Keistimewaan Umroh Ramadhan Bulan Penuh Ampunan

sco-indonesia.com, Empat tersangka pelaku spesialis pencuri rumah kosong (Rumsong), telah dibekuk oleh jajaran Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Tiga pelaku tersebut diantaranya masih dibawah umur, bahkan masih ada pelajar.Para pelaku yang mayoritas berdomisili di Tangerang itu, masing-masing berinisial F alias B (17) tahun , Z alias M (16) tahun dan AY alias M (15) tahun , serta S alias H (21) tahun .

Meski masih terbilang masih remaja, para tersangka itu juga terbilang cukup mahir dalam melakukan setiap aksinya. Sebab, sedikitnya sudah ada 36 rumah di wilayah Tangerang Raya, telah berhasil mereka bobol.”Pengakuan mereka 36 TKP itu diwilayah Serpong, Kelapa Dua, Cikupa dan Balaraja. Semua TKP sudah kami cek dan memang benar semua korban telah mengakui dan bahkan sudah ada LP nya, walaupun beberapa korban ada juga yang tidak melaporkan ke polisi,” kata Kanit Reskrim Polsek Serpong, AKP Toto Daniyanto

Menurutnya, pengungkapan tersebut telah berawal dari hasil rekaman CCTV salah satu rumah korban. Dari situlah, pihaknya telah berhasil mengungkap dan menangkap  para tersangka.”Modus mereka sebelum melakukan aksinya adalah dengan cara menjadi pengamen di siang hari. Dari situ mereka telah menggambarkan situasi targetnya, kemudian barulah beraksi dimalam hari,” paparnya sambil menyebutkan, para tersangka juga dapat dijerat dengan pasal 363, tentang pencurian dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.

“Namun, bagi pelaku yang masih dibawah umur kita akan tetap kenakan sesuai peradilan anak. Kami juga masih harus mengejar 4 pelaku lainnya,” tandasnya.

Kanit juga mengimbau kepada masyarakat luas, agar lebih berhati-hati dalam memperhatikan gerak-gerik setiap orang yang tidak dikenalnya..

Sementara, tersangka F juga mengaku, kerap mengirimi orangtuanya di Lampung dengan hasil penjualan barang curiannya itu. “Buat kirim ke orang tua setiap bulan, sebagian buat senang-senang sama teman,” akunya.

Dalam penangkapan itu, petugas juga telah mengamankan barang bukti hasil curian berupa, 3 ekor burung, 2 unit Handphone, uang tunai sebesar Rp72 ribu, 2 buah Laptop 2, 1 buah jam tangan, serta sebilah pisau dan obeng sebagai alat melakukan aksinya.


Editor : Dian Sukmawati

EMPAT PENCURI RUMSONG TELAH DIBEKUK POLISI
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »