saco-indonesia.com, Stetoskop atau stethoscope adalah alat kedokteran yang paling sering dikaitkan dengan profesi seorang dokter bahkan sepertinya juga sudah merupakan simbol seorang dokter. Rasanya juga belum sah bila seorang dokter tidak memiliki alat ini. Tidak heran kalau seorang dokter spesialis radiologi ataupun dokter ahli laboratorium klinik yang jarang sekali harus perlu melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasiennya secara langsungpun telah memiliki setoskop. Stetoskop telah berasal dari kata Yunani stetos yang artinya dada dan skopein yang artinya memeriksa. Alat kedokteran ini juga merupakan media untuk dapat menyampaikan suara-suara di dalam tubuh seorang pasien kepada telinga dokter yang telah memeriksanya. Fungsi dari stetoskop ini adalah untuk dapat mendengarkan detak jantung, suara usus, dan lain sebagainya. Dengan kemampuannya ini, Stetoskop juga dapat digunakan pula untuk dapat mengetahui kerja paru-paru dan juga untuk dapat mengukur tekanan darah dengan mendengarkan denyut nadi. b. Endoscopy Endoscopy merupakan alat untuk dapat meneropong organ-organ dalam tubuh manusia tanpa sayatan atau dengan sayatan kulit minimal. Salah satu fungsinya adalah untuk dapat mengetahui kelainan yang telah terjadi pada alat-alat pencernaan bagian atas dan juga tenggorokan. Pemeriksaan / tindakan pengobatan didalam saluran pencernaan yang dengan menggunakan peralatan yang berupa teropong (Endoscop) Keunggulannya antara lain : Dapat melihat dengan jelas lokasi dan jenis kelainan dalam rongga saluran cerna Tindakan pengobatan dengan resikonya jauh lebih ringan daripada tindakan operasi. Dapat menggantikan fungsi tindakan operasi, lebih nyaman, biaya lebih murah dan efisien. Hasil pemeriksaan dapat langsung dicetak. c. Colonoscopy Colonoscopy adalah alat kedokteran yang fungsinya untuk dapat mengetahui kondisi saluran pencernaan bagian bawah. Bagian tersebut dimulai dari rectum, anus sampai dengan usus pada bagian bawah. d. Tensimeter Alat kedokteran ini telah dipergunakan untuk dapat mengukur tensi atau tekanan darah. Dipergunakan untuk proses pemeriksaan pasien hipertensi, anemia, dan lain sebagainya. Ada dua jenis tensimeter yaitu tensimeter air raksa dan tensimeter digital. Tensimeter air raksa di luar negeri saat ini juga sudah dilarang untuk digunakan lagi karena bahaya dari air raksanya jika tensimeter tersebut pecah. Tensimeter digital sendiri lebih canggih dan praktis dipergunakan, namun harganya memang lebih mahal jika dibandingkan dengan yang konvensional. e. Termometer Termometer adalah alat kedokteran yang telah dipergunakan untuk dapat mengukur suhu tubuh. Ada dua jenis termometer yaitu termometer raksa dan digital. Perbedaannya telah terletak pada alat pengukurnya. Termometer telah berasal dari bahasa Yunani yaitu Thermos yang berarti panas dan meter yang berarti mengukur. Jadi termometer adalah suatu alat yang digunakan untuk dapat mengukur tinggi rendahnya suhu suatu benda. Untuk termometer digital, jika suhu tubuh sudah di dapat maka alat tersebut akan dapat mengeluarkan bunyi dengan sendirinya sedangkan termometer raksa sendiri deteksinya memakan waktu yang lama, sehingga kurang efisien untuk dipergunakan. Ini salah satu alat yang wajib dimiliki dan tersimpan di kotak P3K Anda. f. CT-Scan CT- singkatan dari Computed Temography sedangkan Scan adalah foto. Sehingga fungsi dari alat ini tiada lain adalah untuk dapat menghasilkan foto bagian-bagian dalam dari tubuh dengan lebih lengkap dan akurat. Hal ini dikarenakan foto yang dihasilkan dari CT-Scan ini juga merupakan foto (gambar) bagian dalam tubuh berupa irisan. g. X-Ray Orang lebih mengenal alat kedokteran ini dengan sebutan Rontgen. Alat ini telah dipergunakan untuk dapat mengetahui bagian dalam khususnya paru-paru. X-ray menjalankan fungsi kerjanya dengan penggunaan sinar radiasi. h. Laparoscopy Alat kedokteran ini adalah alat yang berfungsi untuk pembersihan darah. Selain itu, laparoscopy juga dipergunakan untuk dapat melakukan inseminasi. i. Alat Cek Darah Alat cek darah biasanya telah memiliki tiga fungsi dalam satu alat. Selain untuk dapat mengecek kadar gula darah, juga dapat digunakan untuk dapat mengecek asam urat dan kolesterol dalam darah. Dipergunakan pada pemeriksaan penyakit kolesterol, asam urat, diabetes, dan lain sebagainya. j. Ultrasonography (USG) USG adalah suatu alat dalam dunia kedokteran yang telah memanfaatkan gelombang ultrasonik, yaitu gelombang suara yang telah memiliki frekuensi yang tinggi (250 kHz – 2000 kHz) yang kemudian hasilnya ditampilkan dalam layar monitor. Pada awalnya penemuan alat USG diawali dengan penemuan gelombang ultrasonik kemudian bertahun-tahun setelah itu, tepatnya sekira tahun 1920-an, prinsip kerja gelombang ultrasonik mulai diterapkan dalam bidang kedokteran. Penggunaan ultrasonik dalam bidang kedokteran ini pertama kali diaplikasikan untuk kepentingan terapi bukan untuk dapat mendiagnosis suatu penyakit. USG sering dipergunakan untuk dapat melihat perkembangan janin dalam tubuh ibu hamil, untuk dapat mengecek adanya penyakit lain dalam tubuh seperti kanker, miom, dan lain sebagainya. k. Elektrokardiografi (ECG) Elektrokardiografi adalah alat kedokteran yang fungsinya untuk dapat merekam aktivitas elektro atau kelistrikan yang telah terjadi di dalam jantung. Hasilnya juga dapat terlihat pada elektrodiagram. Biasanya telah dipergunakan pada penyakit-penyakit yang berkaitan dengan fungsi dari jantung. Elektrokardiogram (EKG) adalah grafik yang dibuat oleh sebuah elektrokardiograf, yang merekam aktivitas kelistrikan jantung dalam waktu tertentu. Namanya terdiri atas sejumlah bagian yang berbeda: elektro, karena berkaitan dengan elektronika, kardio, kata Yunani untuk jantung, gram, sebuah akar Yunani yang berarti "menulis". Analisis sejumlah gelombang dan vektor normal depolarisasi dan repolarisasi menghasilkan informasi diagnostik yang penting. Editor : Dian Sukmawati

ALAT ALAT KESEHATAN

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »