saco-indonesia.com, Demi untuk dapat menyelamatkan nyawa ibunya, L yang berusia 16 tahun , pelajar SMA di Lampung Tengah, terpaksa harus membunuh pamannya Andi Markus yang berusia 37 tahun , warga Kampung Indera Subing Lampung Tengah, yang saat itu telah mengamuk mengacungkan pisau ke dada ibunya, pada Selasa (4/02) sekitar pukul 23.45 WIB.

Usai membunuh pamannya L yang ditemani ibunya RM yang berusia 47 tahun , langsung menyerahkan diri ke kantor Polisi Sektor Terbanggi Besar, Lampung Tengah.

Dihadapan penyidik L juga mengaku malam itu terkejut dengan kedatangan pamannya yang secara tiba-tiba mengamuk tidak tahu pangkal masalahnya apa. Semula L telah mengira pamannya hanya mengamuk omongan saja tapi saat mendengar ibunya menjerit minta tolong L langsung menuju ke ibunya.

Rupanya sang ibu ketakutan karena pamannya telah mengacungkan pisau mau menancapkan ke dada ibunya. Melihat itu dengan cepat L merampas pisau tersebut lalu menusuk dada pamannya hingga tewas karena mengenai jantung.Hal itu ia sampaikan Leo ketika menyerahkan diri ke kantor polisi sektor Terbanggi Besar, pada Rabu (5/2) kemarin pagi.

Sang ibu juga mengakui bahwa Andi Markus adalah adik kandungnya yang sakit jiwa sejak orang tua mereka pergi. Tempat tinggal mereka berdampingan dan setiap hari RM memasak untuk adiknya.

Entah kenapa malam-malam Andi datang ke rumah lalu ribut mulut. “Tanpa saya duga Andi menyelipkan pisau di pinggangnya dan mau menusuk saya. Saking takutnya saya berteriak minta tolong dan anak saya dengan cepat merebut pisau itu lalu balik menancapkan pisau itu ke jantung Andi, anak saya mau menyelamatkan nyawa saya maka nekat membunuh pamannya yang sedang ngamuk,” ujar Ria sambil berurai air mata.

Kapolsek Terbanggi Besar, Kompol. I Made Bayu Sutha telah membenarkan laporan tersebut dan mengancam pelaku yang masih di bawah umur dengan ancaman pasal 351 tentang pembunuhan hukuman penjara selama 15 tahun


Editor : Dian Sukmawati

PELAJAR SMA BUNUH PAMAN

BEIJING (AP) — The head of Taiwan's Nationalists reaffirmed the party's support for eventual unification with the mainland when he met Monday with Chinese President Xi Jinping as part of continuing rapprochement between the former bitter enemies.

Nationalist Party Chairman Eric Chu, a likely presidential candidate next year, also affirmed Taiwan's desire to join the proposed Chinese-led Asian Infrastructure Investment Bank during the meeting in Beijing. China claims Taiwan as its own territory and doesn't want the island to join using a name that might imply it is an independent country.

Chu's comments during his meeting with Xi were carried live on Hong Kong-based broadcaster Phoenix Television.

The Nationalists were driven to Taiwan by Mao Zedong's Communists during the Chinese civil war in 1949, leading to decades of hostility between the sides. Chu, who took over as party leader in January, is the third Nationalist chairman to visit the mainland and the first since 2009.

Relations between the communist-ruled mainland and the self-governing democratic island of Taiwan began to warm in the 1990s, partly out of their common opposition to Taiwan's formal independence from China, a position advocated by the island's Democratic Progressive Party.

Despite increasingly close economic ties, the prospect of political unification has grown increasingly unpopular on Taiwan, especially with younger voters. Opposition to the Nationalists' pro-China policies was seen as a driver behind heavy local electoral defeats for the party last year that led to Taiwanese President Ma Ying-jeou resigning as party chairman.

Taiwan party leader affirms eventual reunion with China

Artikel lainnya »