh lembaga tersebut untuk dapat mengetahui kandungan yang ada dalam produk, terasuk kosmetik.

2. Memiliki Kode Legal
Terkhusu untuk makana dan kosmetik, telah memiliki lembaga yang menangani mengenai kelegalan nya yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Depkes RI. Jika suatu produk tidak memiliki kode legal tersebut maka tidak ada pihak yang ingin bertanggung jawab dalam produksinya.

Kode yang perlu dipahami adalah:

    CD untuk kosmetik produksi lokal
    CL untuk kosmetik impor
    TR untuk produk yang tergolong jamu tradisional
    TL untuk produk yang tergolong jamu impor

3. Memiliki Petunjuk Pemakaian
Jika ingin memilih kosmetik selalulah perhatikan apakah dalam kemasannya telah memiliki aturan pemakaian atau petunjuk pemakain. Hal tersebut juga sangatlah penting agar hasil yang diperolah bisa maksimal dengan standard keamanan produk.

4. Memiliki Tanggal Kadaluarsa
Tanggal kadaluarsa yang ada pada produk kosmetik anda sangatlah penting. Hal tersebut untuk dapat memastikan umur efektif produk yang pastin ya akan dapat berpengaruh pada tingkat kualitasnya.

5. Tercantum Nama dan Alamat Produsen
Jika suatu produk kosmetik tidak memiliki nama serta alamat produsen maka anda perlu mempertanyakannya. Produk kosmetik yang telah memilikki nama dan alamat yang jelas tentunya Selain itu, nama dan alamat juga bisa menjadi informasi yang sangat penting untuk dapat diadukan ke pihak berwenang bila suatu saat ada masalah tentang produk.

6. Perhatikan Komposisi Bahan
komposisi bahan yang ada pada kosmetik telah menjadi hal yang sangat penting bagi anda. Perhatikan apakah ada zat yang haram ataukah berbahaya bagi kulit. Diantara yang perlu diperhatikan adalah:

    Merkuri/ Hg. Hal ini termasuk logam berat yang sangat berbahaya bagi tubuh. Pada kulit bisa dapat menyebabkan bintik hitam, alergi, dan iritasi ringan, hingga berat. Merkuri juga tidak dapat diurai tubuh, menembus lapisan kulit dan dan menumpuk pada ginjal. Pada paparan jangka pendek saja bisa dapat menyebabkan diare, dan kerusakan paru-paru, sementara pada pemakaian jangka panjang bisa dapat merusak ginjal dan otak. Merkuri masih bisa ditemukan pada beberapa produk kosmetik ilegal, yang seringkali bahkan tidak memiliki keterangan dalam bahasa Indonesia.
    Hidroquinon. Zat ini juga termasuk obat keras. Di luar negeri juga sudah dilarang penggunaannya. Tetapi di Indonesia masih ditolerir hingga batas toleransi 2%. Paparan hidroquinon bisa dapat menyebabkan iritasi kulit sehingga menjadi merah, terbakar. Lebih lanjut bisa dapat menyebabkan kerusakan ginjal, kanker darah dan kanker hati.
    Pewarna Merah K.10 (Rhodamin B) dan Zat Pewarna K.3; zat warnan sintetis yang umumnya ada pada industri tekstil dan bersifat karsinogen.
    Lemak dan segala turunannya yang berasal dari hewan yang diharamkan.
    Kolagen yang berasal dari hewan yang diharamkan.
    Elastin yang berasal dari hewan yang diharamkan.
    Ekstrak plasenta yang berasal dari hewan yang diharamkan atau dari manusia.
    Amnion (ketuban) yang berasal dari hewan yang diharamkan.
    Gelatin yang berasal dari hewan yang diharamkan.
    Chivet atau hormon dari kelenjar-kelenjar yang berasal dari hewan yang hukumnya haram atau najis.

hal tersebutlah yang harus diperhatikan dan cara dalam memilih kosmetik yang baik. Semoga anda bisa tetap cantik dan tetap aman.


Editor : Dian Sukmawati

TIPS MEMILIH KOSMETIK YANG BAIK

Even as a high school student, Dave Goldberg was urging female classmates to speak up. As a young dot-com executive, he had one girlfriend after another, but fell hard for a driven friend named Sheryl Sandberg, pining after her for years. After they wed, Mr. Goldberg pushed her to negotiate hard for high compensation and arranged his schedule so that he could be home with their children when she was traveling for work.

Mr. Goldberg, who died unexpectedly on Friday, was a genial, 47-year-old Silicon Valley entrepreneur who built his latest company, SurveyMonkey, from a modest enterprise to one recently valued by investors at $2 billion. But he was also perhaps the signature male feminist of his era: the first major chief executive in memory to spur his wife to become as successful in business as he was, and an essential figure in “Lean In,” Ms. Sandberg’s blockbuster guide to female achievement.

Over the weekend, even strangers were shocked at his death, both because of his relatively young age and because they knew of him as the living, breathing, car-pooling center of a new philosophy of two-career marriage.

“They were very much the role models for what this next generation wants to grapple with,” said Debora L. Spar, the president of Barnard College. In a 2011 commencement speech there, Ms. Sandberg told the graduates that whom they married would be their most important career decision.

In the play “The Heidi Chronicles,” revived on Broadway this spring, a male character who is the founder of a media company says that “I don’t want to come home to an A-plus,” explaining that his ambitions require him to marry an unthreatening helpmeet. Mr. Goldberg grew up to hold the opposite view, starting with his upbringing in progressive Minneapolis circles where “there was woman power in every aspect of our lives,” Jeffrey Dachis, a childhood friend, said in an interview.

The Goldberg parents read “The Feminine Mystique” together — in fact, Mr. Goldberg’s father introduced it to his wife, according to Ms. Sandberg’s book. In 1976, Paula Goldberg helped found a nonprofit to aid children with disabilities. Her husband, Mel, a law professor who taught at night, made the family breakfast at home.

Later, when Dave Goldberg was in high school and his prom date, Jill Chessen, stayed silent in a politics class, he chastised her afterward. He said, “You need to speak up,” Ms. Chessen recalled in an interview. “They need to hear your voice.”

Years later, when Karin Gilford, an early employee at Launch Media, Mr. Goldberg’s digital music company, became a mother, he knew exactly what to do. He kept giving her challenging assignments, she recalled, but also let her work from home one day a week. After Yahoo acquired Launch, Mr. Goldberg became known for distributing roses to all the women in the office on Valentine’s Day.

Ms. Sandberg, who often describes herself as bossy-in-a-good-way, enchanted him when they became friendly in the mid-1990s. He “was smitten with her,” Ms. Chessen remembered. Ms. Sandberg was dating someone else, but Mr. Goldberg still hung around, even helping her and her then-boyfriend move, recalled Bob Roback, a friend and co-founder of Launch. When they finally married in 2004, friends remember thinking how similar the two were, and that the qualities that might have made Ms. Sandberg intimidating to some men drew Mr. Goldberg to her even more.

Over the next decade, Mr. Goldberg and Ms. Sandberg pioneered new ways of capturing information online, had a son and then a daughter, became immensely wealthy, and hashed out their who-does-what-in-this-marriage issues. Mr. Goldberg’s commute from the Bay Area to Los Angeles became a strain, so he relocated, later joking that he “lost the coin flip” of where they would live. He paid the bills, she planned the birthday parties, and both often left their offices at 5:30 so they could eat dinner with their children before resuming work afterward.

Friends in Silicon Valley say they were careful to conduct their careers separately, politely refusing when outsiders would ask one about the other’s work: Ms. Sandberg’s role building Facebook into an information and advertising powerhouse, and Mr. Goldberg at SurveyMonkey, which made polling faster and cheaper. But privately, their work was intertwined. He often began statements to his team with the phrase “Well, Sheryl said” sharing her business advice. He counseled her, too, starting with her salary negotiations with Mark Zuckerberg.

“I wanted Mark to really feel he stretched to get Sheryl, because she was worth it,” Mr. Goldberg explained in a 2013 “60 Minutes” interview, his Minnesota accent and his smile intact as he offered a rare peek of the intersection of marriage and money at the top of corporate life.

 

 

While his wife grew increasingly outspoken about women’s advancement, Mr. Goldberg quietly advised the men in the office on family and partnership matters, an associate said. Six out of 16 members of SurveyMonkey’s management team are female, an almost unheard-of ratio among Silicon Valley “unicorns,” or companies valued at over $1 billion.

When Mellody Hobson, a friend and finance executive, wrote a chapter of “Lean In” about women of color for the college edition of the book, Mr. Goldberg gave her feedback on the draft, a clue to his deep involvement. He joked with Ms. Hobson that she was too long-winded, like Ms. Sandberg, but aside from that, he said he loved the chapter, she said in an interview.

By then, Mr. Goldberg was a figure of fascination who inspired a “where can I get one of those?” reaction among many of the women who had read the best seller “Lean In.” Some lamented that Ms. Sandberg’s advice hinged too much on marrying a Dave Goldberg, who was humble enough to plan around his wife, attentive enough to worry about which shoes his young daughter would wear, and rich enough to help pay for the help that made the family’s balancing act manageable.

Now that he is gone, and Ms. Sandberg goes from being half of a celebrated partnership to perhaps the business world’s most prominent single mother, the pages of “Lean In” carry a new sting of loss.

“We are never at 50-50 at any given moment — perfect equality is hard to define or sustain — but we allow the pendulum to swing back and forth between us,” she wrote in 2013, adding that they were looking forward to raising teenagers together.

“Fortunately, I have Dave to figure it out with me,” she wrote.

Dave Goldberg Was Lifelong Women’s Advocate

Artikel lainnya »