umroh maret

saco-indonesia.com,

Perawatan Untuk Mesin Pengering

Mesin Pengering merupakan mesin pengering pakaian setelah proses pencucian dengan menggunakan mesin cuci. Mesin pengering ini biasanya telah tergabung dalam satu paket mesin cuci, dan banyak masyarakat yang lebih menyukai dan telah memilih mesin cuci yang telah dilengkapi dengan mesin pengering di dalamnya. Biasanya mesin pengering ini banyak di miliki oleh para pengusaha jasa laundry, karena akan dapat memudahkan dan mempercepat proses laundry yang sedang dilakukan. Apalagi cuaca yang tidak bisa di prediksikan, kadang siang panas terik namun sore hari hujan lebat dengan angin.  Sehingga akan susah untuk dapat mengeringkan pakaian dengan bantuan sinar matahari.  Oleh karena itu, harus diperlukan sebuah mesin cuci yang telah dilengkapi mesin pengering untuk dapat memudahkan proses pengeringan pakaian.

Perawatan Mesin Pengering
Mesin Pengering
Cara untuk membersihkan mesin pengering, pastilah akan sama halnya dengan membersihkan mesin cuci. Apalagi mesin pengering ini juga ada dalam satu paket bersama mesin cuci. Pasti, membersihkan nya akan juga sekaligus baik untuk mesin pengering dan juga mesin cuci nya. Berikut tips perawatan mesin pengering sekaligus mesin cuci, yaitu :

    Berusaha untuk mengatur mesin pengering dan mesin cuci dengan sistem penyetelan normal. Ini dilakukan untuk dapat menjaga perputaran mesin cuci dan juga mesin pengering, sehingga baik mesin cuci dan mesin pengering nya akan menjadi tahan lama.
    Usahakan tegangan mesin pengering dan mesin cuci cukup. Sebuah mesin pengering dan mesin cuci membutuhkan tegangan yang stabil  yaitu di bawah 240 volt.  Jika tegangan khusus mesin pengerring ini di atas, maka pematik api atau ignitor  tidak akan mampu berfungsi secara sempurna sehingga api tidak akan keluar dan mesin pengering tidak digunakan dengan maksimal. Untuk cek dan melihat tegangan mesin pengering, anda bisa menggunakan alat seperti stavolt.
    Sering cek elemen pemanas mesin pengering anda. Elemen pemanas pada mesin pengering ini seperti burner, pematik api, sensor termal panas.  Usahakan untuk selalu memeriksa dan membersihkan elemen tersebut dari kotoran, sehingga proses pengeringan akan dapat dilakukan dengan cepat. Pastikan selalu untuk melihat ignitor yang berwarna merah itu menyala  dan timbul percikan api ketika mesin pengering dihidupkan. Namun jika ignitor tersebut menyala dengan lampu indikatornya berwarna putih atau kekuningan, maka ada baiknya untuk segera ganti ignitor tersebut dengan yang baru.
    Pastikan pengaturan proses pengeringan sesuai dengan pakaian  yang akan dikeringkan. Untuk dapat mengatur proses pengeringan pakaian, anda alihkan tombol atau knop program  pada setelan normal heat atau panas sedang. Namun jika anda memilih tombola tau knop program no heat, maka tidak akan udara panas yang keluar. Semua hal tentang pengaturan pengeringan mulai dari memilih waktu, pilihan program, jenis kain dan juga temperature sangat memainkan peran yang sangat penting  dalam proses pengeringan pakaian di dalam mesin pengering

Editor : Dian Sukmawati

PERAWATAN MESIAN PENGERING
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »