umroh juni

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. biaya haji plus di Bogor

Saco-Indonesia.com — Polisi mulai memeriksa saksi-saksi terkait kasus pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto (19). Saksi-saksi itu di antaranya adalah orang-orang yang dimintai tolong oleh pelaku AIH (19) saat mobil yang dipakai untuk membawa mayat Ade Sara mogok hingga tiga kali.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, saat berputar-putar hendak membuang mayat korban, mobil yang ditumpangi pelaku AIH dan satu pelaku lagi, AR (18), mogok tiga kali. Saat mogok ini, AIH meminjam jumper aki ke sejumlah orang untuk menghidupkan kembali mobil KIA Visto.

Namun, mobil itu mogok lagi hingga tiga kali. AIH kemudian memanggil temannya untuk meminjam aki. Teman AIH datang ke lokasi. ”Saat itu, temannya sempat melihat ada orang di dalam mobil AIH. Ia bertanya, siapa itu? Dijawab AIH, itu mayat,” kata Rikwanto.

Mendapat jawaban itu, teman AI diam sebelum kemudian pergi. Setelah mesin mobil hidup kembali, pelaku pergi dengan membawa mayat korban.

Rikwanto menambahkan, polisi belum menjadwalkan pemeriksaan psikologi AIH dan AR. Keduanya masih menjawab pertanyaan penyidik dengan normal. Namun, jika dibutuhkan, polisi akan menghadirkan psikolog untuk memeriksa kondisi kejiwaan kedua pelaku.

Meminta maaf

Keluarga Ade Sara Angelina Suroto (19) tidak hanya memaafkan tindakan pelaku yang membunuh Sara. Keluarga, melalui paman Sara, Yohanes Sutarto, juga meminta maaf jika ada tindakan dan perkataan Sara yang telah melukai kedua pelaku sehingga terjadi peristiwa pembunuhan itu.

”Kami pun tak habis pikir kenapa terjadi penganiayaan itu. Apa mungkin Sara telah melukai perasaan mereka (kedua pelaku). Kalau demikian, kami pun minta maaf,” kata Yohanes.

Namun, hingga saat ini, menurut Yohanes, keluarga kedua pelaku belum ada yang meminta maaf kepada keluarga Sara. ”Ya, kami juga memahami keluarga mereka (kedua pelaku) dan keluarga kami juga tak saling kenal, melainkan anak-anaknya yang kenal,” kata Yohanes.

Tak dimungkiri Yohanes, meskipun cukup tegar, orangtua Sara sesungguhnya juga terguncang, terutama ayah Sara, Suroto, yang kerap termenung pada malam hari. ”Ibunda Sara, Elizabeth, memang kelihatan jauh lebih tegar. Mudah-mudahan selanjutnya demikian,” kata Yohanes.

Sensitivitas terkikis

Psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, mengatakan, ada kemungkinan kedua pelaku, AIH dan AR, telah kehilangan sensitivitas dan empati.

”Mungkin, entah bagaimana, sensitivitas ataupun empati keduanya terkikis. Padahal, itu yang membatasi orang untuk tidak menyakiti orang lain,” kata Vera.

Namun, menurut Vera, seseorang tidak bisa menjadi sesadis itu dalam waktu singkat. Ia yakin ada beberapa faktor yang berkontribusi memunculkan kesadisan itu. Hal ini bukan berarti membela atau mencari pembenaran dalam tindakan kedua pelaku. Namun, faktor-faktor pemicu kesadisan sebisa mungkin harus diungkap untuk menemukan akar masalahnya.

Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, berpendapat, kecil kemungkinan tewasnya Sara sebagai sebuah kesengajaan dan terencana. Dua tersangka, yakni AIH dan AR, diduga kalap sehingga bereaksi secara berlebihan. Efek ini timbul karena pelaku tidak profesional.

”Reaksi berlebihan dari kedua tersangka terjadi saat korban berteriak dan bertindak di luar antisipasi sebelumnya. Cara tersangka menghentikannya kebablasan,” kata Reza. (MKN/NEL/MDN/RAY)

 

Sumber : Kompas.com

Editor : Maulana Lee

Keluarga Ade Sara Meminta Maaf kepada Pelaku

Artikel lainnya »