Jembatan Cinta Pulau Tidung Dan Sejarahnya


Pada suatu hari ada satu pengunjung yang berkunjung ke pulau tidung , dengan menggunakan fasilitas agent yang berbeda, dengan tidak langsung mereka berdua bertemu di area jembatan cinta ini, sehingga mereka pun saling berkenalan dan singkat cerita akhirnya sampai ke jenjang pernikahan .Karena untuk mengenang sejarahnya mereka sampai menikah, Dan akhirnya mereka membuat sebuah artikel di sebuah website dengan judul artikel sejarah jembatan cinta pulau tidung di jakarta.

Sejarah lengkapnya  akan saya ceritakan  di bawah ini, jembatan cinta yang merupakan icon wisata Pulau Tidung yang berada di pertengahan antara Pulau Tidung kecil dan Pulau Tidung besar jembatan Penghubung yang  berada di wilayah Pulau Tidung kepulauan seribu jakarta ini.

Pada Tahun 2005 dibagunlah sebuah jembatan penghubung yang menghubungkan 2 pulau yaitu antara Pulau Tidung kecil dan Pulau Tidung besar yang berbentuk apung denngan berbahan kayu di bawahnya drum yang di ikat tali besar dengan berbentuk garis lurus namun jembatan tersebut rusak karena tali pengikatnya tidak kuat dan drumnya hanyut jembatan tersebut kekuatanya hanya dalam jangka waktu 8 bulan sudah hancur.

Beberapa tahun kemudian di bangunlah hal yang serupa, yaitu pada tahun 2008 dibuatlah kembali jembatan penghubung tersebut dengan kayu tancap namun kayu tancap dengan berbentuk kayu tancap kembali  amruk  jembatan tersebut dalam jangka waktu 1 tahun 8 bulan dikarnakan kulitas kayu kurang baik dan kayu tersebut tidak cocok sebagi bahan jembatan dan banyak juga bahan- bahan kayu yang terbakar. Sehingga Jembatan ini rusak lagi.

Akhirnya tiba di ujung tahun, tepatnya pada tahun 2010 di bagun kebali dengan tiang tancap yang berbentuk beton atau semen tapi di atasnya tetap kayu lagi- lagi kekuatan kayu tersebut tidak baik dan cepat keropos.

Dari tahun ke tahun terus di adakan perbaikan perbaikan, karena mengingat banyaknya wisatawan yang ingin berkunjung ke pulau tidung. Tibalah 2 tahun kemudian, kini tahun 2012 jembatan tersebut di bangun kembali dengan desain yang lain dari tahun tahun sebelumnya, dengan bangunan yang permanen .Hal ini di harapkan dari pemerintah wilayah setempat, mudah mudahan saja jembatan tersebut kokoh dalam jangka waktu 15 tahun sesui dengan yang sudah di rencanakan.berarti hitung saja sendiri sampai tahun berapa kalau !5 tahun lagi, he..he  he..

Beberapa Mitos Dan Kepercayaan manusia Dengan Jembatan Cinta

Bagi para remaja atau sepasang kekasih, yang sedang jatuh cinta ada baiknya melakukan wisata ke pulau tidung ini, karena adanya kasiat dari jembatan cinta ini, yang konon bisa membuat suasana percintaan semakin lengket dan awet sampai kakek kakek dan nenek nenek.

Hal ini bagi orang yang percaya dengan kabar kabar yang bisa di percaya, dan bisa juga tidak bisa di percaya, dengan cerita yang ada di paragraf paling atas sendiri, telah saya ceritakan bahwa, adanya pasangan kekasih yang berjumpa di jembatan cinta ini dan mereka berkenalan sampai menikah, maka ada beberepa yang menyataka bahwa barang siapa sepasang kekasih yang berjalan dengan bergandengan tangan di jembatan tersebut langeng sampe tua itu katanya, tapi memang ada beberapa orang yang mengalami hal tersebut seperti pengunjung  atas peristiwa asmaranya yang di bawa ke pulau tidung tersebut sampai menikah cuma yang sampe tua saya belum dengar sebab jembatan jembatan penghubung tersebut baru di bangun tahun 2005.

Itulah beberapa kata saya untuk bisa di fahami dengamn cerita legenda jembatan cinta, yaitu jembatan penghubung antara piulau tidung besar dengan pulau tidung kecil.


Sumber :


Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.


The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.


Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl


Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

Ghostly Voices From Thomas Edisonís Dolls Can Now Be Heard

Artikel lainnya »