umroh

Saco-Indonesia.com - Memiliki tubuh ideal penting untuk meningkatkan kepercayaan diri seseorang dalam pergaulan. Namun apa jadinya jika impian untuk mendapatkan tubuh ideal terhalang oleh timbunan lemak membandel di tubuh?

Maka tidak ada jalan lain selain menurunkan kadar lemak tersebut. Nah, jika Anda belum menemukan cara efektif untuk mengatasi lemak membandel di tubuh Anda, sebaiknya simak tip berikut ini.

Bulatkan Tekad
Ini adalah modal awal yang tidak boleh dilewatkan. Keberhasilan Anda berawal dari seberapa besar tekad Anda untuk meraih tubuh ideal. Jika Anda hanya coba-coba tetapi mengharapkan hasil cepat dan maksimal, sebaiknya Anda berpikir ulang.

Membakar lemak dengan cara sehat adalah sebuah proses yang menuntun Anda pada gaya hidup sehat. So, sama sekali tidak ada ruginya jika Anda fokuskan pikiran Anda untuk melakukan sesuatu yang bisa memperbaiki kualitas hidup Anda.

Bersenang-senang dengan latihan
Latihan itu akan menyengsarakan jika Anda menganggapnya seperti itu. Padahal latihan itu diciptakan untuk menyenangkan tubuh Anda. Tubuh kita didesain untuk melakukan lebih banyak aktivitas fisik, bukan bermalas-malasan di sofa sambil menonton TV.

Lihatlah kesudahan orang-orang yang jarang melakukan aktivitas fisik. Berbagai penyakit seperti diabetes, serangan jantung, stroke, hingga kematian mendadak, kerap dialami orang-orang yang tidak aktif secara fisik. Nah, kalau sudah begitu, Anda tidak akan berharap untuk menjadi salah satu dari mereka. So, have fun with exercises!

Coba latihan Ini
Ada berbagai latihan yang efektif untuk meningkatkan pembakaran lemak, di antaranya:

-   Aerobik
    Latihan aerobik biasanya dilakukan dengan musik dalam sebuah kelompok. Biasanya, ada instruktur yang memimpin gerakan dan isyarat dari perubahan gerakan aerobik. Bahkan beberapa latihan aerobik mulai mengadopsi gerakan dance untuk memunculkan ‘fun factor’ saat latihan.

-   Latihan Interval
    Sebuah studi menemukan bahwa setelah 2 minggu latihan interval, lemak tubuh dapat terbakar 36% lebih banyak. Latihan interval bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Contohnya, lakukan sprint selama 10 detik kemudian lari kecil 15 detik, kemudian sprint lagi begitu seterusnya selama 10-15 menit.

-   Cross Training
    Prinsip cross training adalah menggabungkan beberapa latihan untuk melatih berbagai bagian tubuh. Misalnya melakukan latihan dengan stationary bike sebelum melakukan jogging di pagi hari. Atau lari di treadmill sebelum berenang.

-   Latihan Beban
    Lakukan latihan beban terutama untuk melatih otot-otot seperti bahu, punggung, serta kaki agar tubuh membakar lebih banyak kalori setiap saat. Semakin banyak massa otot yang Anda miliki, semakin banyak lemak yang akan tersingkir dari tubuh Anda.

Perbanyak lauknya, bukan nasinya
Masyarakat Indonesia masih terbiasa mengonsumsi banyak nasi putih dengan sedikit lauk. Nah, agar hasil latihan Anda maksimal dan lemak bisa berkurang lebih cepat, maka pola makan di atas harus terbalik, yaitu sedikit nasi putih dan perbanyak lauknya.

Anda harus memilih lauk yang tinggi protein seperti, putih telur, dada ayam, kedelai dan olahannya (tahu, tempe, susu kedelai, dan lainnya), ikan, dan masih banyak lagi pilihan makanan berprotein tinggi dengan harga terjangkau.

Bakar lemak dengan tidur
Latihan sudah. Menjaga pola makan juga sudah. Nah, sekarang ada satu aktivitas menyenangkan lain yang dapat membantu Anda membakar lemak lebih cepat, yaitu tidur. Semua orang pasti suka tidur, termasuk Anda.

Tidur 7-8 jam sehari dapat meningkatkan kemampuan tubuh dalam meningkatkan massa otot dan membakar lemak. Jadi, tidur cukup bisa menjadi opsi terbaik untuk membakar lebih banyak lemak demi mendapatkan tubuh ideal seperti yang Anda impikan.

It’s easy to burn fat.

 

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »