umroh februari

Salah satu peluang usaha yang lagi trend adalah Peluang usaha bisnis balon dekorasi. Semakin banyak orang yang membuat pesta di negeri ini, maka semakin banyak pula pintu rejeki bagi pengusaha balon dekorasi.

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia mendorong banyaknya di selengggarakan acara acara pesta seperti acar ulang tahun, reoni, presmian dan sebagainya. Nah seiring dengan meningkatnya penyelenggara acara2 pesta maka semakin terbuka pula peluang usaha bisnis balon dekorasi ini.

Pada umumnya konsumen lebih suka memakai jasa dari pengusaha balon dekorasi sebab lebih praktis dan tampilannya juga lebih cantik daripada bikin sendiri. Acara acara pesta sering memakai jasa balon dekorasi ini seperti acara pernikahan, ulang tahun, atau acara komunitas tertentu seperti acara peluncuruan produk terbaru, peresmian kantor baru, atau acara ulang tahun suatu perusahaan.

Biasanya dekorasi yang sering di lihat adalah dekorasi hiasan bunga, namun sekarang banyak yang menambah hiasan hiasan rangkaian aneka balon sebab akan lebih menarik dan rame apalagi jika di tambah dengan hiasan yang lain seperti penghias dinding, plafon ruangan dan sebagainya.

Peluang Usaha Bisnis Balon DekorasiTampilan hiasan balon dekorasi tidak kalah menarik dengan hiasan dekorasi bunga, harganya juga bisa lebih ringan dan konsumen bisa memesan balon dengan berbagai bentuk. Keunggulan lain yang ada pada balon dekorasi adalah balon dekorasi juga bisa di gunakan untuk promosi produk.

Balon promosi umumnya berbeda dengan balon dekorasi, balon promosi ukurannya lebih besar daripada balon dekorasi. Balon promosi juga biasanya tersedia dalam berbagai bentuk seperti bentuk kotak, bentuk oval atau bentuk bentuk sesuai pesanan yang lain.

Di kota-kota besar peluang usaha balon dekorasi ini sangat terbuka khususnya di kota-kota besar yang berada di luar pulau jawa. Tingginya daya beli masyarkat luar pulau jawa mendorong banyaknya didirikan  kantor-kantor baru. Ini tentu sangat menguntungkan bagi pengusaha balon dekorasi.

Faktor lain yang membuat usaha balon dekorasi memiliki prospek bisnis yang bagus adalah meningkatnya jumlah orang yang berduit di negeri ini, dan orang berduit biasanya sering mengadakan acara-acara tertentu yang membutuhkan jasa dekorasi termasuk juga balon dekorasi. Selain itu, budaya merayakan hari ulang tahun masih sangat kental di beberapa daerah di Indonesia.

Para pelaku usaha balon dekorasi biasanya juga menyediakan balon-balon mainan, sebab biasanya dalam suatu pesta yang di selenggarakan oleh perorangan, para tamu sering membawa keluarganya yang termasuk juga anak2 anaknya. Nah, balaon mainan anak-anak sangat pentingn peranannya dalam acara seperti ini. Semakin komplit perlengkapan balon dekorasi yang tersedia, maka semakin besar pula omzet yang akan di dapat.

Usaha balo dekorasi bisa di jalankan dengan skala besar atau skala kecil / usaha modal kecil. Usaha balon dekorasi skala besar biasanya modalnya bisa mencapai ratusan juta Rupiah, namun untuk usaha balon dekorasi skala kecil, Modal kurang dari Rp. 50.000.000 ( lima puluh juta ) pun sudah bisa di jalankan.

Peluang Usaha Bisnis Balon DekorasiUntuk memudahkan konsumen memilih jasa dekorasi, biasanya pemain bisnis ini mengemas jasanya dalam beberapa paket. Balon Indonesia, misalnya, menyiapkan paket sederhana yang terdiri dari dekorasi satu kreasi gapura balon, 10 kreasi bunga, serta 10 kreasi balon lampion. Kedua, paket standar bertarif Rp 1.950.000 dengan fasilitas dua dekorasi balon berdiri, balon satuan dengan luas hiasan delapan meter persegi (m²).

Terakhir, paket meriah dengan harga Rp 2,8 juta hingga Rp 5 juta. Di paket ini, patokan harga bergantung pada tingkat kerumitan dan banyaknya balon. “Namun, biasanya, paket meriah terdiri dari empat dekorasi balon berdiri (standing) satu gapura, satu balon karakter, 20 balon kreasi lampion dan kreasi bunga dengan luas hiasan hingga 20 m²,” jelas Dwi.

Tak jauh berbeda dengan Balon Indonesia, Fimas Balon juga mengemas jasanya dalam dua paket. Pertama, paket sederhana berharga Rp 1,5 juta dengan luas 2,5 x 2 m². Kedua, paket meriah yang harganya disesuaikan dengan permintaan. “Yang pasti luasan ruang yang dihias lebih dari 2,5 x 2 m²,” tambah Ari Setiawan, pemilik Fimas Balon. Dalam sebulan, Ari mampu menangani hingga sepuluh paket balon dekorasi.

Untuk Memulai, Jadilah Agen Balon Dekorasi Terlebih Dahulu

Dengan menjadi nagen terlebih dahulu, maka anda akan tahu dengan pasti berapa besarnya modal yang di perlukan untuk membeli perlengkapan perlengkapannya seperti membeli mesin jahit balon, alat stok gas, pompa angin dan lain-lain.

Untuk bisa menjadi agen tentu anda harus memiliki relasi dengan pemilik ketiga perlengkapan tersebut, sekaligus pemasok karet untuk bahan balon. Setelah mahir di bidang agen, selanjutnya anda bisa beranjak ke tahap berikutnya yaitu tahap promosi agar mendapatkan klien yang banyak. Promosi yang baik saat ini adalah promosi melalui internet misalnya dengan membuat website atau lewat jejaring sosial seperti facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya.

Pada saat mulai berdiri anda bisa menjalin kerja sama dengan pemain-pemain besar dengan  tujuan agar mendapatkan order. Saat mulai membuka usaha balon dekorasi ini, anda juga tidak perlu merekrut banyak karyawan, cukup merekrut karyawan yang sangat di butuhkan saja, selebihnya bisa anda kerjakan sendiri.

Bahan baku balon dekorasi ini adalah karet balon yang banyak dijual pemasok (supplier) karet atau lateks balon lokal. Carilah lateks balon dalam berbagai warna dan ukuran. Harganya berkisar Rp 500 hingga  Rp 1.000 per lembar. Pembentukan dan pencantuman tulisan di balon, biasanya kita lakukan sendiri, karena baru bisa diputuskan setelah bertemu klien.


BALTIMORE — In the afternoons, the streets of Locust Point are clean and nearly silent. In front of the rowhouses, potted plants rest next to steps of brick or concrete. There is a shopping center nearby with restaurants, and a grocery store filled with fresh foods.

And the National Guard and the police are largely absent. So, too, residents say, are worries about what happened a few miles away on April 27 when, in a space of hours, parts of this city became riot zones.

“They’re not our reality,” Ashley Fowler, 30, said on Monday at the restaurant where she works. “They’re not what we’re living right now. We live in, not to be racist, white America.”

As Baltimore considers its way forward after the violent unrest brought by the death of Freddie Gray, a 25-year-old black man who died of injuries he suffered while in police custody, residents in its predominantly white neighborhoods acknowledge that they are sometimes struggling to understand what beyond Mr. Gray’s death spurred the turmoil here. For many, the poverty and troubled schools of gritty West Baltimore are distant troubles, glimpsed only when they pass through the area on their way somewhere else.

Officers blocked traffic at Pennsylvania and West North Avenues after reports that a gun was discharged in the area. Credit Drew Angerer for The New York Times

And so neighborhoods of Baltimore are facing altogether different reckonings after Mr. Gray’s death. In mostly black communities like Sandtown-Winchester, where some of the most destructive rioting played out last week, residents are hoping businesses will reopen and that the police will change their strategies. But in mostly white areas like Canton and Locust Point, some residents wonder what role, if any, they should play in reimagining stretches of Baltimore where they do not live.

“Most of the people are kind of at a loss as to what they’re supposed to do,” said Dr. Richard Lamb, a dentist who has practiced in the same Locust Point office for nearly 39 years. “I listen to the news reports. I listen to the clergymen. I listen to the facts of the rampant unemployment and the lack of opportunities in the area. Listen, I pay my taxes. Exactly what can I do?”

And in Canton, where the restaurants have clever names like Nacho Mama’s and Holy Crepe Bakery and Café, Sara Bahr said solutions seemed out of reach for a proudly liberal city.

“I can only imagine how frustrated they must be,” said Ms. Bahr, 36, a nurse who was out with her 3-year-old daughter, Sally. “I just wish I knew how to solve poverty. I don’t know what to do to make it better.”

The day of unrest and the overwhelmingly peaceful demonstrations that followed led to hundreds of arrests, often for violations of the curfew imposed on the city for five consecutive nights while National Guard soldiers patrolled the streets. Although there were isolated instances of trouble in Canton, the neighborhood association said on its website, many parts of southeast Baltimore were physically untouched by the tumult.

Tensions in the city bubbled anew on Monday after reports that the police had wounded a black man in Northwest Baltimore. The authorities denied those reports and sent officers to talk with the crowds that gathered while other officers clutching shields blocked traffic at Pennsylvania and West North Avenues.

Lt. Col. Melvin Russell, a community police officer, said officers had stopped a man suspected of carrying a handgun and that “one of those rounds was spent.”

Colonel Russell said officers had not opened fire, “so we couldn’t have shot him.”

Lambi Vasilakopoulos, right, who runs a casual restaurant in Canton, said he was incensed by last week's looting and predicted tensions would worsen. Credit Drew Angerer for The New York Times

The colonel said the man had not been injured but was taken to a hospital as a precaution. Nearby, many people stood in disbelief, despite the efforts by the authorities to quash reports they described as “unfounded.”

Monday’s episode was a brief moment in a larger drama that has yielded anger and confusion. Although many people said they were familiar with accounts of the police harassing or intimidating residents, many in Canton and Locust Point said they had never experienced it themselves. When they watched the unrest, which many protesters said was fueled by feelings that they lived only on Baltimore’s margins, even those like Ms. Bahr who were pained by what they saw said they could scarcely comprehend the emotions associated with it.

But others, like Lambi Vasilakopoulos, who runs a casual restaurant in Canton, said they were incensed by what unfolded last week.

“What happened wasn’t called for. Protests are one thing; looting is another thing,” he said, adding, “We’re very frustrated because we’re the ones who are going to pay for this.”

There were pockets of optimism, though, that Baltimore would enter a period of reconciliation.

“I’m just hoping for peace,” Natalie Boies, 53, said in front of the Locust Point home where she has lived for 50 years. “Learn to love each other; be patient with each other; find justice; and care.”

A skeptical Mr. Vasilakopoulos predicted tensions would worsen.

“It cannot be fixed,” he said. “It’s going to get worse. Why? Because people don’t obey the laws. They don’t want to obey them.”

But there were few fears that the violence that plagued West Baltimore last week would play out on these relaxed streets. The authorities, Ms. Fowler said, would make sure of that.

“They kept us safe here,” she said. “I didn’t feel uncomfortable when I was in my house three blocks away from here. I knew I was going to be O.K. because I knew they weren’t going to let anyone come and loot our properties or our businesses or burn our cars.”

Baltimore Residents Away From Turmoil Consider Their Role

Artikel lainnya »