Paket Umroh Full di bulan Ramadhan

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. biaya umroh akhir ramadhan Mustika Jaya

saco-indonesia.com, Sebanyak 4 pasangan mesum telah diciduk oleh Polsek Cakranegara, Sandubaya, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Petugas telah berhasil menemukan 4 pasangan yang bukan suami-istri itu tinggal dalam satu kamar kos.

"Ada empat pasang, mereka telah kami minta datang ke polsek," ujar Kapolsek Cakranegara Kompol Gede Sukma Wirawan.

Empat pasangan itu telah langsung dibawa ke Markas Polsek Cakranegara untuk dapat dimintai keterangan lebih lanjut. Polisi juga telah mengamankan satu sepeda motor jenis Revo dengan bernomor polisi DR-3462-BD. Sepeda motor itu telah disita oleh petugas karena tidak memiliki surat-surat yang resmi.

Selain itu, polisi juga telah menemukan 1 Warga Negara Asing (WNA) ilegal asal Irlandia. WNA itu bernama Dawson, yang tinggal di salah satu kamar kos. WNA ini juga tidak memiliki paspor asli, dan hanya membawa foto copy paspor pelancong.

Diketahui, Polsek Cakranegara tengah rajin menggelar razia gabungan ke rumah-rumah kos di Lingkungan Gedur Abian Tubuh Baru. Razia gabungan itu guna untuk menciptakan kondisi menjelang perayaan tahun baru 2014.

Menurut Kompol Sukma, razia gabungan tersebut telah melibatkan kepala lingkungan, Babinsa dan tokoh masyarakat di sana.

"Kami juga  melakukan razia sebagai langkah antisipasi terhadap timbulnya penyakit masyarakat, baik berupa perjudian, pelanggaran narkoba, prostitusi dan pelanggaran hukum lainnya, " ujarnya.

Jumlah personel yang telah diturunkan berjumlah 30 anggota untuk dapat menyisir rumah kos di kawasan tersebut. Total ada sembilan tempat kos dengan 86 kamar yang disisir petugas.

Selain memeriksa identitas penghuni kos, polisi juga telah memeriksa kelengkapan surat dan identitas sepeda motor milik penghuni kamar atau rumah sewaan tersebut.

Sementara itu, Kepala Lingkungan Gedur I Wayan Ardika juga mengatakan dengan adanya razia ini keamanan dan kenyamanan di lingkungannya bisa tetap terjaga.

"Di sini juga banyak terdapat rumah kos, karenanya harus tetap diawasi guna lebih menjamin keamanan dan ketertiban," ujar Ardika.


Editor : Dian Sukmawati

RUMAH KOS DIRAZIA
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »