Paket Umroh 12 hari pesawat langsung Madinah

saco-indonesia.com, Ciri Orang Yang Berpikir Positif Yang Utama Adalah Optimisme

Optimisme adalah sebuah pemikiran penuh harapan dan percaya diri bahwa apa yang ditujunya akan tercapai. Optimisme adalah pandangan yang penuh harap. Sebuah sikap optimis bisa lahir saat seseorang memiliki keyakinan yang kuat bahwa dia bisa mencapai apa yang dia harapkan. Inilah ciri orang yang berpikir positif.

“Tapi, bagaimana saya bisa optimis? Saya memiliki banyak kekurangan.”

Optimisme tidak ada hubungannya dengan kekurangan. Siapa yang tidak punya kekurangan? Orang yang optimis akan yakin bahwa dia juga mampu mengatasi semua kekurangan yang ada. Tidak punya modal untuk bisnis? Dia yakin bahwa dia akan mendapatkan modal tersebut. Tidak bisa bahasa Inggris untuk mendapatkan kerja? Orang optimis yakin bahwa dia bisa mempelajari bahasa Inggris. Kekurangan, sama sekali tidak mempengaruhi optimisme. Ciri orang yang berpikir positif tetap yakin meski dia banyak kekurangan, karena dia yakin selalu ada jalan keluar.

Lalu, dari manakah sumber keyakinan ini? Jika kita membaca literatur barat yang ditulis oleh mereka yang bukan beragama Islam, mereka mengatakan bahwa sumber keyakinan kita hanya berasal dari potensi dan kekuatan pikiran kita. Memang benar, bahwa kita sudah diberikan postensi yang besar oleh Allah SWT, tetapi sumber keyakinan itu bukan hanya berasal dari potensi diri kita atau pikiran kita, tetapi –yang utama– kita yakin karena Allah SWT akan menolong, membantu, memberikan petunjuk, dan mengabulkan do’a kita.
Berpikir Positif dan Kritis

“Tapi… kita juga perlu berpikir kritis.”

Salah! Yang kita perlukan ialah: kita perlu berpikir kritis, kreatif, dan rasional. Jadi bukan berpikir kritis dan positif saja. Silahkan selami situs ini, Anda akan menemukan pembahasan tentang berpikir kritis, kreatif, dan rasional. Artikel ini memang khusus membahas ciri orang yang berpikir positif.

Berpikir positif bukan berarti kita memandang semua hal menjadi positif, apalagi menjadi benar. Bukan berarti apa pun yang dilakukan oleh orang lain, kita berkata “berpikir positif saja!” Kadang kata-kata ini juga sebagai alat untuk pembenaran diri juga. Saat ada orang yang menyalahkan dia, dia mengatakan “Kamu harus berpikir positif.” Salah adalah salah, benar adalah benar.

Berpikir positif lebih kepada kemampuan memikirkan hal yang positif dari apa pun kejadian dan kondisi. Bukan menjadikan hal negatif menjadi positif, tetapi mampu memikirkan hal yang positif dari kondisi atau kejadian negatif sekali pun. Yang salah tetap salah, namun kita bisa melihat (baca memikirkan) hal positif dari kesalahan itu. Itulah yang disebut dengan hikmah. Berpikir positif akan berkiatan dengan hikmah.

Jadi berpikir positif tidak memupus kemampuan kita berpikir kritis.
Tidak Mudah Menjadi Negatif

Seperti angka, semakin besar angka positif akan semakin sulit untuk menjadi negatif. Jika kondisi Anda positif pada sekala 10, maka akan tetap positif jika masuk pikiran negatif pada sekala 4. Mungkin skala pikiran positif Anda berkurang menjadi 6. Optimisme Anda masih ada tetapi sedikit berkurang. Ciri orang yang berpikir positif tidak akan mudah berubah menjadi pesimis, apalagi jika dia memiliki pikiran positif pada sekalan 100, maka pikiran negatif pada skala 4 tidak akan terasa.

Orang yang semangat dan memiliki optimisme tetapi masih mudah terganggu, artinya tingkat pikiran positifnya masih rendah. Dia memiliki ciri orang yang berpikir positif, tetapi masih rendah. Jika Anda merasa, Anda harus meningkatkannya.
Mampu Melihat Cahaya

Jika diibaratkan, ciri orang yang berpikir positif adalah mampu melihat cahaya atau potensi cahaya. Hal yang positif itu ibarat cahaya atau penerang. Jika meski dia melihat/mengalami persitiwa senegatif apapun, dia akan melihat cahaya dan selalu melihat harapan. Optimisme didapat karena dia mampu melihat cahaya yang akan menerangi jalannya.

Orang yang berpikir positif, akan mampu melihat tabir atau kegelapan yang menghalanginya dari cita-cita atau tujuan besar sekali pun seperti yang dibahas pada artikel ini.

Sumber : http://www.motivasi-islami.com

Ciri orang yang berpikir positif

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

Ghostly Voices From Thomas Edison’s Dolls Can Now Be Heard

Artikel lainnya »