Umroh 26 Desember pesawat Landing Madinah

Saco-Indonesia.com - Kini Koneksi internet bukan hanya membuat perangkat elektronik rumahan semacam TV dan kulkas menjadi "pintar", tapi juga mengekspos alat-alat tersebut pada segala macam ancaman cyber.

Kelemahan itu ternyata sudah mulai dimanfaatkan oleh peretas. Laporan firma kemananan Proofpoint yang dikutip oleh TechCrunch menyebutkan bahwa lebih dari 100.000 perangkat yang memiliki sambungan internet (termasuk router, multimedia center, smart TV, dan kulkas) telah menjadi korban hacker antara akhir Desember 2013 hingga awal Januari 2013.

Perangkat-perangkat malang tersebut diserang oleh botnet yang membuat mereka menjadi "zombie" untuk melancarkan serangan spamming e-mail. Sasarannya adalah berbagai perusahaan dan invididu di seluruh dunia. E-mail spam dikirim secara bergelombang, tiga kali sehari, tiap-tiapnya mengirimkan 100.000 surat elektronik.

"Botnet sudah menjadi masalah keamanan besar, dan munculnya hal ini membuatnya bertambah gawat," ujar David Knight dari Proofpoint. "Banyak dari perangkat ini tak dilindungi dengan baik dan pengguna tak punya cara untuk mendeteksi atau memperbaiki infeksi yang terjadi."

Celah baru

TV, kulkas, dan peralatan lain-lain yang memiliki koneksi internet adalah bagian dari konsep "Internet of Everything" di mana semua perangkat elektronik di kehidupan manusia dengan jaringan global itu.

Di tengah semakin banyaknya produsen elektronik yang menelurkan perangkat-perangkat semacam ini, masalah baru muncul karena alat macam TV dan kulkas "pintar" memberi celah baru bagi hacker untuk menyusupi rumah seseorang atau melancarkan serangan cyber.

Sejumlah model smart TV, misalnya, dilengkapi dengan webcam yang bisa diambil alih oleh hacker. Perangkat-perangkat elektronik rumah tangga ini pun lebih rentan serangan dibanding PC atau gadget mobile karena produsennya relatif jarang menyalurkan update sekuriti.

Dukungan software terhadap alat-alat tersebut juga diragukan apabila telah berumur bertahun-tahun. Terlebih, alat seperti TV dan kulkas bukanlah perangkat yang sering diganti. Ini berbeda dengan platform PC dan gadget mobile yang "dijaga ketat" dalam hal keamanan oleh pemilik platform masing-masing.

 

Sumber: TechCrunch/kompa.com
Editor : Maulana Lee

TV dan Kulkas Pintar Mulai Jadi Bulan-bulanan Peretas
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »