umroh maret

Jasa Cuci Sofa Terbaik di Jabodetabek

Kami juga merupakan Perusahaan Cleaning yang berdomisili di Bekasi, telah Menjadi Perusahaan Cleaner Terbaik di Indonesia merupakan tujuan utama dari pendirian Perusahaan kami ini. Untuk itu kami jugan akan selalu memberikan Layanan Terbaik untuk setiap Client yang bekerja sama dengan kami.

Untuk Saat ini kami baru membuka Layanan ini untuk daerah Jabodetabek, Sejak berdirinya perusahaan ini kami sudah melayani ratusan Client yang berasal dari Ibu Rumah Tangga, Perusahaan, Industri Rumahan dan Sebagainya. Dalam Pelayanan Jasa Cleaning yang diberikan Barzani Jaya ini kami memberikan Layanan Pencucian secara Door to Door atau Client juga bisa datang langsung ke kantor kami.

Memiliki Team Professional yang sudah berpengalaman dalam mencuci sofa, spring bed, karpet dll membuat kami mampu bertahan hingga saat ini. Dengan bekal kepercayaan Client akan layanan kami, maka kami juga akan terus meningkatkan service kepada setiap pelanggan yang menggunakan Jasa Cleaning kami ini.

Selain itu, kami juga dengan menggunakan Technology Termodern yang masih jarang digunakan Penyedia jasa Clening ataupun Jasa Cuci Sofa lainnya. Berbekal Alat berteknologi canggih setiap pelanggan yang menggunakan Jasa Cleaning Barzani Jaya ini selalu puas dengan hasil yang kami berikan.

Shampoo Seflon 72 dan Shampoo Carpet yang kami gunakan untuk membersihkan Kursi Kantor, Sofa, Spring Bed, Karpet dan Jok Mobil client tidak hanya membersihkan benda-benda tersebut dari Kotoran saja, namun Dengan Shampoo Organik tersebut kami juga membersihkan kuman-kuman dan Bakteri yang menempel pada soda dan Spring Bed Anda.

JASA CUCI SOFA
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »