Harga Paket Umroh Februari Murah AlHijaz Indowisata

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. biro umroh Bandung Barat

saco-indonesia.com, Munculnya Bitcoin telah menimbulkan kekhawatiran oleh sejumlah pihak akan besarnya potensi penyelewengan dengan menggunakan mata uang tersebut. Terlebih, sudah banyak kasus di mana mata uang vitrual terbukti disalahgunakan untuk hal tersebut.

Belum lepas dari ingatan kita bagaimana FBI begitu saja menutup layanan transaksi mata uang virtual melalui Liberty Reserve. Kepolisian Federal Amerika Serikat tersebut dengan menganggap bahwa LR, nama bekennya, selama ini telah digunakan untuk sarana pencucian uang hasil transaksi benda haram mulai dari narkoba hingga senjata api.

Namun, matinya LR juga tak langsung membunuh mata uang virtual. Kini muncul Bitcoin beserta koin virtual lainnya yang bisa didapatkan siapa saja dan bebas dari jangkauan tangan hukum.

Para pelaku kriminal pun juga memanfaatkan dengan baik Bitcoin sehingga kemudian mata uang virtual ini lebih dekat konotasinya ke arah negatif. Seakan yang telah memiliki Bitcoin adalah para pelaku kriminal atau mereka yang suka jual beli barang haram.

Lagi-lagi polisi Amerika Serikat juga telah menemukan bukti bahwa Bitcoin digunakan untuk kegiatan haram. Dua eksekutif Bitcoin telah ditangkap dengan tuduhan mencuci uang hasil kegiatan ilegal terutama jual beli narkoba di Silk Road.

Tertangkapnya dua orang ini telah menimbulkan anggapan bahwa sepertinya AS mulai waspada dengan persebaran mata uang virtual ini. Bahkan, mungkin saja di masa depan nasib Bitcoin tak jauh beda dengan LR.

Meski begitu, pihak berwenang sendiri sampai saat ini memang masih kesulitan dalam menangkap pelaku kejahatan yang menggunakan Bitcoin. Pasalnya, mata uang satu ini tesimpan dalam komputasi awan dan terenkripsi secara digital. Sehingga, sangat sulit bagi siapa saja untuk dapat melacaknya.

Namun begitu, tren bank sentral beberapa negara di dunia telah menyatakan bahwa Bitcoin tidak bisa dijamin keabsahannya oleh negara karena . Sehingga, bisa saja muncul gerakan global untuk dapat memberantas penggunaan Bitcoin.


Editor : Dian Sukmawati

AKANKAH BITCOIN TERANCAM DITUTUP?
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »