Perjalanan Umroh Januari by Saudi Airlines

Sungai Musi telah mempunyai panjang 750 km dan juga merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, sungai Musi ini telah terkenal sebagai sarana transportasi utama masyarakat. Di tepi Sungai Musi juga terdapat Pelabuhan Boom Baru dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Sungai Musi telah membelah Kota Palembang menjadi 2 bagian. Seberang Ilir di bagian Utara dan seberang Ulu di bagian Selatan. Mata airnya bersumber dari Kepahiang, Bengkulu. Sungai ini juga merupakan muara sembilan anak sungai besar, yaitu Sungai Komering, Rawas, Batanghari, Leko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Sungai Ogan. Sungai Musi penting bagi masyarakat Palembang karena sebagai salah satu alternatif sarana transportasi. Hal ini telah dilihat dari banyaknya perahu motor yang mondar-mandir membawa penumpang yang ingin menyeberang.

Biasanya pengunjung telah berdatangan ke Objek Wisata Sungai Musi Palembang pada sore hari hingga malam hari untuk dapat menyaksikan matahari terbenam dan suasan malam yang diterangi lampu-lampu di sekitar sungai. Pada malam minggu atau malam liburan lainnya, biasanya jumlah pengunjung yang mengunjungi Jembatan Ampera dan sekitarnya akan lebih banyak.

Objek Wisata Sungai Musi Palembang telah menjadi tempat rekreasi untuk tua muda dan anak-anak, termasuk wisatawan dari luar kota Palembang. Dikawasan ini, Anda juga dapat menyaksikan rumah sakit, yaitu rumah tradisional khas Palembang. Pada hari-hari perayaan tertentu, misalnya Hari Peringatan Kemerdekaan Indonesia, diadakan festival air, seperti perlombaan perahu bidar, kontes menghias perahu, perlombaan berenang menyeberangi sungai, dan lain-lain.

Disekitar Objek Wisata Sungai Musi Palembang, terdapat banyak penginapan dengan tarif yang berfariasi antara Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu. Sedangkan untuk keperluan makan, Anda tidak perlu bingung karena ditempat ini juga terdapat banyak rumah makan, baik yang ada di pinggir sungai atau di rumah terapung. Rumah-rumah makan tersebut juga telah menawarkan menu andalan, seperti pindang ikan patin yang merupakan makanan khas Pelembang.

Selain itu, di sekitar Objek Wisata Sungai Musi Palembang juga terdapat penjual kerupuk, pempek Palembang, dan kerajinan-kerajinan tangan, seperti songket dan kain jumputan. Di kawasan Jembatan Ampera, Anda juga dapat menyewa perahu motor dengan antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu rupiah, tergantung kelihaian Anda dalam melakukan tawar menawar.

Demikianlah Objek Wisata Alam Indonesia tentang Wisata Sungai Musi Palembang pada kesempatan kali ini.

TEMPAT WISATA SUNGAI MUSI

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »