GIGABYTE Bersama sponsor lain yaitu Intel, G.Skill, dan Enermax membawa LN2 ke padang pasir Las Vegas: Menciptakan tiga rekor dunia


Saco-Indonesia.com,  16 Januari 2014, Taipei, Taiwan -- GIGABYTE TECHNOLOGY Co. Ltd., produsen pemimpin dalam produksi motherboard dan graphic card mengumumkan pencetakan tiga rekor dunia dalam hal overclocking ketika ajang CES 2014 di Caesar Palace, Las Vegas. Selamat kepada Vivi dan STEPONZ, bersamaan dengan Dinos22 dan HiCookie, dimana mereka memecahkan rekor dunia pada benchmark 3DMark06, Unigine Heaven Extreme dan Cinebench.

Kegiatan yang diadakan pada CES 2014 di Caesar Palace Conference Center, Las Vegas ini, GIGABYTE mengundang para talenta Overclocking kelas dunia dari seluruh dunia untuk mendemonstrasikan semua skill maupun pengalaman yang dibutuhkan untuk memecahkan rekor-rekor dunia. Motherboard yang digunakan adalah GIGABYTE Z87X-OC dan GIGABYTE Z87X-OC Force bersamaan dengan processor, memory, SSD, dan power supply yang disediakan kerjasama dengan sponsor Intel, G.Skill, dan Enermax.

[Image: image005_zpsa7ae6f52.jpg~original]

HiCookie, sebagai Chief Overclocking Evangelist, GIGABYTE Motherboard Business Unit, berkomentar, "Ajang CES 2014 Extreme OC adalah ajang yang tepat dan fantastis untuk Overclocking, dengan menggaris-bawahi komitmen dari GIGABYTE kepada segmen PC ekstrim". Ia melanjutkan, "Rekor-rekor dunia yang baru ini adalah bukti bahwa masih tetap ada ruang untuk meningkatkan performa, jika Anda memiliki motherboard yang didesain dari awalnya untuk dapat memecahkan rekor. Tidak terlupa hal ini juga merupakan penggabungan dari perangkat-perangkat lain dari Intel, G.Skill, dan Enermax".

Frank Hung, Product Marketing Manager dari G.Skill, berkomentar, "Kami sangat senang mendapatkan kesempatan yang istimewa ini untuk mengikuti ajang CES 2014 Extreme OC tahun ini. Kami juga merasa bangga akan pencapaian rekor dunia tahun ini, karena diperoleh dengan menggunakan hardware kelas tertinggi dari G.Skill, GIGABYTE, Intel, dan Enermax". Ia melanjutkan, "Memecahkan rekor dunia tidaklah pernah mudah, jadi ini merupakan sensasi tersendiri untuk dapat melihat begitu banyak ahli overclocking yang ikut berpartisipasi".

Richard Hwang, Vice President dari Enermax N.A., berkomentar, "Enermax merasa terhormat untuk ikut berpartisipasi di ajang CES 2014 Extreme OC. Kami senang sekali tentang hasil pemecahan rekor dengan menggunakan komponen dari Enermax, GIGABYTE, Intel, dan G.Skill". Ia melanjutkan, "Terima kasih kepada seluruh overclocker yang ikut berpartisipasi dalam mewujudkan ajang yang sangat sukses ini, dan kami sangat menantikan untuk turut serta pada event-event seperti ini lagi".

Editor : Maulana Lee
Pencetakan Rekor Dunia

Telah Dipecahkan Rekor Dunia Overclocking pada ajang GIGABYTE CES 2014 Extreme OC

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »